Kamis, 31 Desember 2015

Di Sana Kumenemukanmu

[Di Sana, Kumenemukaaanmuuu]

Oleh: Wahyu, Kenti, Happy, Faishal, Nica, Ayu, Hafidh, Ari (iya gak, sih?), dan Mitsa (udah, ya?)


Tak seperti biasanya aku bangun sebelum jam weker berbunyi. Bukan karena apa, tapi dingin ini membuatku tak tahan. Ini memang musim penghujan, tapi tak pernah kurasakan cuaca sedingin ini. Sembari berbalut tiga selimut, aku berjalan menuju jendela dan menyibak tirainya. Demi Allah! Aku hampir saja tak percaya dengan yang kulihat.

"Sa... salju?"

Butir-butir itu jatuh perlahan menuju tanah. Basah. Kusentuh kaca jendela, dingin. Dengan sekeranjang rasa yang membuncah bak laci penuh kertas-kertas, kularikan sepasang kaki panjang ini ke luar rumah. Aku menjejak! Pada apa? Tanah yang putih! Hei, ini benar, salju! Allahku, bagaimana mungkin? Kurasakan hawa dingin yang sebenarnya menusuk kulit, aku bahkan tanpa alas tanpa jaket. Kutarik napas dalam-dalam, kupejamkan mata.

Wuuss! Angin pagi membawaku pada pusaran waktu. Kini ku tak lagi di depan rumah dengan hiasan pohon rambutan. Hei! Aku bisa melihat mereka! Daun momiji di salju pertama, ku?

"AAAAAAAKKKSSS," tanpa sadar aku berteriak tanpa kendali.

Ini di mana? Aku mendadak tak paham dengan keadaan ini. Kolam depan rumah tiba-tiba menghilang. Berganti dengan tumpukan salju yang mengental.

Mataku tertuju pada satu titik yang makin membuatku kaget.

"Afif?"

Sosok itu berdiri disitu.  Mengenakan jaket tebal dan tutup telinga dari wol. Tanganny terbuka lebar. Tangan kanannya menggenggam erat bunga yg tak mungkin aku lupakan. Daisy.
Bukan,  bukan daisy berwarna putih biasa. atau daisy merah muda yg setiap pagi aku siram dan tumbuh lebat d taman. Tapi daisy hitam. Ya, bunga itu langka aku tahu. Bunga yg aku tidak mengira dia akan mendapatkan. Syarat aku memaafkan perbuatannya 5 tahun lalu.

Bayangannya bergerak perlahan mendekatiku. Seulas senyum mengembang penuh arti. "Hai!" Sapanya kikuk. Aku termangu menatap sosoknya. Kebingungan masih menyergapku.

Afif mengulurkan seikat Daisy hitam. Senyum Afif tiba-tiba menghilang, sosoknya menghilang, berubah menjadi butiran cahaya keemasan yang lepas ke langit malam.

Aku termangu. Cahaya itu menyergapku hingga menganggat dagu. Afif......Daisy Hitamnya belum kuambil! Huh! Aku menghentakkan kaki pada tanah salju. Jleb. Kakiku menancap. Isshhh. Dinginnya menyebalkan.

"Hidungku....indaaah. Jingganya seperti titik senja. Oh kau....siapa?" sebongkah....oh tidak, dua bongkah bola salju yang membentuk........kepribadian! Hidungnya menyembul sedikit. Seperti pernah lihat!

"Kebingungan? Oh aku Olaf! Dan aku suka pelukan hangat!" katanya lagi sambil lalu berlari dan memelukku dengan kedua tangan rantingnya.

Aku masih bengong.

"Tampaknya kamu belum pernah nonton Film Frozen ya?" ujarnya lagi. Suara Josh Gad yang khas merebak dari mulut kecilnya.

Aku nyengir. Menyadari sepertinya aku harus segera kembali ke kamar. Siapa tahu kulihat tubuhku masih melintang dengan mulut menganga dan dengkuran merdu. Siapa tahu....aku hanya sedang menjelajan dunia....astral.

APAAAA? ASTRAL????

Tapi, ternyata tidak. Aku benar-benar melihatnya, nyata, dan memang bukan halusinasi. Membingungkan, bagaimana bisa? Batinku merutuk dalam hati. Bagaimana bisa Afif berubah menjadi Olaf? Aku hampir gila memikirkan ini. Ya Allah, Afif tiba-tiba hilang dan Olaf tiba-tiba muncul.

Aku kembali mencoba merapatkan kedua kelopak mataku. Merapal doa sebelum tidur juga membaca ayat-ayat suci Al-Quran agar mampu membuatku terlelap. Tapi ternyata aku tetap tak mampu mengatupkan kedua kelopak mataku. Bayangan Afif dan Olaf masih terlintas di dalam otakku. Ya Allah, bagaimana mungkin?

Ah entahlah,,,

Belum usai kebingunganku, tiba-tiba muncul beberapa bayangan dari kejauhan. Semakin mendekat dan akhirnya mereka berdiri di hadapanku.

Aku takjub. Mereka adalah sekumpulan perempuan cantik dengan pakaian yang amat indah.

"Siapa kalian?" Tanyaku bingung.

"Aku Snow White." Ujar gadis paling kanan. "Dan mereka adalah teman-temanku. Cinderella, Aurora, Belle, Jasmin, dan Rapunzel. Kami semua adalah para putri dari negeri dongeng."

"Negeri dongeng?" Tanyaku penuh kebingungan.

"Benar. Kami semua datang kemari untuk menjemputmu. Untuk membantu kami melawan Ratu Nica yang zalim." Balas Putri Jasmin.

"Membantu kalian?" Tanyaku. "Tapi aku tak bisa."

"Tentu bisa." Jawab mereka serempak. Mereka menekuk lutut kepadaku tanda penghormatan. "Sudilah kiranya engkau membantu kami, Ratu Elsa."

Aku bingung, aku tidak tau apa-apa. Semuanya mendadak datang bersamaan. Turunnya salju ?, Afif ? Olaf ?sekumpulan perempuan cantik dari negri dongeng?? Dan... dan yang paling membuatku kaget aku dibutuhkan untuk melawan ratu nica?
Aarghh!!!

LELUCON MACAM APAAA INIII!!!!!!!

aku menutup mata, kemudian kubuka lagi perlahan berharap semuanya tak nyata dan kembali normal.

Namun tak ada yg berubah.... aku masih merasakan dinginnya salju.

"Bersediakah kamu membantu kami...?"

Aku masih tercengang. Apa maksud nya ini semua?

"Ada apa? Mengapa kalian meminta pertolongan ku?"

"Ratu. Selama ini Ratu Nica selalu membuat kami mengingat masa lalu. Saya paham Ratu, sebenarnya Ratu Nica adalah korban dari masa lalu dia sendiri, " ujar Putri Jasmine

Muka Putri Jasmine makin membuat aku terenyuh.

Belum lama kami bicara, tiba-tiba muncul tornado teramat kuat. Dari dalam pusarannya, keluar sesosok wanita dengan gaun hitam megah.

"Ratu Nica!!" Teriak para putri bersamaan.

"Benar. Aku akan menghilangkan sekat antara dunia manusia dan dongeng, sehingga aku bisa menguasai semuanya." Ujar Ratu Nica tertawa terbahak-bahak.

"Tidak akan kami biarkan!" Teriak para putri serempak.

Aurora melemparkan ratusan jarum tenun yang dapat membuat target tertidur. Tapi dengan angin beliungnya, jarum tersebut tak ada yang mengenai Ratu Nica. Bahkan salah satu di antaranya mengenai Aurora, menjadikan dia jatuh tertidur.

Snow White melempar apel beracun ke arah Ratu Nica, tapi sang ratu sigap menghindar. Apel itu mengenai tanah dan dalam radius sepuluh meter, tanah menjadi beracun. Snow White kembali melempar apel kedua. Tapi dengan tangan kosong yang telah terlindung mantra, Ratu Nica menangkap dan melempar kembali apel tersebut dan mengenai Snow White. Snow White pingsan seketika.

Dengan menjinjing gaunnya, Cinderellapun maju. Dengan gaya ala taekwondo, dia mengangkat kakinya guna memukul Ratu Nica. Ratu Nica menangkis, tetapi tiba-tiba sepatu kaca Cinderella bersinar terang, membuat Ratu Nica terdorong agak jauh.

Cinderella melompat, hendak menginjak Ratu Nica dengan sepatu kacanya. Tapi dengan sigap, Ratu Nica menghindar. Tetapi sebelum menghindar, dia memantrai tanah dengan sihir hitam. Saat sepatu kaca Cinderella menyentuh tanah, seketika cahayanya lenyap.

"Tidaak!" Jerit Cinderella.

"Yaaa!" Seru Ratu Nica. Dengan satu kibasan tangan, Cinderella terhempas.

"Kalian tak akan bisa melawanku!" Seru Ratu Nica lantang.

"Jangan sombong dulu!" Balas Rapunzel.

Rapunzel, Belle, dan Jasmine berniat menyerang bersama. Rapunzel menyisir rambutnya dengan tangan, dan mendadak rambutnya memanjang dan memancarkan kilau api. Belle yang semula anggun tiba-tiba berubah menjadi raksasa. Jasmine mengeluarkan lentera dan mengusapnya, membuat Jin keluar dari dalam.

"Majulah kalian semua!" Seru Ratu Nica menantang.

Rambut api Rapunzel serta merta menebas Ratu Nica bersamaan dengan langkah tegap Belle dan lontaran bola api oleh Jin. Itu semua bisa dihindari oleh Ratu Nica.

Ratu Nica bersiap mengeluarkan jurus Rotan Bintang. Tiba-tiba bintang jatuh. Ratu Nica kembali terpana melihat Daisy. Bunga Daisy yang baru saja diterima Elsa dari Afif.

"Bunga itu. Kenapa ada di sini? Bagaimana bisa?" Suara Ratu Nica berubah menjadi lembut.

"Bunga teeerakhiir... kupersembahkan hanyaa.. untuk diirimu... sebagai tanda..."

Ratu Nica mendongak ke langit, melihat Afgan turun dengan awan Kinton yang dibarengi bintang jatuh tadi, sembari memegang mikrofon.

Para Princess pun bangkit. Mereka berbaris dan melakukan gerakan tangan cuci-jemur baju. Tidak sinkron memang dengan lagu yang dibawakan Afgan, tapi ya bodo amatlah. Tak ada koreografi yang lebih aduhai di masa itu, ceritanya.

Ratu Nica terenyuh lagi tersipu. Elsa yang disebut Ratu, pun sama perasaannya. Ia mulai menapak tilas, mengingat masa mudanya.

Dulu.. di sebuah dusun yang permai, hiduplah seorand janda yang tekun di pinggir hutan Amazon. Sehari-harinya ia habiskan dengan menenun, tiba-tiba suatu hari, benang untuk menenunnya terjatuh dan menggelinding ke luar rumah panggungnya. Ia bingung, itu benang emasnya.

"O, Bundo, bagaimanalah ini... itu benang emas kesayanganmu, untuk aku menenun kain indahmu..."

Ia mulai bersedih, terisak.

"Baiklah, barangsiapa menemukan benang itu, aku berjanji, apabila perempuan, akan kujadikan anak, dan apabila lelaki, pun akan kujadikan anak pula..."

Dan sampailah sayembara dalam hening itu pada hati Elsa kecil, ia yang tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, ia yang kehilangan orang-tua angkatnya di hutan, yaitu sepasang orang utan, mulai leewati guunung, turuni lembaah..

Dan menemukan benang emas itu...

"Alhamdulillah." gumam Elsa sembari bersujud mencium tanah.

Akhirnya benang emas ini ketemu. "Terima kasih." ucap Elsa dengan mata berbinar-binar pada lelaki di depannya. "Siapakah namamu wahai lelaki yang telah menemukan harta berhargaku?"

"Aku,,,, Kenalkan aku Spiderman. Aku tak sengaja menemukan ini ketika aku sedang bergelantungan mencari arah jalan pulang." ucap Spiderman sembari menjabat tangan Elsa.

Lantas, Elsa pun mengajak Spiderman untuk bertandang ke rumahnya. Dan dengan kemampuan Spiderman mereka berdua bergelantungan melewati pohon-pohon yang tinggi menjulang. Menembus setiap embusan angin yang terasa ketika mereka bergelantungan.

"Indahnya." ucap Elsa tertegun menatap pemandangan hutan dengan penuh binar di kedua bola matanya.

"Der..."

"Iya, Sa?"

"Tahu ngga? Aku.. aku tuh bahagiaaaaa... banget!"

"Wah, bagus dong! Kamu tahu ngga, siapa yang bisa mengalahkan wanita yang cantik?" Tanya Derman, nama beken dari Spiderman.

"Emm.. wanita yang baik?"

"Bisa, sih.. Tapi, ada ide lain?"

"Wanita yang kaya?"

Kali ini Derman tertawa.

"Elsa... wanita yang bisa mengalahkan wanita cantik adalah..."

Derman tersenyum.

"Wanita yang ba-ha-gia! Mungkin, kamu orangnya!"

Kini aku yang tersenyum.

"Eh, tapi tunggu, kamu kan selain bahagia, ternyata cantik juga! Wah, masak kamu mengalahkan diri sendiri, sih?"

"Gombal!"

Kami pun tertawa bersama. Tak terasa lembayung mulai menghias langit. Itu artinya Spiderman sudah waktunya untuk berpulang.

"Elsa, maaf.. tapi..."

"Kenapa, Der? Oh..."

"Haruskaah kitaa berakhir... cukup sampai di sinii..." 🎶🎶 Derman mulai bernyanyi, galau.

"Maaf, Sa, sudah waktunya aku pulang ke khayangan. Kamu aku turunin di sini, ya. Baik-baik di rumah. Salam buat Emakmu.." Derman mulai menuruniku dari awan Kintonnya. Dan segera melesat pergi untuk kemudian berubah menjadi bintang di langit sore.

"Selepas, kau pergii... tinggalah aku sendiri di sinii.. kumerasaakan sesuatuu.. nananana nananana nananaa... bantu aakuuu membencimuu.. kuterlaaluu mencintaiiimuu.. dirimu beegituuu.. berharga untukkuuu..." kini aku yang tertunduk lemah.

(Eh, tapi tunggu deh, kok Elsa masih anak-anak udah cinta-cintaan aja, sih? Oke, latarnya kita ganti ke tempat di mana Princess saling bertarung melawan kezhaliman Ratu Nica.)

...

"AAAAARRGGHH! AKU TAK KAN TERTIPU! OMONG KOSONG DENGAN DAISY HITAM! MAJU KALIAN!" Begitulah tiba-tiba Ratu Nica mengamuk.

Tapi...

"Emm.. maaf, kamu.. kamu Ratu Nica?" Tanyaku.

"Udah tahu pake nanya! Gak liat nametag gue, lo?!" Ratu Nica masih ngamuk.

"Waah.. bener, kan! Lu Nica yang anak karate itu, kan? 86! 86! SMU 86! Inget, gak? Dulu kita sekamar bareng!" Mata Elsa berbinar mengingat teman sekamarnya saat tanding dulu.

"Eh? Emm.. ELSA! Ya ampuun.. Lu Elsa yang itu? Yang, yang, dulu sempat diare pas mau tanding tapi gue kasih Diap*et terus sembuh? Eh gila, yang bener?!"

"Hahahaa.. inget aje, lo! Iya gue! Tapi jangan bawa-bawa diarenya doong! Huh! Lu juga inget, kan... siapa yang jadi ratu lapangan?" 😌

"Iya deh, gue inget! Pantesan nih bocah-bocah minta bantuin lu buat ngalahin gua, wkwk, dasar!"

"Wah, iya juga! Pantesan... hahahaa.. lagian, lu kenapa sih? Udah ah, damai aja!"

"Emm.. gimana, ya? Gue cuma belum bisa move on aja, Sa..." Ratu Nica menunduk.

"Aah.. mending makan sneak*er dulu, nih! Lu suka baper kalau laper! Hahaha"

"Sialan! Hahahaa... yaudah deh, ke istana gue aja, yuk! Nyokap-bokap lagi pada hiking, nih! Gua mager ikut."

"Si Princess di ajak, gak?"

"Emm.. oke deh, yuk, mari, Sist! Kita perang bantal!"

"Asyiiik!" Ujar para Princess.

Mereka pun akhirnya berdamai. Memilih berteman saja. Ratu Nica telah melupakan misi pembantaiannya. Mereka sadar, bahwa, cuma orang jelek yang menjelek-jelekkan orang lain (Tere Liye).

Kini, mereka hidup bahagia, selamanya...

TAMAT.

---

Kriing... kriiing...

"Saaa... Elsaa.. angkat jemuran Emak! Eh, kok jemuran.. telepon maksudnya, hehe" suara Emak membangunkan.

Duuh..

"Emangnya jemuran apa diangkat angkaat..."

"Yaudah kalo gitu, matiin!"

"Ngga mau ah, Mak! Takut dosa..."

"ELSAAAAAA!"

---

Namaku, Elsa. Kakaknya Anna. Dia suka sekali film frozen. Katanya, ada kami di sana. Dan, Emak? Ah, sudahlah! Emak sedang pusing denga guntingnya yang rusak.

Namaku, Elsa. Dan barusan aku bermimpi. Hoaam..

Baru deh, TAMAT. Yeah!

PS. Kalo garing, ya, maap, namanya juga usaha. Mau yang lebih garing? Japri ya; )
#MalamCanberra #owoptigo #iwiptigi #owoptiga #fiksiabsurd

Rabu, 23 Desember 2015

Sepasang Yang Tak Tertukar

Sedalam inikah rasanya? Rasa yang bertahun-tahun tersimpan. Bahkan, kukunci rapat pintunya. Agar tak sembarang orang masuk begitu saja tanpa mengetuknya. Juga agar terjaga hingga nanti tiba waktunya.

Tapi, hanya dalam hitungan waktu. Pintu itu terbuka (lagi). Ada yang masuk begitu saja. Tanpa salam, juga sapa. Meluluhlantakkan yang telah ditata dengan rapi, hingga menjadi berserakkan lagi.

Mungkin memang ini salahku, membiarkannya masuk tanpa permisi. Lantas, tiba-tiba saja pergi tanpa pamit. Memorak-porandakan segalanya, hingga tak berbentuk. Mematahkan sepotong hati yang telah rapuh. Hingga rasanya aku tak tahu (lagi) rapuh, patah, juga remuk itu seperti apa.

Mungkin memang benar, ketika kita belum siap untuk perkara cinta dan perasaan. Ada baiknya kita kunci rapat-rapat ruang hati ini. Lantas, kita buang kuncinya ke dasar laut. Hingga suatu saat nanti ada yang menemukannya tanpa perlu mencarinya. Seperti gembok yang bertemu dengan kuncinya. Sepasang yang tak akan tertukar ketika Dia telah menentukannya.

Jakarta
(Kamis, 24 Desember 2015 || 00:46 WIB)
Wayan Ayu W.

Senin, 21 Desember 2015

Maaf, Bu!

Maaf, Bu!
Tak ada kado untukmu
Tak ada pula kartu ucapan dariku
Hanya di hari ibu

Karena aku sadar penuh
Bahwa setiap hari adalah hari ibu

Juga aku meyakini
Cinta tak mengenal hari
Sayang tak mengenal tepi
Karena bakti tak memandang hari

Jakarta, 22 Desember 2015

Anakmu
Wayan Ayu Widiaratna

Minggu, 20 Desember 2015

Tentang Keikhlasan

Tolong, jangan berikan harapan
Jika nyatanya kamu tak sanggup mempertahankan

Jangan ucapkan untaian janji
Jika nyatanya hanya luka yang kau beri

Jangan pula kau bilang sayang
Jika ternyata yang ada hanya merayang

Aku lelah menanti
Menanti untaian janji yang tak kunjung kau tepati

Aku lelah menunggu
Menunggu kepastian semu darimu

Sudahi saja
Segala ketidakpastian yang tercipta

Kubiarkan segala rasa
Melebur bersama derasnya hujan yang tercipta

Hingga akhirnya
Tak perlu lagi berharap
Dan meminta

Jakarta, 21 Desember 2015
Wayan Ayu. W

Kamis, 17 Desember 2015

Patah

Hambar? Sepertinya memang itu yang kurasa. Entah mengapa tiba-tiba rasa yang ada kini berubah menjadi hambar. Hampir tak ada lagi harapan yang kutanam untuknya. Mungkin karena aku mulai lelah, juga jengah. Aku lelah ternyata dia bahkan tak melihat diriku ada. Tapi, aku ingin sedikit saja dianggap ada. Meski nyatanya dirinya tak pernah melihat aku ada. Aku patah. Patah, berkeping-keping. Hancur lebur tak lagi berbentuk. Lagi-lagi aku tak mampu menangis dan tak akan menangis hanya karena perasaan. Baiklah, perlahan kuletakkan rasaku untuk dirinya. Akan kusimpan rapi dalam kotak pandora. Agar rasa ini terjaga aman. Dan tak seorangpun tahu, kecuali Dia Sang Pemilik Hati. Toh, jika memang dia yang ditakdirkan untuk bersamaku kita akan saling bertemu tanpa sibuk merusak semua skenario dari-Nya.

Jakarta, 17 Desember 2015
Wayan Ayu. W

Sabtu, 05 Desember 2015

Padamu Kenangan

Padamu, kenangan. Sepertinya aku harus meletakkanmu dalam kotak pandora. Mengunci rapat-rapat kamu di dalam sana. Lantas, membuang kuncinya hingga dasar lautan. Agar aku tak lagi mengingatmu.

Bukan. Bukan aku tak lagi mempedulikanmu. Tapi rasanya aku tak bisa lagi hidup denganmu. Aku tak bisa lagi berkutat dalam kubangan ceritamu. Dan aku, tak bisa lagi menjadi pemeran utama dalam setiap elegi rasamu.

Padamu, kenangan. Terima kasih atas segala yang kamu berikan kepadaku. Tentang bagaimana caranya memaknai cinta dan caranya mencintai. Karena tanpamu, aku mungkin akan selalu rapuh. Karena tanpamu, mungkin banyak hal yang luput dari pemahamanku. Sekali lagi, terima kasih.

Jakarta
(Sabtu, 05 Desember 2015 || 22:50)
Wayan Ayu. W

Selasa, 01 Desember 2015

Untuk Siapa?

Malam ini bersama gerimis di luar jendela. Aku merenungi inginku, tujuanku. Iya, untuk apa aku berjalan? Untuk siapa? Apa yang aku cari?

Lantas, apa pula yang telah aku lakukan selama ini? Kemana saja langkahku mengarah? Juga hatiku, rasaku. Entah sudah sejauh mana ia berjalan, menuju tujuan yang nyatanya belum menjadi pasti.

Ah, sepertinya bukan belum pasti. Hanya saja masih ada ragu dalam hati. Tapi, bukankah tujuanku satu? Mencari jalan menuju-Nya. Mengharap cinta juga ridho-Nya. Meski akan ada banyak persimpangan di depan sana. Meski, akan ada badai yang berkali-kali menghantam. Juga akan ada hati yang di uji.

Iya, ujian terhadap hati memang seringkali seperti pusaran tanpa tepi. Seperti rumah tanpa pintu dan jendela. Namun, bagaimanapun kita tidak boleh rapuh apalagi sampai lupa caranya berdiri. Bersama-Nya semua yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Tanpa terkecuali.

Semarang & Bandung
(Selasa, 01 Desember 2015 || 23:05)
Magenta Senja

Senin, 30 November 2015

Cerita Siang Ini

Selamat siang, Kawan. Sepertinya kali ini sang surya menunjukkan kuasanya lagi, ya. Ku harap sore nanti senja juga muncul menampakkan dirinya. Menunjukkan bahwa ia dalam keadaan baik. Seperti yang ku harapkan. Kawan, terima kasih, kamu selalu bersedia berada disini, di sisiku. Meminjamkan bahumu untuk menopang sedihku yang bahkan mampu membuatku psikosomatis. Oh iya, kamu sudah siapkan hatimu bukan? Untuk apa? Untuk mendengar ceritaku (lagi), Kawan. Biar ku siapkan secangkir kopi untukku, juga cokelat untukmu. Mengapa cokelat? Baiklah, biar ku jelaskan. Ku seduhkan cokelat untukmu, agar kamu tak ikut serta menikmati rasa pahit ini, Kawan. Agar kamu tak ikut limbung merasakan peliknya hidup.

Terkadang, hidup memang keras ya, Kawan. Bagaimana tidak? Diluar sana banyak persaingan yang sering terjadi. Bahkan tak jarang hingga menyakiti satu sama lain. Ah, ku harap kamu tak mengalaminya, Kawan. Akhir-akhir ini banyak hal yang mengejutkanku. Ada yang datang tiba-tiba meminta solusi untuk masalah rumah tangganya. Yang bahkan aku tak mengerti harus memberi solusi seperti apa. Meski aku tahu betapa sulit berada di posisinya. Dan bahkan aku pernah mengalaminya sebagai korban atas rapuhnya sebuah pondasi rumah tangga. Adapula yang tiba-tiba datang meminta solusi atas percintaannya. Sedang, kamu tahu sendiri, Kawan. Masalah percintaanku saja aku tak mampu mengatasinya. Hahaha

Rasanya Dia selalu menghadirkan banyak kejutan dalam setiap perjalananku hingga di titik ini. Yah, setidaknya dengan hal-hal itu membuatku makin kuat juga makin siap menghadapi keadaan yang nantinya bisa saja ku alami. Bukankah begitu, Kawan? Terkadang aku menganggap hidup ini lucu. Bagaimana tidak? Kadang hal yang justru tak kita harapkan malah datang menghampiri kita. Merusak mimpi yang pernah kita rangkai. Juga mematahkan harapan yang pernah ada. Tapi, akan selalu ada hikmah didalamnya. Bukankah selalu butuh hujan untuk menghadirkan pelangi. Begitukan, Kawan?

Baiklah, sepertinya kita sudah terlalu lama duduk dan berbincang. Kamu boleh pulang sekarang. Dan kembali (lagi) esok jika kamu mau. Dan hatimu siap (pastinya). Terima kasih, kamu selalu sudi untuk menjadi pendengar yang baik, Kawan.

Semarang
(Selasa, 01 Desember 2015 || 13:00)
Gradasi Rasa

Minggu, 29 November 2015

Dan Aku Akan Tetap Menunggu

Dan aku akan tetap menunggu, meski pada kenyataannya kamu tak datang untuk menjemputku. Setidaknya, aku telah berusaha untuk menjadi tempat istirahatmu. Menyiapkan pundak ternyaman ketika kamu mulai lelah. Menciptakan rumah ternyaman ketika kamu ingin pulang.

Dan aku akan tetap menunggu, meski nyatanya kamu tak datang untuk sekedar mengetuk pintu rumah. Setidaknya, aku telah berusaha menjadi tempat singgahmu. Menyiapkan dua cangkir kopi untuk kita sesap bersama. Juga mendoakanmu di kala sunyi datang membungkus malam.

Dan aku akan tetap menunggu, meski nyatanya bukan kamu yang datang menjemputku. Setidaknya, aku telah belajar tentang arti menunggu. Dan, terima kasih telah mengisi ruang kosong di sini, di hatiku. Semoga kamu bahagia, dengan cinta yang kamu pilih.

Semarang, 30.11.15
Wayan Ayu. W

Jumat, 27 November 2015

Adalah Rasa

Ada lelah
yang mendesah
Ada resah
yang membuncah
Ada getar
yang terkapar

Ada cinta
yang meluka
Ada rindu
yang menderu
Ada sayang
yang merayang

Ada rasa yang tertahan
Rasa yang menghujam
Membuat heran
Membuat muram
Namun tertawa dalam diam
Ditelan doa di sepertiga

Semarang, di antara rasa yang merumitkan.

-Wayan Ayu. W-

Cerita Tentang Rasa

Assalamu'alaikum, Yah. Apa kabar? Ku harap ayah tetap sehat dan selalu sehat tepatnya. Ayah, meski pada kenyataannya kita terpisah jarak, ruang dan waktu. Aku ingin tetap bercerita padamu. Ini tentang rasaku, yang bahkan aku tak tahu dia mengetahuinya atau tidak. Yang jelas segalanya tetap kuserahkan pada Dia, Sang Pemilik Hati.

Ayah, kau tahu, putrimu sedang jatuh cinta (lagi). Tapi, kali ini bukan pada senja atau bahkan kopi. Tepatnya, pada dia. Pemuda di luar sana, yang sebenarnya aku pun tak mengenal jelas siapa dia. Lucu ya, Yah?

Tapi, memang ini realitanya. Entah dari mana datangnya. Bahkan, aku tak tahu pula bagaimana bisa seperti ini. Rasanya terlalu rumit, Yah. Pun, rasa ini datang dengan tiba-tiba. Tapi, Yah, aku tak tahu rindu ini layak untuk diperjuangkan atau bahkan harus ku lepaskan? Aku takut, Yah. Aku takut jika ternyata ada luka yang sama ketika aku menggantungkan bahagiaku pada manusia. Aku takut jika ternyata rasa kecewa (lagi) yang ku peroleh. Dan aku sangat takut jika pada akhirnya aku patah (lagi).

Sadarku, segala hal harusnya di gantungkan pada Dia Sang Pemilik Alam ini. Mungkin, memang lebih baik ku simpan ya, Yah. Rapat, serapat-rapatnya. Ku simpan di dalam kotak pandora. Lantas, ku buang kuncinya ke dasar laut. Agar dia tak sedikitpun tahu bahwa di sini, di hati ini, ada ruang untuknya. Pun, agar bisa menjagaku juga dirinya. Agar kita terlepas dari fitnah yang tak diinginkan. Lantas, cukup ku titipkan rinduku dalam suam-suam doa di sepertiga malam-Nya. Ku sematkan di setiap sujud panjang ku pada-Nya. Hingga Dia sendiri yang memberikan jawaban atas segala yang ku rasa.

28.11.15
Wayan Ayu. W

Senin, 16 November 2015

Tentang Rasaku

Kawan, boleh aku bercerita? Baiklah, tanpa kau jawab aku akan tetap bercerita. Kau tahu entah kenapa setelah bertahun-tahun ku coba menutup hati, rasa itu muncul lagi. Sejujurnya aku takut. Aku takut jika ternyata rasa ini berbalik arah hingga menyakitiku. Aku takut jika ternyata kegagalan lagi yang ku rasa. Aku takut, jika ternyata rasa ini hanya membuatku makin pilu. Aku takut, dengan segala ketakutan yang tiba-tiba muncul menghantuiku. Bahkan rasanya ketakutanku mengalahkan rasa rinduku padanya.

Kawan, kau tahu? Sejujurnya aku tak mengenalnya. Lucu rasanya. Tapi memang itu kenyataannya. Ya, aku hanya mengenal setiap goresan kata darinya. Aneh? Bagiku tidak. Karena bagiku makna dari setiap kata itu mengungkap siapa dia.

Sebentar, kau bilang aku harus mengenalnya? Hahaha. Jangankan untuk mengenal, sekadar menyapa saja aku tak punya nyali. Baiklah, aku mengakui. Disisi lain aku selalu mampu memberi semangat untuk orang lain. Tapi disisi lain aku rapuh. Bahkan untuk melangkah pun aku tak punya cukup nyali. Ah, ya... Aku sadar betul masih ada Allah Sang Pemilik Hati yang Maha membolak-balikkan hati hamba-Nya. Maka, dari sini cukup ku titipkan rasa itu lewat suam-suam doaku pada-Nya. Dari sini cukup ku mengadu di setiap sujud panjangku pada-Nya. Dari sini cukup ku ceritakan pada-Nya tentang siapa dia, di sepertiga malamku.

Sejujurnya ini sangat menyiksa, Kawan. Bahkan bagiku, lebih baik aku menelan pil pahit, bahkan sangat pahit. Agar rinduku ini meluruh. Hilang melebur dalam kepahitan, hingga rasa pahit itu tak terasa dalam kecapan. Tapi baiklah aku akan tetap sabar, sembari menata hati. Meski kelak ternyata bukan dia yang ku harapkan yang menjadi pendampingku. Meski ternyata Allah berkehendak lain akan semua pintaku. Aku tahu, bahkan sangat mengerti bahwa rencana dan ketentuan-Nya akan selalu berakhir dengan sebuah keindahan. Tapi, bolehkah aku sekadar berharap? Berharap waktu menjawab semua tanyaku. Dan berharap waktu menjadi penawar rasa rinduku.

Semarang, di saat rasa dalam dada berbaur menjadi satu.
17.11.15
-Wayan Ayu. W-

Kamis, 12 November 2015

Antara Kopi Dan Senja

Antara kopi dan senja
Entah apa alasannya
Bahkan aku belum mengerti pasti
Yang ku tahu keduanya selalu mampu memberi gradasi rasa yang serupa
Lewat kopi aku belajar apa arti hidup yang sesungguhnya
Pahit,
Getir,
Tapi pasti akan indah di waktu-Nya nanti
Sedang senja-Nya
Mampu menjadi penghilang lara
Penghapus duka
Menenggelamkan rasa kecewa
Lantas, berganti senyum yang merekah indah.

Semarang, 12.11.15
- Wayan Ayoe. W -

Senin, 09 November 2015

Perempuan Di Balik Layar

Adalah aku seorang petualang,
Yang bahkan tak tahu sampai kapan langkahku akan terus menapak,
Dan membiarkan langkahku bertemu dengan langkahmu,
Pun rasaku, kubiarkan tersimpan rapi tanpa perlu ku ungkap,
Lagi-lagi cukup menatapmu meski hanya dari balik layar,
Dan membiarkan senyumku tersimpul hangat melihatmu,
Meski aku tak tahu siapa dirimu sesungguhnya,
Ah, benar,
Aku hanya mampu mengenalmu lewat aksara yang kau goreskan,
Aku, hanya mampu mendoakanmu di sepertiga malamku,
Ku rapalkan lewat bait doaku pada-Nya.
Dan berharap Dia menjawab doaku pada saat yang tepat.

Lantas, apa kau melakukan hal yang sama tuan?

09.11.15
-Wayan Ayu. W-

Sabtu, 31 Oktober 2015

Cinta Dalam Diam

Bu, boleh aku bercerita? Ini tentang sebuah perasaan yang tiba-tiba hadir menggelayuti bahkan menghantuiku, setiap saat. Entahlah, aku tak berani menafsirkan ini. Rasanya sudah yang kesekian kali aku jatuh lagi, Bu. Tapi, kali ini aku bahkan tak berani mengungkapkannya. Hanya bersembunyi rapat-rapat di balik layar telepon genggamku. Tersenyum sendiri bak orang yang kehabisan akal. Memandang semu dirinya. Lagi-lagi dibuat larut dalam bait aksara yang ia goreskan. Meski kutahu itu bukan untukku tapi aku bahagia. Konyol memang. Tapi entahlah, aku tak mampu berbuat lebih banyak untuk hal ini.

Bu, rasanya ini hanya ilusi bagiku. Tapi entahlah, Bu, ilusi atau bukan pun saru di mataku. Hingga mematahkan ku lagi dan lagi. Seperti apa kata Sapardi Djoko Darmono tentang "Hujan Bulan Juni". Aku tak punya nyali, padahal aku tahu dulu Ibu Khadijah yang terlebih dahulu menghampiri Rasulullah. Tapi, Bu, aku bukan beliau. Aku hanya sesosok wanita yang mencoba bangkit setelah berkali-kali badai menghantam dan menjatuhkanku dalam bahkan teramat tenggelam. Biar, Bu, cukup aku merapal doa untuk dia di setiap sepertiga malam-Nya. Menitipkan rasa ini pada Dia Sang Pemilik Hati. Agar lebih terjaga pun lebih menjaganya.

Bu, rasanya ini hanya candaan semata. Bagaimana tidak? Aku sendiri tak tahu mengapa tiba-tiba Dia hadirkan rasa ini dalam diriku. Kautahu, Bu, aku tak ingin lagi terjerembab dalam lubang yang salah. Aku tak ingin air mata ini menguar lagi. Yang ku inginkan semua memang karena-Nya semata bukan lagi napsu yang berkuasa. Aku tak ingin mengganggunya, Bu, biar saja cukup dalam diam tanpa perlu bersua dan mengungkap rasa ini. Biarkan saja larut dalam senja yang berganti malam. Biar Dia yang menggerakkan semuanya. Tanpa sedikit pun ku rusak skenario-Nya. Aku bahagia, Bu, sangat bahagia. Meski nantinya kita tak mampu bersama sekadar menikmati semburat senja ditemani secangkir kopi hitam pekat. Aku bahagia meski harus diam memendam semua rasa ini sendiri.

Semarang, 31.10.15
@wayan_ayoe

Minggu, 25 Oktober 2015

Untukmu, Tuan!

Tuan, tolong lihat kami!!!
Kalian membuka mata tapi seakan tak melihat kami.
Kalian membuka telinga tapi seakan tak mendengar kami.
Berpura tuli, untuk perut kalian sendiri.
Berpura buta, dengan membuat neraka bagi kami.

Tuan, masihkah kalian punya hati??
Atau ternyata hati kalian telah membatu???
Keras,
Bisu,
Tuli,
Atas segala yang kalian lakukan.

Kau ciptakan neraka dunia bagi kami.
Perlahan tapi pasti.
Kau bunuh kami dengan caramu.
Dengan segala keserakahanmu kau buat alam ini murka.

Lagi, bahkan kau tak terlihat bersalah.
Lari, tunggang langgang meninggalkan kami.
Lantas, kau biarkan kami merintih menahan luka.
Kau buat kami menangis bisu tanpa suara.

Tuan, kau ciptakan kobaran api ini.
Kau timbulkan asap pekat menyesakkan dada.

Lihat tuan!!!
Masih sama,
Tak berubah,
Kabut pekat terlihat angkuh mengangkasa.
Si jago merah tak lagi takluk pada guyuran air.
Bahkan seolah sang bayu berkuasa penuh menyebarkannya.

Tuan, biarkan kami hidup.
Jangan lagi kalian porak porandakan alam ini.

25.10.15
-Wayan Ayu Widiaratna-

#Malam_Narasi_Owop

Senin, 19 Oktober 2015

Perihal Rindu

Perihal rindu,
Bagiku cukup aku menikmati serpihan jingga yang tersisa di cakrawala hingga membentuk siluet.
Tanpa perlu menyentuh, cukup memandangnya dari jauh saja.
Karena dengan menyentuhnya sama saja aku membunuh diriku sendiri.
Membatikkan luka yang digoreskan oleh tanganku sendiri.

Perihal rindu,
Bagiku cukup aku menikmati desiran angin yang berhembus di malam hari maka rinduku akan terbalas.
Tanpa perlu aku umbar keluhan pada angin.
Karena angin hanya akan berlalu dan keluhku hanya akan menjadi debu.

Perihal rindu,
Bagiku cukup aku ceritakan pada Tuhan di sepertiga malam agar rindu ini tetap terjaga.
Agar bait-bait doaku melesat ke langit malam, diaminkan oleh malaikat-Nya.
Kemudian dikabulkan pada waktu yang tepat, bersama orang yang tepat.

Lantas siapa? Entahlah, bahkan hingga saat ini aku masih tak tahu jelas siapa dia.

Semarang, 19 Oktober 2015
-Wayan Ayu-

Jumat, 09 Oktober 2015

Tentang Secangkir Kopi Dan Penantian


Malam semakin pekat, mata sudah mulai merapat. Padahal secangkir kopi telah dirasa. Masih sama. Pahit. Sendokan gula telah ditambahkan untuk menetralisir rasa pahitnya. Tapi memang rasa kopi tak pernah bohong. Ia akan senantiasa jujur pada lidah, melalui pekat dan pahit yang ia berikan. Tanpa perlu lagi berbohong. Sama halnya dengan ruang kosong yang masih menunggu penghuni tetapnya, bukan penghuni yang sekedar singgah. Meski sadar terasa pahit, tapi tetap dinikmati. Kopi dan penantian, keduanya serupa. Pahit tapi mampu menjadi candu.

Salam,
@wayan_ayoe

Berkaca Sebelum Berkata

Sering kali kita mendengar atau malah kita sendiri yang mengkritik kinerja pemerintahan, seolah pemerintah sekarang itu banyak melakukan kejahatan atau mendzolimi dan gak layak memimpin banyak orang. Kita seakan menjadi hakim dan selalu benar. Padahal kita sendiri belum tentu mampu memimpin banyak orang. Bisa jadi kita sendiri melakukan kejahatan itu tanpa disadari tapi malah sering lempar batu sembunyi tangan.

Pasti pada bingung kan kita jahatnya dimana? Kejahatan apa?

Oke kali ini saya uraikan maksud kejahatan disini. Contohnya nih kita mengkritik pemerintah yang gak becus ngurus semua rakyatnya. Nah kita sering melihat orang menerobos lampu merah entah dia buta warna atau mungkin emang sengaja, bahkan tanpa disadari kita sendiri sengaja nerobos dengan alasan biar cepet, atau mungkin lagi buru-buru. Padahal nih kalo dipikir pakek logika itu sama aja dengan korupsi loh!

"Kok bisa?"
Ya bisa lah, wong udah ngambil hak orang lain. Seharusnya orang lain yang jalan tapi malah kita nerobos buat bisa jalan.

"Ih, tapi kan cuma hal kecil"

Come on guys semua kejahatan itu berawal dari hal kecil.
Bapak saya bilang "Kebohongan yang tadinya kecil itu akan berubah jadi besar jika dibiasakan".

Sebabnya karena terbiasa, yah contohnya itu tadi kita biasa berbuat hal-hal yang melanggar norma.

Padahal kita tahu akibatnya itu tuh gak cuma terjadi pada diri kita sendiri tapi ke orang banyak.

Contoh lagi nih "Perihal Buang Sampah Sembarangan"

Kita se-enaknya buang sampah di sembarang tempat, giliran sampah numpuk trus banjir, lagi-lagi nyalahin pemerintah yang gak becus ngurusin drainase. Padahal kita sendiri yang bikin semuanya runyam.

Trus ada lagi nih, kasus kayak gini. Ada oknum buang sampah pas lagi di jalan trus dari dalem mobil dilempar keluar, abis itu nutupin wajah pengendara motor atau bahkan pengendara sepeda.  Yang ada bisa nabrak kan? Trus gimana? Pasti jenengen yang ngebuang berdalih gak ada tempat sampah.

Hadeeh, lagi-lagi alasan. Padahal kalo kita pandai itu sampah bisa simpen dulu di dalam saku, kalo gak ada saku di simpen di tas kalo udah nemu tempat sampah baru lah di buang di tempat sampah.

Kadang saya juga mikir, apa gak capek selalu nyalahin orang lain tanpa instropeksi diri?

Ayolah jangan jadi rakyat yang selalu menyalahkan pemerintah, lha wong rakyat Indonesia itu jumlahnya buaaaanyak banget. Sedangkan pemerintahnya bisa di itung jari kali ya. Pasti kelimpungan lah, apalagi rakyatnya banyak yang "Se-enak'e dewe" dan gak banyak yang punya rasa sadar diri.

Cobalah jadi rakyat yang cerdas dengan mengikuti aturan yang telah ditentukan, tanpa kita selalu menyalahkan pemerintah. Saya juga pernah baca di artikel kalo sosok pemimpin itu cerminan rakyatnya. Kalo rakyatnya suka korupsi ya pemimpinnya pasti korupsi juga kan.

Allah berfirman dalam surat An-Nisaa:59:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوااللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِيالْأَمْرِ مِنْكُمْ“
Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada rasul dan ulil amri kalian.”

Rasulullah juga bersabda :

,مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa yang melihat pada pemimpinnya suatu perkara ( yang dia benci ), maka hendaknya dia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah satu jengkal saja kemudian dia mati,maka diamati dalam keadaan jahiliyyah.”(HR. Bukhari)

Tuh kan, udah di jelaskan sama Rosulullah,

So, please be smart civilians dan jangan nilai seseorang dari sisi buruknya. Mungkin kita hanya mampu melihat dari jarak jauh. Tapi setidaknya kita berusahalah untuk berfikir positif, mungkin pemimpin kita sedang memperjuangkan yang terbaik untuk kita. Kita mah khusnudzon aja pokoknya jangan lupa mendoakan juga. Trus jangan lupa juga kita wajib buat sadar diri guys^^

Selasa, 06 Oktober 2015

Aku Mencintaimu

Aku mencintaimu, aku mencintai kamu yang mencintai-Nya.
Seperti aku yang mencintai senja.
Tapi, apalah dayaku?
Aku tak punya banyak cara untuk mendapatkanmu.
Aku tak mampu untuk sekedar menyapa.
Aku tak mampu untuk sekedar menatapmu.
Bahkan aku tak mampu untuk sekedar melemparkan senyum padamu.
Yang lebih parah lagi aku tak tahu siapa kamu.
Aku hanya mampu menitipkan rinduku untukmu pada-Nya melalui bait-bait doaku.
Yang aku tahu, kau akan datang di saat Allah menggerakkan hatimu untukku.
Kau akan datang di saat Dia tahu bahwa aku telah mampu melengkapi mu.
Pun sebaliknya.
Kau akan datang di saat Dia tahu bahwa ini waktu yang tepat untuk kita.
Beriringan membangun jalan menuju surga-Nya.

Semarang, 06 Oktober 2015
@wayan_ayoe

Senin, 05 Oktober 2015

Stop Bully!!!

Pernah ngerasain dibully? Atau bahkan jadi orang yang ngebully? Trus gimana perasaannya?
Nah, di sini saya bakal ngejabarin gimana sakitnya perasan orang yang dibully. Wkwkwkwk ciee pengalaman 😅

Nah menurut kalian dibully itu rasanya gimana sih? Sakit?? Sakiiiit bagett??? Trus kenapa masih doyan ngebully orang lain?

"Kita kan cuma guyon". 😒 Eiitss, yakin nih kalo bully itu cuma sekadar guyonan? Coba cek lagi deh, tanya sama si korban gimana perasaan mereka sesungguhnya?

Apalagi kalo korbannya dibully di depan orang banyak, di tempat umum dan dibuat malu. Beh!!! Kan sakit.

Notabene-nya orang yang kalian bully itu pasti malu, sedih, tertekan meskipun mereka juga ikut senyum, tapi itu hanya senyum kepedihan.

Sedih? Udah pasti. Malu? Apalagi. Ngerasa diremehin? Iyaa banget Hikss...

Terus kalo udah gini gimana dong? Gampang, caranya dengan sedikit lebih peka terhadap perasaan seseorang. And Stop Bullying.

Mau dihargai yah kita harus menghargai, mau dimengerti yah kita kudu mengerti, Live is So Simple.

Selasa, 29 September 2015

Sajak Malam Untukmu

Gurat wajah itu makin terlihat.
Ada getir dalam senyum manisnya.
Senyum yang menenangkan.
Bahkan tenangnya telaga tak mampu kalahkan ketenangan senyum itu.
Senyum yang selalu ku rindukan, setiap detiknya...
Bahkan hingga saat ini...

Tubuh itu kini mulai rapuh.
Tapi,,,
Ia tak pernah sedikitpun mengeluh.
Lagi-lagi hanya tersenyum.
Gurat senyum itu tak pernah hilang.
Meski getir tapi menyejukkan.
Layaknya hamparan bintang di pekat malam.

Senyum itu hampir sepenuhnya seperti perban.
Tertutup, bahkan sangat rapat.
Letih bertahun-tahun hidup dengan banyak kesabaran.
Lelah bertahun-tahun merasakan asam manis kehidupan.

Bertahun-tahun hidup dengan penuh ketegaran.
Tak pernah sedikitpun ia hadirkan pilu dalam raut wajahnya,
Hanya senyum manis yang terlukis.
Sangat menenangkan
Bahkan selalu ku rindukan.

Ayah,,,
Ibu,,,
Sehat selalu ya,
Doakan anakmu,
Doakan agar ilmu yang kuperoleh cukup untuk membawa kalian menuju jannah-Nya :')
Aamiin

Kaliurang, 29 September 2015
@wayan_ayoe

Kamis, 24 September 2015

Keyakinan Diri

Tetaplah berpijak, meski kita tahu akan banyak kerikil menghadang di depan sana.
Tak perlu berkecil hati untuk semua kejadian yang belum terjadi.
Tak usah pula menerka-nerka semua yang bahkan kita sendiri tak tahu bagaimana jalan ceritanya.

Tetaplah menatap, meski kita tahu akan banyak kabut menghalangi pandangan mata.
Tak usah pula merasa terbebani karena Allah akan selalu menemani kita.
Percayalah, setiap masalah pasti disertai jalan keluar dari-Nya.

Semarang, 24 September 2015
@wayan_ayoe

Sampai Kapan

Sampai kapan?
Sampai kapan kau akan terus terjerembab dalam kubangan kesedihan?
Sampai kapan kau akan terus bersedih ketika tak mendapatkan apa yg kau inginkan?
Sampai kapan kau terus dihantui ketakutan yang bahkan kau buat sendiri?
Sampai kapan kau akan terus menyalahkan keadaan saat kau mulai lelah?
Dan sampai kapan senyumanmu itu kau buat hampir sepenuhnya seperti perban?

Mengertilah bahwa hidup tak selalu seperti apa yang kau inginkan,

Mengertilah bahwa setiap kehidupan telah digariskan oleh Dia sang pemilik alam ini,

Belajarlah,
Belajarlah untuk berdamai dengan diri,
Belajarlah menerima segala yang terjadi tanpa harus menyalahkan keadaan,

Yakinlah,
Bahwa apa yang telah Dia tentukan untukmu akan selalu berakhir dengan sebuah keindahan,

Dia tak akan pernah memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya,

Pahamilah,
Bahwa tak selamanya hadiah selalu terbungkus dengan indah,

Semarang, 24 September 2015

@wayan_ayoe

Kamis, 17 September 2015

Isak Tangis Di Tanah Palestina

Malam menyapa, disini kita terlelap beralaskan lautan busa nan empuk, memeluk guling, menggenggam gadget,
Tertawa untuk banyak hal tak berguna...
Hingga semua kenyamanan itu terkadang melenakan!

Membuat mata enggan melihat ke lain arah.
Enggan menoleh ke arah mereka,
Mereka yang setiap malam tidur beralas batu,
Mereka yang kenyamanannya terenggut paksa, di tanah air nya sendiri,
Mereka!
Ya mereka, pejuang jihad di bumi Palestina juga bumi Suriah,,,

Saat kita terisak,
Menangisi hati yang patah,
Sibuk dengan urusan luka di kalbu,
Mereka disana juga terisak,
Melihat Al Aqsa diinjak yahudi laknatullah,
Bukan urusan hati yang mereka tangisi,
Tapi luka menganga karena tanah airnya berubah menjadi lautan darah para syuhada.

Saat kita sibuk menggenggam gadget,
Sibuk menghamburkan uang,
Sibuk membuang-buang waktu,
Merekapun turut sibuk,
Sibuk menggenggam senjata,
Apa saja yang ada di depan mata,
Sibuk menata hati yang lukanya terus berdarah,
Seiring kepergian orang tercinta,

Bom itu!
Bunyi senapan itu!
Dengung pesawat musuh berputar-putar!
Bergemuruh!
Getarkan tanah Palestina, juga Suriah.
Puing-puing berserakan, reruntuhan bangunan, juga puing-puing luka dan isak tangis membaur dalam satu titik temu.

Anak kecil kehilangan sosok ayah,
Bayi menangis, menjerit!
Ibunya turut menangis, tertahan!
Ada ketakutan disana,
Ada kesedihan disana,
Ada kesakitan juga kepiluan.
Tapi kaki mereka tetap berpijak pasti,
Bersama perjuangan yang tak terhenti.
Demi Al Aqsa!
Demi tanah airnya!
Mereka kokoh berdiri,
Takbir bergema,
Langkah mereka tak surut,
Mereka tak berharap banyak pada kita,
Hanya doa!

Tak bisakah, sejenak saja,
Mari, tundukan kepala,
Sekejap saja,
Khusyuk meminta,
Syahdu mengadu,

Allah, lindungi saudaraku.
Allah, selamatkan saudaraku.
Allaah, merdekakan tanah Al Aqsa.
Allaah, peluk Palestina dan Suriah dengan kasihMu.
Aku memohon, dalam getar doa nan tulus.
Bagi mereka, SAUDARAKU!


@wayan_ayoe

Selasa, 15 September 2015

Fahamilah^

Saat kita bersedih karena rasa takut kehilangan orang yang kita sayang. Maka cobalah untuk mengerti. Bahwa akan ada masanya nanti, semua orang disisi kita satu persatu akan pergi. Entah karena sebuah perjalanan singkat atau bahkan karena perjalanan selama-lamanya menghadap Sang Khaliq.

@wayan_ayoe

Kamis, 10 September 2015

Kawan, Mengertilah, Pahamilah

Kawan,
Mengertilah,,,
Aku tahu bagaimana suasana hatimu saat ini,
Hatimu pasti remuk-redam karena cacian yang kau dapatkan,

Kawan,
Mengertilah,,,
Aku tahu bagaimana keadaan hatimu saat ini,
Hatimu pasti porak-poranda karena hinaan yang kau terima,

Kawan,
Mengertilah,,,
Aku tahu bagaimana kondisi hatimu saat ini,
Hatimu pasti luluh-lantak tak berbentuk karena cemoohan yang kau peroleh,

Tapi kawan,
Sekali lagi,,,
Mengertilah,,,
Jangan biarkan kesedihanmu menguar karena semua ini,
Jangan biarkan langkah kakimu terhenti karena ucapan ini itu,

Pahamilah,
Lagi dan lagi,
Bahwa terkadang pukulan tidak semestinya dibalas dengan pukulan,
Pun luka tidak seharusnya dibalas dengan luka,

Ingatlah,
Lagi dan lagi,
Bagaimana usahamu tentang hijrahmu ini,
Langkah kaki yang tertatih,
Terseok,
Bahkan hingga kau terseret,

Ingatlah,
Lagi dan lagi,
Bahwa tujuanmu hanya untuk-Nya,
Ya,,
Dia yang kau tuju,
Cinta-Nya yang kau dambakan,

Kawan,
Tetaplah melesat bagai api yang menjalar,
Tunjukkan pada mereka bahwa kau mampu,
Tunjukkan pada mereka bahwa kau bisa,
Tunjukkan pada mereka bahwa Allah selalu ada disisimu,,,

Salam,
Wayan Ayu. W

Selasa, 08 September 2015

Arti Senja Bagiku

Yang aku tahu, senja selalu mampu mengajarkanku tentang arti dari sebuah ketulusan,
Juga keikhlasan.
Bagaimana tidak?
Lihat saja,
Ia tak pernah mengeluh meski dalam potongan waktu 24 jam, dia hanya memiliki kesempatan sekejap saja untuk menunjukkan cahaya indahnya,,,
Ia tak pernah marah meski ia harus segera beranjak pergi karena malam seolah tak sabar ingin segera menampakan dirinya,,,
Ia tak pernah bersedih meski ia hanya mampu melukiskan siluetnya dalam hitungan menit saja,,,
Selalu dengan tulus, lagi dan lagi ia hadirkan cahaya yang sangat memesona untuk dinikmati oleh mata manusia, juga makhluk Allaah lainnya,,

Ah, memang bagiku senja selalu indah,,,
Maha besar Allaah yang menciptakan segala yang ada di muka bumi ini...

Salam,

Wayan Ayu. W

Ijinkan Aku Mencintai-Mu

Hembusan angin kian terasa,
Lembut berbisik pada kalbu,
Perlahan tapi pasti, bisiknya menusuk dalam jiwa membuat hati makin terenyuh.

Maka kaki pun mulai melangkah, melangkah untuk mencari arah kemudian berlari mengejar cintaNya.

Allahu Rabbi,
Ku tahu dosaku tak terhitung bak debu yang berserakan,
Ku tahu imanku naik turun bak sebuah timbangan,

Allahu Rabbi,
Lantas, apa aku salah untuk berusaha mengais cinta-Mu?
Lantas, apa aku salah untuk berusaha menggapai ridho-Mu?

Allahu Rabbi,
Ku tahu Engkau pemilik hati ini,
Maka ku minta pada-Mu,
Tetapkanlah hatiku untuk selalu terpaut pada-Mu,

Jangan biarkan imanku runtuh hanya karena semua ujian dari-Mu,
Jangan biarkan aku terlalu terlena dengan semua urusan dunia ini,
Hingga membuatku melupakan-Mu,,,

@wayan_ayoe

Jumat, 04 September 2015

Biarkan

Biarkanlah, biarkan kaki ini melangkah mencari jalan menuju-Nya,,,
Meski harus merangkak,
Meski harus tertatih,
Meski pernah salah melangkah,
Namun kini kucoba berjalan lurus,
Meski langkahku perih terseret,

Biarkanlah, biarkan diri merasakan kesendirian karena-Nya,,,
Meski terkucilkan,
Meski terdiskriminasi,
Meski hati kadang tergores,
Yakinlah, karena sebaik-baik tempat singgah adalah pada peluk-Nya..
Karena sebaik-baiknya tempat pulang adalah di sisi-Nya...

Biarkanlah, biarkan hati menikmati alur mencari cinta-Nya,
Karena Dia sudah mengatur semua jalan untuk mencari cinta serta ridho-Nya,
Tergantung kita yang akan memilih jalan mana yang akan kita tempuh,

Tuban, 03 September'15
@wayan_ayoe

Selasa, 01 September 2015

Ramadhan Terakhir

Malam terang, langit bersih tak tersaput awan. Bintang tumbuh mengukir angkasa, membentuk ribuan formasi. Angin malam kali ini membelai lembut, menyenangkan, menelisik, bernyanyi di sela-sela kuping.

Ah iya, malam ini malam takbiran. Malam ini kebahagian menyelimuti desaku. Gema takbir terus berirama. Terdengar riuh rendah suara anak-anak kecil yang sedang mengumandangkan takbir keliling.

Tapi ada satu pemandangan pilu yang kusaksikan. Ku lihat air mata itu jatuh berlinang membasahi tanah. Tangisnya memecah hening kebahagiaan yang menyelimuti jiwa, menelisik ke dalam relung hati, bak pisau tajam menggores puing-puing kebahagian.

Hatiku semakin pilu, ku lihat beliau meneteskan bulir-bulir air matanya. Di saat banyak orang tersenyum bahagia menyambut indahnya hari kemenangan, Ia Pahlawan hidupku meneteskan air matanya. Benar-benar semakin tersayat sembilu pisau belati.

"Bu... Ibu kenapa?" Sembari ku hapus peluh air mata yang membasahi pipinya.
"Ibu rindu nak,," Jawabnya lirih.
"Ibu rindu bapak?" Tanyaku dengan sangat hati-hati.
Beliau hanya diam tak mengucap sedikit katapun. Hatiku semakin pilu, sayatan pisau semakin terasa di relung hatiku.
"Ibu jangan sedih ya, bapak pasti pulang bu. Mungkin masih di jalan." Ucapku sedikit menenangkan.
"Tapi ndak biasanya bapakmu seperti ini nduk..." Lanjut ibu.

Tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu. Membuatku menghentikan percakapan dengan ibu.

"Bu,, sepertinya ada yang datang, Andin keluar dulu ya bu." Ucapku sembari beranjak dari tempat dudukku.

Lagi-lagi ibu hanya terdiam tak menjawab.

"Assalamu'alaikum, Bu Ira." Sambil mengetuk pintu
"Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh." Jawabku sembari membuka pintu.
"Oh bu Dini, saya kira siapa bu. Kok malam banget bu, memangnya ada apa ya?" Tanyaku keheranan.
"Oh ini nak, ibu mau ngasih ini buat ibu kamu." Sambil menyerahkan kantong kresek hitam yang di genggamnya.
"Oh iya bu, terima kasih banyak bu. Masuk dulu bu. Monggo, biar Andin panggilkan ibu" Ucapku sambil mempersilahkan bu Dini.
"Sama-sama nak. Ndak usah nak, ibu langsung aja. Soalnya mau nganter ke tetangga sebelah. Salam buat ibu kamu ya nak." Pamit bu Dini.
"Oh iya bu, terima kasih ya bu." Ucapku sambil tersenyum.

Setelah menutup pintu aku kembali duduk menemani ibu.
"Tadi siapa nduk?" Tanya ibu.
"Oh tadi bu Dini bu, nganter ini." Sambil menyodorkan kantong kresek dari bu Dini.

Lalu ibu membuka kantong kresek dari bu Dini. Dan ternyata buah mangga dari bu Dini. Ibu memintaku mengambil pisau. Sambil mengupas kulit mangga, tak terduga ibu meneteskan air matanya lagi.

Ibu sangat merindukan bapak.

Potongan demi potongan buah mangga terjatuh diatas piring, bersamaan dengan itu tetes air mata yang juga terjatuh di pipi ibu semakin menderas. Hatiku teriris melihatnya.

"Sudahlah bu, bapak pasti baik-baik saja" Ujarku berusaha menenangkan ibu.

Telepon genggam milik ibu nyaring berdering, ibu bergegas mengangkatnya. Entah siapa yang berbicara di ujung sana, yang aku lihat hanyalah isak tangis ibu yang semakin mengeras.

Malam itu, seumpama pisau yang memotong buah mangga, pisau takdir pun turut memotong kebahagiaan kami. Bapak pergi. Diluar takbir masih berkumandang di seluruh penjuru desa, bersama air mata kami yang juga jatuh tak terbendung.

#MalamNarasiOwop
@wayan_ayoe

Ceritanya sih ini tantangan senin malam bikin narasi dengan sebuah foto, dan pertama kalinya juga bikin cerpen,, hehehe... Maaphkeun yak kalo masih belibet. 🙏🙏🙏🙏

Sabtu, 29 Agustus 2015

Aku Sang Pemimpi

Mencoba sekali lagi,,,
Menyulam benang-benang mimpi, asa serta pengharapan yang telah pupus,
Bangkit dari segala keterpurukan yang pernah ku alami,
Langkah kaki ini makin tertatih,
Terseok-seok mencoba merajut kembali semua mimpi yang pernah sirna,
Sekali lagi,,,
Kembali ku coba merajut mimpi yang telah pudar,
Bulir-bulir asa tentang sebuah mimpi,
Dawai-dawai indah tentang pengharapan seorang hamba,
Rabbi,,,
Ku tahu Kau yang punya kuasa atas segalanya,
Ku mohon pada-Mu,,,
Bantu aku,,,
Bantu aku membangun setiap mimpi, asa serta harap ini menjadi nyata,
Ridhoi aku,,,
Ridhoi aku di setiap langkah untuk membuat kedua orang tuaku tersenyum bangga,
Tersenyum tulus melihat bulir-bulir keringatnya tak sia-sia,
Bahkan tersenyum sangat indah melihat kami anak-anaknya lebih mencintai-Mu,

Tuban, 29 Agustus 2015
Wayan Ayu Widiaratna

Rabu, 26 Agustus 2015

Allah Yang Maha Mengetahui

Setiap manusia punya jalan ceritanya masing-masing,,,
Semua hampir tak ada yang sama,,,
Terkadang ada yang merasakan lika-liku hidup, bahkan berkelok tajam,,
Ada pula mereka yang hidupnya terasa lurus, bahkan flat tanpa warna,,,
Mungkin ada pula yang rumit, tak tergambar oleh kata,,,

Begitulah Dia yang sangat hebat mengatur semua alur cerita kehidupan kita,,,
Begitulah Dia yang sangat teliti menuliskan semua skenario dalam hidup, tanpa sedikitpun ada kekeliruan,,,

Kau tahu, kadang kita sendiri yang tak pernah mengerti atau bahkan tak ingin mengerti.
Bahwa apa yang Ia gariskan untuk kita adalah yang terbaik menurut-Nya.
Sesuai dengan firman-Nya :

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." ( Al-Baqarah : 216)

Lagi dan lagi,,,
Cobalah mengerti bahwa sejatinya Dia sangat mempedulikan kita lebih dari siapapun...
Tak peduli bagaimana latar belakang kita, apa jabatan yang kita punya, berapa banyak harta yang kita miliki atau bahkan seberapa tinggi pendidikan kita,,,
Kawan, Dia tak akan pedulikan itu,,,
Yang Dia nilai hanya seberapa besar rasa cinta kita kepada-Nya,,,
Serta seberapa besar ketaatan kita kepada-Nya,,

Sedang kita????
Masihkah kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain???
Masihkah kita selalu iri dengan kehidupan orang lain???

Sedang kita tahu bahwa semua telah tertulis oleh-Nya di Lauhul Mahfudz, bahkan beribu-ribu tahun sebelum kita lahir di dunia ini,,,

Sesungguhnya Dia lebih mengetahui apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. :')

Tuban, 26 Agustus 2015
@wayan_ayoe

Minggu, 23 Agustus 2015

Aku Percaya, Kau Tak Akan Pernah Sedikitpun Ingkar Janji

Diam...
Terpaku...
Kelu..
Sepi memenjarakanku...
Sunyi menyelimutiku...
Mengurungku dalam ketakutan,
Yang kubuat sendiri..

Kubiarkan hatiku berbisik syahdu.
Melirihkan banyak pertanyaan.
Kapan? Kapan? Dan kapan?
Dan kemudian, pertanyaan itu membuatku semakin pilu.

Allah...
Ku tahu Engkau selalu punya banyak rencana untuk hamba-Mu.
Ku tahu Engkau tak pernah lelah barang sedikitpun untuk mencintai hamba-Mu.
Bahkan, aku sangat mengetahui Engkau selalu adil kepada hamba-hamba-Mu.

Allah,,,
Ku tahu ini jalan terbaik yang Kau pilihkan untukku,,,
Merasakan nikmatnya kesendirian untuk semakin mendekat pada-Mu,,,
Membiarkanku sendiri untuk semakin bersabar dalam penantianku,,,
Membiarkanku sendiri untuk meningkatkan kualitas diriku di hadapan-Mu.
Aku percaya, Allah.
Ada ketetapan indah dibalik penantian panjangku.
Aku percaya, Allah.
Kau tak pernah ingkar janji.

@wayan_ayoe

Kamis, 05 Februari 2015


Ah, gak inget apa kamu dulu kayak apa?
Kamu sendiri dulu pacaran kan?
Kamu sendiri dulu pulang malem terus kan?
Apa kamu gak inget dulu kamu sendiri gak pakek jilbab gitu kan?
Pakaian serba ketat juga,,

Sekarang lagak kamu udah kayak  ustadzah aja,
Sok-sok_an ngasih tau aku kalo pacaran itu dosa,
Sok-sok_an ngasih tau kalo jilbab itu kewajiban,

Udah kayak orang bener aja,,,
Udah deh gak udah sok, urusin aja diri kamu sendiri, gak usah urusin orang lain,,,

Astagfirullah,,,
Ya, memang diri ini dulu hina bahkan sampai saat ini pun masih hina,,,
Diri ini juga bukan seorang ustadzah, hanya seorang wanita akhir zaman yg penuh dosa,,,

Tapi, aku sayang padamu,
Aku juga takut jika di akhirat nanti aku di hisab karena tak mengingatkanmu,,,
Aku gak mau kamu ngalamin apa yg dulu aku alami,,,

Hidup dalam kehidupan jahiliyyah,
Jauh dari rahmat dan ridho Allah,
Terperosok dalam jurang dosa dan kenikmatan dunia terlalu lama,,,

Karena kita tak akan pernah tau kapan ajal datang menjemput,,,

Astagfirullah,
Allahu Akbar,,,
Ya Allah ampuni kami yg selalu khilaf, ampuni kami yg selalu ingkar,,,
Ampuni kami yg selalu berbuat dosa,,,

Allahu Rabbi,,,,
"Ya Allah jika memang kami tak pantas menikmati surgaMu, maka jangan gantikan dengan jahanam-Mu."