Perihal rindu,
Bagiku cukup aku menikmati serpihan jingga yang tersisa di cakrawala hingga membentuk siluet.
Tanpa perlu menyentuh, cukup memandangnya dari jauh saja.
Karena dengan menyentuhnya sama saja aku membunuh diriku sendiri.
Membatikkan luka yang digoreskan oleh tanganku sendiri.
Perihal rindu,
Bagiku cukup aku menikmati desiran angin yang berhembus di malam hari maka rinduku akan terbalas.
Tanpa perlu aku umbar keluhan pada angin.
Karena angin hanya akan berlalu dan keluhku hanya akan menjadi debu.
Perihal rindu,
Bagiku cukup aku ceritakan pada Tuhan di sepertiga malam agar rindu ini tetap terjaga.
Agar bait-bait doaku melesat ke langit malam, diaminkan oleh malaikat-Nya.
Kemudian dikabulkan pada waktu yang tepat, bersama orang yang tepat.
Lantas siapa? Entahlah, bahkan hingga saat ini aku masih tak tahu jelas siapa dia.
Semarang, 19 Oktober 2015
-Wayan Ayu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar