Jumat, 19 Agustus 2016

Resensi "Episode Hujan"




Betapa pun ia sadar bahwa hujan adalah butiran berkah menumbuhkan benih-benih sayur dan padi, mendung selalu membuat Katya waswas.

Baginya --Katya-- selain banjir yang mengintai, hujan hanya membawa deretan panjang kendaraan yang tidak bergerak, kereta commuter yang mogok karena gangguan sinyal, ujung celana yang kotor karena cipratan tanah basah, alas kaki dan pakaian yang berbau apak tidak kering, belum lagi waktu yang terbuang sia-sia untuk sekadar berteduh. Karena begitu banyak alasan mendung selalu menyapu bersih rasa bahagia Katya menjadi tak bersisa. (Hlm. 23)

"Kamu benar-benar tidak suka hujan, ya?"

Sejenak Katya mengira pertanyaan itu tidak perlu jawaban.

"Buku-buku dan mainanku berkali-kali rusak karena hujan dan banjir. Semua kemacetan dan kekacauan di Jakarta terjadi karena hujan. Kakakku hilang saat hujan. Max juga hilang di tengah hujan. Bagaimana aku tidak membenci hujan?"

Laki-laki itu---Banyu Mili---melanjutkan sebelum Katya berkomentar, "Hujan membuatku merasa tidak sendiri. Rintik hujan membuatku sadar. Aku bukan satu-satunya orang yang jatuh, lalu pecah membentur batu dan aspal jalanan, atau larut bersama kelokan sungai."

"Pluviophile," ucap Katya.

"Apa itu?"

"Itu kamu orang yang merasakan kedamaian saat hujan," ungkap Katya.

----

Katya adalah seorang mahasiswi jurnalistik yang sangat mengagumi salah satu jurnalis media cetak Barometer bernama Max Wangge. Dan memiliki sifat yang jujur, tegas, pekerja jeras dan berwibawa.

Max Wangge sendiri adalah seorang pewarta yang hilang ketika sedang menelusuri dugaan korupsi di sebuah kementrian.

Sedang Banyu Mili adalah seorag pewarta yang peka terhadap keadaan sosial,selain itu Banyu aalah sosok yang menjunjung kejujuran di manapun dia berada. Dia juga bukan sosok yang mudah putus asa dalam perihal pencarian.

Dan berita hilangnya Max semakin membuat Katya ingin memiliki hal yang membuat Max layak disebut pewarta berita. Hingga kemudian Katya berencana melamar pekerjaan sebagai pewarta di tempat Max bekerja setelah lulus kuliah nanti.

Tapi, Katya malah harus menerima kenyataan yang pahit. Katya melepas kesempatan bekerja di Barometer dan akhirnya masuk ke Senarai, majalah mode. Di mana ia tetap menjadi seorang jurnalis yang jujur dan tegas.

Hingga suatu waktu ia menerjunkan diri mencari orang hilang, Jani, sosok murid Katya di pusat daerah belajar mengajar di pinggiran kota Jakarta. Pencarian Jani membawa Katya bertemu pada Banyu Mili, rekan Max bekerja. Dan menemukan kakaknya, Bara.

Banyu, sosok yang ternyata mengisi hati Katya. Dan membuatnya mengambil keputusan tanpa ragu dan tegas.

"Hadiah terbaik dari menemukan pasangan yang tepat adalah kita selalu bisa jadi diri sendiri." (Hlm. 282)

----

Novel ini menceritakan perihal kehilangan, dan mampu membuat pembaca berdecak kagum. Penulis juga mampu menggiring pembaca menikmati setiap alurnya. Oh iya, penulis juga menyematkan cerit tentang pertemuan Katya dengan salah seorang keluarga korban hilan era reformasi, yang menurt saya makin membuat novel ini terasa. Selain itu banyak kutipan-kutipan bijak dan bahasa yang ringan hingga pesannya mudah untuk dimengerti. Hanya saja seperti novel-novel lain, menurutku pribadi novel ini terlalu mudah ditebak akhir ceritanya. Dan sejujurnya aku sempat kecewa dalam adegan pencarian Jani. Tapi lagi-lagi penulis mampu menyelipkan twist yang asik dinikmati sehingga mampu mengobati rasa kecewa itu.

Dan berikut ini beberapa kutipan yang sengaja aku tandai:

"Perjuangan selalu terlihat lebih agung jika telah berlalu dan hanya tinggal dipandang dari balik kaca diaroma." (Hlm. 11)

"Dan segala hal yang tidak dipahami manusia membuat mereka takut dan mengambil jarak." (Hlm. 77)

"...kadang sesuatu yang kita inginkan, justru datang lebih cepat dari yang kita kira." (Hlm. 96)

"Pertanyaan dan jawaban yang menentukan bagaimana mereka akan menjalani hidupnya setelah itu." (Hlm. 107)

"Sesuatu yang dibisikkan kadang adalah kebenaran yang paling nyaring." (Hlm. 133)

"Dan tawa, kata seorang komedian, adalah jarak terpendek antara dua manusia." (Hlm. 135)

"Memberikan hati kepada orang lain itu seperti berangkat perang tanpa membawa perisai. Membuat perasaan sewaktu-waktu bisa terayun bebas ke kanan-kiri seperti pendulum yang digerakkan tangan si manusia terpilih itu." (Hlm. 143)

"Sebuah perang terjadi ketika dua orang punya senjata. Saya tidak punya. Saya sebut ini penindasan." (Hlm. 206)

"Jika benar pemuda yang berkesempatan duduk di bangku kuliah hanya berjumlah 8% dari seluruh pendduk negara ini maka sungguh menyedihkan sarjana yang menyia-nyiakan pendidikannya dengan tidak menjadi "orang"." (Hlm. 227)

"Menulis itu adalah soal keberanian." (Hlm. 261)

"Tapi, menurutku setiap orang wajib merasakan patah hati. Itu berarti kita sudah memperjuangkan sesuatu yang kitta yakini." (Hlm. 264)

"Barangkali yang ia cari tidak ditemukan sesuai harapan. Tapi harapan juga yang membuatnya tiba pada penemuan lain." (Hlm. 277)

"....Cinta itu seperti hujan. Ia datang saat semua gelap." (Hlm. 279)

Jumat, 06 Mei 2016

Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan

Senin lalu tepatnya tanggal 2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional aku berkesempatan mengikutin Kelas Inspirasi dari Indonesia Mengajar. Sebagai inspirator yang menginspirasi anak-anak tentang mimpinya. Ketika pertama kalinya aku survei ke sekolah mereka, aku benar-benar kaget. Ternyata di tengah kepadatan kota Jakarta masih ada sekolah marginal seperti ini. Sekolah yang di dalam bangunannya ada sebuah klenteng dan kontrakan yang berjejer rapi.

Hingga kedatanganku pun membuat diriku berimajinasi. Andai saja, diriku ini menjadi Menteri Pendidikan aku renovasi bangunan-bangunan lama agar anak-anak nyaman mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Juga aku perhatikan perpustakaan sekolahnya. Apakah ada buku-buku yang diperlukan anak-anak. Atau rak buku yang sudah harus ditanggalkan dan diganti yang baru. Juga membiasakan anak-anak untuk selalu membaca hingga menulis.

Karena nyatanya membaca memang mampu menjadi senjata terhebat yang pernah ada. Karena membaca memampukan kita untuk menulis. Karena membaca mampu mendobrak segala ketidaktahuan. Karena membaca mampu menembus dimensi ruang dan waktu untuk terus membangun imajinasi mereka. Karena membaca pula mereka bisa berarti untuk yang lainnya.

Jakarta, 06 Mei 2016
Wayan Ayu. W

Kamis, 28 April 2016

Langit Beraksara

Yang aku tahu rindu ini kian nyata, mendobrak batas pertahanan yang telah aku bangun. Mengobrak-abrik rasa yang sudah tertata, bahkan mencabik hingga ke ulu.

Rasanya, ingin aku tepis rindu yang menderu. Tapi sayang, semakin aku mencobanya, semakin kuat rindu ini menyeruak. Menguar, hingga meluluh lantakkan segalanya.

Andai aku mampu, ingin rasanya aku balaskan rindu ini. Namun, lagi-lagi aku terlalu lemah untuk melakukannya. Bahkan sedikitpun aku tak memiliki nyali untuk melakukannya. Kau menang, kau berhasil menghancurkan dinding pertahananku.

Sedang aku di sini, terpekur bersama rindu yang semakin memburu. Tersungkur bersama rasa yang kian nyata.

Meski nyatanya bentangan jarak menjadi pemisah antara kau dan aku. Aku selalu berharap kita memandang langit yang sama sembari merapal untaian doa kepada Yang Maha Kuasa. Agar Dia berbaik hati menyatukan kita dengan cara dan waktu yang tepat.

Teruntuk engkau yang selalu berhasil membuatku merindu.

Jakarta, 28 April 2016
Wayan Ayu W.

Minggu, 27 Maret 2016

Senja dan Cita

Masih tentang cita
Ia tersusun rapi di sana
Terangkai sedemikian rupa
Meski nyatanya peluh yang meluruh kian terasa

Inikah perjuangan?
Yang memerlukan banyak perjalanan
Juga tak jarang rasa sakit tertahan
Bukankah segalanya memang membutuhkan pengorbanan?

Lihatlah, di sana Sang Senja tersenyum menyapa
Memberi secercah semburat cahaya
Berpendar menghias angkasa
Dan memberi kehangatan kepada dunia
Tak terkecuali kita.

Jakarta, 27 Maret 2016
Wayan Ayu W.

Sabtu, 26 Maret 2016

Tentang Sebuah Perjuangan

Untuk hati yang sedang rapuh
Masihkah kau terpekur dan terus melenguh
Sedang masih ada yang harus ditempuh
Ada pula yang perlu kau kayuh

Kau lihat, di atas sana
Sang awan membumbung tinggi di angkasa
Menghias indah seperti permata
Berarak lepas namun tertata

Sayang, bukankah sama dengan mimpimu
Yang sekian lama dirajut dengan peluh
Hingga tak sekali kau terjatuh
Lantas, akankah kau biarkan ia berlalu?

Rabu, 16 Maret 2016

Tanya Yang Belum Terjawab

Sebelum membaca Tanya Yang Belum Terjawab yuk baca seriMisteri Gang Bayangan Misteri Gang Bayangan (2) https://goo.gl/5qyVNz

Pandanganku membuyar, tubuhku terhempas ke dalam ruangan pengap yang tidak jelas karena gelap. Sembari mencoba bangkit, perlahan kukerjapkan mata ini untuk mencari sumber cahaya. Tapi, hanya gelap yang nampak.

Tunggu, ada seberkas cahaya. Tapi, darimana? Bahkan tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan di sini. Hanya ada sebuah kursi dan meja yang teronggok di ruang ini. Tapi, bukankah tadi sepatu Ran berhenti di atas lorong ini. Lorong pengap yang tak berpenghuni.

Baiklah sepertinya aku harus menelusuri lorong ini. Menembus ruang pengap dengan segala rasa yang tak karuan.

Braaak....!

Bunyi itu. Tapi, bunyi apa? Lantas darimana pula datangnya bunyi itu?

“Oh, Tuhan. Andai saja bisa, aku ingin meminjam pintu kemana saja milik Doraemon agar mampu mencari gadis kecilku tanpa perlu waktu lama.”

Braaak....!

Bunyi itu lagi. Degup jantungku semakin kuat. Napasku semakin tercekat. Ran, apa yang terjadi dengan gadis kecilku. Apa dia baik-baik saja. Tuhan, aku mohon jangan biarkan dia melukai gadis kecilku.

Ah, pintu. Ran-ku pasti ada di dalam sana. Langkah kaki ini semakin kupercepat sembari mangatur napas yang hampir tercekat. Kuintip suasana ruangan dari lubang kecil di gagang pintu.

Ran, ah, itu memang dia. Tapi, siapa yang bersamanya itu? Seorang wanita. Yang benar saja. Ran bersama wanita. Tapi siapa? Apa pula yang ia inginkan?

Oh Tuhan pikiranku makin tak karuan. Rasa cemas semakin menjalari tubuhku. Kakiku makin tak mampu digerakkan. Siapa wanita itu? Apa yang ia inginkan. Lantas mengapa ia menculik semua orang yang lewat di gang kecil itu.

Oh Tuhan, pertanyaan ini semakin memburu untuk segera terjawab. Ingin rasanya kubiarkan tangan ini membuka gagang pintu dan menghambur masuk ke dalam.

Tapi, tunggu. Mengapa Ran tak menangis? Malah kulihat ia tertawa riang di dalam sana.

Bruaaak...!

Pintu yang aku gunakan untuk melihat kondisi di dalam tiba-tiba terbuka. Tubuhku terhempas tepat di bawah kaki wanita itu.

“Siapa kamu?” tanya wanita itu sambil memandang lekat-lekat wajahku.

Belum sempat aku jawab Ran sudah memotong pertanyaan wanita paruh baya itu.

“Kakak....” sahut Ran sembari menghambur ke pelukku.

“Ran, bagaimana keadaanmu?” tanyaku sembari mengecek kondisi Ran mulai dari rambut hingga ujung kakinya.

“Aku baik-baik saja, Kak. Malah tante ini ngajarin aku main bekel lho.” Jawab Ran sembari tertawa renyah dengan ciri khasnya.

“Benarkah? Tapi mengapa kamu meninggalkan sepatumu, Ran? Kakak tahu kamu bukan anak yang ceroboh.” Ujarku sembari mengernyitkan dahi meminta penjelasan dari gadis kecil di depanku.

“Maaf, boleh aku menyela?” sahut wanita paruh baya itu.

“Sebenarnya memang aku yang melakukannya. Tapi, aku tidak bermaksud menculik. Atau bahkan menjual dan membunuh. Aku hanya ingin melindungi adikmu. Juga mereka.” Jelas wanita itu.

Tapi bagaimana bisa? Bukankah orang-orang yang hilang di gang sempit itu selalu tak kembali? Lagi-lagi pertanyaan itu menyeruak begitu saja. Pertanyaan yang masih belum terpecahkan.

Tunggu cerita selanjutnya di ceritamilikhappy.tumblr.com

Selasa, 08 Maret 2016

Gerhana

Katamu Gerhana itu menyakitkan. Karena ia melahap habis Sang Surya. Tapi, bagiku tidak. Ia hanya meminta sedikit ruang. Mengisi yang semula putih menjadi kelam.

Katamu, hadirnya meresahkan. Bagiku, semeresahkan apapun, ia tetap harus hadir. Mengisi yang semula kosong. Layaknya coretan pada kertas. Hingga menjadi peretas.

Katamu Gerhana hanya meninggalkan luka. Bagiku, luka mampu mengajarkan banyak hal. Karena terkadang kita butuh untuk terluka. Agar kita tahu sakit itu seperti apa.

(Jakarta, 9 Maret 2016 || 00:00 )
Wayan Ayu Widiaratna

#MalamNarasiOwop
#Gerhana

Selasa, 09 Februari 2016

Teruntuk Kamu Tumpukan Resolusi

Hai, Sayangku! Apa kabarmu hari ini? Lama rasanya aku tak menyapamu. Bersenda gurau denganmu. Membahas ini itu denganmu. Dan, bercerita banyak hal padamu.

Sayang, maafkan aku. Maaf karena aku sering meninggalkanmu. Membiarkanmu terpaku sendiri tanpa sedetikpun aku temani.

Kamu tahu, Sayang? Aku sangat merindumu. Merindukan peluhku menetes karena mengejarmu. Merindukan tangisku menguar karena mengharapkanmu. Juga merindukanmu berkata, "Kuat, Sayang, karena kamu mampu." sembari mengulas senyum termanismu.

Ah, tentu saja aku sangat merindukan itu semua, Sayang. Hal terbodohku adalah ketika membiarkanmu terpaku di pojok ruang tanpa sedikitpun aku sentuh. Tanpa sedikitpun aku berusaha mengejarmu dan menggandeng tanganmu. Agar kita berjalan berdua. Beriringan, tanpa sedikitpun berniat meninggalkan.

Lantas, apa kamu pun merindukanku? Dan masihkah (mau) berjalan beriringan (lagi)?

Kepada tumpukan resolusi yang belum sepenuhnya dikerjakan.

Dari aku tumpukan rasa malas yang membekap.

Jakarta, 10 Februari 2016
Wayan Ayu W.
#30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 06 Februari 2016

Awaiting

Hai, Tuan! Apa kabarmu? Aku harap kamu di sana baik-baik saja, Tuan. Emmmm, kamu ingat dulu ada janji yang pernah diutarakan untukku? Aku ingat, Tuan. "Tunggu aku di bangku ini." katamu. Dan setiap petang menjelang aku selalu menunggumu, Tuan. Di bangku ini, tempat pertama kita bertemu.

Tuan, kamu tahu? Ada yang kamu curi dariku. Dulu.... Dulu sekali. Kamu janjikan pertemuan itu. Kamu berikan harapan padaku. Tapi, kamu juga yang mematahkannya. Tunggu, kamu? Rasanya aku pun bersalah. Karena telah terlalu berharap padamu.

Kamu tahu, Tuan. Setiap hari aku selalu datang ke bangku ini. Duduk menantimu sembari menyaksikan senja yang muncul kemudian perlahan menghilang dan berganti rembulan. Sakit? Tentu tidak, Tuan. Karena sakitku terobati oleh siluetnya yang muncuk dan mengisi kekosongan di hati.

Sudah aku bilang berkali-kali, bahwa senja itu romantis, Tuan. Seromantis pertemuan  pertama kita. Yang bisa jadi tak ada pertemuan selanjutnya. Atau bahkan memang itu pertemuan terakhir kita.

Entahlah, aku tak ingin menerka lagi. Biar saja Dia yang mengatur segalanya. Dan aku akan tetap menunggu di bangku ini. Ruang tunggu yang selalu kamu janjikan. Meski mungkin bukan kamu yang datang ke ruang tunggu ini untuk menjemputku.

Jakarta, 06 Februari 2016
Wayan Ayu Widiaratna
#30HariMenulisSuratCinta

Kamis, 04 Februari 2016

Rindu Dan Kopi

Hai, Tuan! Apa kabarmu? Kuharap kau di sana masih teguh menjaga imanmu. Juga hatimu. Tuan, maaf, lagi-lagi aku selalu menyematkanmu dalam setiap aksaraku. Maafkan aku yang secara lancang menggerakkan jari jemariku untuk menulis semua rasaku padamu. Tapi, Tuan, mengertilah. Ini salah satu caraku merindumu. Rindu yang selalu datang tanpa permisi. Hingga menjadi candu. Seperti kopi, bukan?

Ah, tentu, Tuan. Seperti kafein dalam setiap sesap kopi yang biasa kau nikmati. Bahkan pahitnya pun jelas kentara. Tapi, tenang saja, Tuan. Aku sudah terbiasa merasakannya. Bahkan saking biasanya aku juga hampir lupa bagaimana rasanya.

Tuan, sejujurnya aku tak tahu siapa dirimu. Tapi, aku yakin suatu saat nanti kita akan dipersatukan oleh-Nya. Dengan cara yang entah bagaimana.

Maaf, Tuan, jika aku terlalu lancang mengungkapkan setiap rasaku dalam torehan aksara. Dan maaf atas segala kelancanganku yang selalu mencarimu di antara sepi yang membekap.

Jakarta, 04 Januari 2016
Wayan Ayu Widiaratna
#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 03 Februari 2016

Surat Untuk Ibu

Dulu... Dulu sekali, aku masih ingat, Bu. Bahkan sangat melekat dalam ingatan. Di setiap tangisku engkau selalu menggendongku. Memeluk erat tubuhku. Lantas, kau ceritakan dongeng-dongeng untukku.

Dulu... Dulu sekali, aku masih ingat, Bu. Engkau selalu memberi apa yang aku butuhkan. Bahkan, yang aku pinta pun kau berikan. Meski nyatanya harus ada peluh yang menetes untuk menebus segalanya.

Dulu... Dulu sekali. Bahkan hingga saat ini. Engkau tak pernah melewatkan satu malampun untuk bersujud di sepertiga malam-Nya. Mendoakan anak-anakmu dengan ikhlas tanpa sedikitpun mengharapkan balasan.

Tapi, lagi dan lagi. Anakmu tak hentinya membuatmu kecewa. Membuatmu meneteskan rinai yang keluar dari matamu. Tapi bahkan, engkau tak sedikitpun lelah merawat juga menjagaku.

Engkau tahu, Bu? Saat ini aku merindukanmu. Bahkan rinduku sangat mrnggebu. Tapi, nyatanya kita terpisah dimensi ruang dan waktu. Lagi-lagi aku hanya mampu merapal rinduku lewat bait doa.

Bu, saat ini mungkin aku masih belum mampu membalas segala yang engkau berikan. Tapi, Bu, semoga kelak Allah memudahkan segalanya untuk membahagiakanmu. Semoga Allah menjagamu.

Jakarta, 03 Februari 2016
Wayan Ayu W.
#30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 02 Februari 2016

Hujan

Hai, Hujan! Sepertinya akhir-akhir ini kau nampak bahagia, ya? Bagaimana tidak? sedangkan kau selalu meneteskan rinaimu yang pada akhirnya menciptakan kerinduan pada bau tanah basah.

Hujan, boleh aku bercerita? Sebentar saja. Tapi, tanpa kau setujui pun aku akan tetap bercerita.

Kamu tahu, Hujan. Sebelumnya aku sangat membencimu. Maaf, Hujan. Kamu tahu mengapa aku seperti itu, Hujan? Baiklah biar aku jelaskan padamu mengapa.

Karena kau selalu datang ketika aku patah, Hujan. Ya, patah yang sebenarnya aku ciptakan sendiri. Aku yang telah salah menggantungkan harap pada sesosok makhluk bernama manusia. Menyedihkan, bukan? Tapi, ternyata tidak sebegitu menyedihkan, Hujan. Karena kau selalu datang di saat yang tepat. Meluruhkan setiap rasa sakit juga perihku bersama rinaimu. Hingga berganti rasa tenang.

Hujan, aku percaya suatu saat nanti akan datang waktunya dimana aku merasakan rinaimu bersama sesosok lelaki meneduhkan sepertimu. Sembari duduk berdua dan menikmati kecap demi kecap kopi yang tersedia. Dia orang yang benar-benar dihadirkan oleh-Nya untukku. Dan aku percaya itu.

Jakarta, 02 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta

Senin, 01 Februari 2016

Rindu Dan Hujan

Kali ini biarlah hujan memerangkapku
Memasukkanku kembali dalam kenangan tentangmu. Mengingatkanku kembali atas rasa yang pernah tumbuh. Membiarkan tangisku meluruh bersamanya

Kali ini biarlah hujan memerangkapku
Hingga membuat kebas wajahku. Biar saja,
Mungkin, memang ini caranya. Menyampaikan rinduku lewat tiap tetes air hujan yang meluruh dari langit untukmu. Semoga, kamu di sana tetap menjaga hati untukku.

Teruntuk kamu yang tiba-tiba datang mengambil separuh hati ini.
Dari aku yang dengan rela kamu curi.

Jakarta, 01 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta

Minggu, 31 Januari 2016

Titip Rinduku Pada Senja

Hai, Senja. Apa kabarmu? Lama rasanya aku tak menyapamu. Mengamatimu lamat-lamat di sepanjang petang. Menyaksikan sinarmu yang mulai melebur bersama munculnya rembulan. Menikmati wajahmu yang teduh dan sangat meneduhkan. Juga tak lupa bercerita tentang setiap gradasi rasaku.

Senja, kamu tahu? Entah bagaimana caranya aku menyimpan rasa untuknya. Meski pada kenyataannya aku bahkan belum benar-benar bertemu dengannya. Tapi, ketahuilah, Senja. Aku bisa melihatnya, melihat ke dua bola matanya yang meneduhkan. Senyumnya yang sangat menawan, rambutnya yang hitam legam, lesung pipit pada pipinya, juga hidung mancungnya.

Senja, aku bahkan tak tahu. Apakah ini yang dinamakan diaroma rasa? Apakah ini yang dinamakan jatuh hati? Apakah ini yang dinamakan cinta? Tapi, Senja. Rasanya menyakitkan. Bagaimana tidak? Jika pada kenyataannya aku tak benar-benar melihatnya secara langsung. Ah, benar. Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Dari jarak yang bahkan tak terhitung lagi seberapa jauh.

Senja, aku harus bagaimana menghadapinya? Haruskah aku mendekat? Tapi, bukankah matahari tak pernah mendekati bumi? Meski ia mencintainya? Bukankah mendekat sama halnya dengan menghancurkan?

Entahlah, Senja. Aku dibuat limbung karena perasaan. Hingga pada akhirnya aku psikosomatis menghadapinya. Dan lagi-lagi aku hanya mampu menyimpan segalanya. Ah benar, menyimpan rapat rasa yang ada di dalam kotak pandora. Yang bahkan aku tak tahu kelak akan benar-benar bertemu dengan dirinya? Atau bahkan dipertemukan dengan orang lain.

Senja, lagi-lagi aku kelimpungan. Akankah kubawa minggat perasaan ini sejauh-jauhnya? Atau kubiarkan saja hingga pada akhirnya perasaan ini musnah menjadi remah-remah.

Teruntuk kamu Penyuka Senja.
Dari aku yang mengagumimu.

Jakarta, 01 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 22 Januari 2016

Adaku Karenamu

Hai, Sayang! Apa kabar hati juga imanmu hari ini? Aku harap segalanya dalam keadaan baik dan Allah selalu menjagamu, Sayang. Kamu tahu ternyata aku lumpuh tanpamu. Kakiku terasa berat untuk melangkah. Karena pada kenyataannya kamu yang membersamaiku, Sayang.

Sayang, percayalah, aku terpekur sendiri di sini. Bersama luka yang kubawa minggat darimu. Mencoba mengubur segala laraku. Dan lagi, mencoba bangkit dari sakit yang nyatanya aku buat sendiri.

Maaf, Sayang. Aku benar-benar tak mampu menjauh darimu. Aku tak sanggup jika pada kenyataannya harus pergi dan tak kembali ke sisimu. Karena bagiku kita ibarat sepasang sepatu yang selalu beriringan meski kadang tak sama.

Dan lagi, Sayang! Mungkin memang aku harus belajar dari sekeluarga landak yang bertahan hidup di musim dingin. Ketika mereka menjauh, mereka akan kedinginan dan mati. Namun, mereka saling mendekat, untuk bertahan hidup. Meski pada kenyataannya mereka terluka akibat duri saudara mereka. Tapi, mereka tetap bertahan. Hingga nanti musim semi menyambut mereka.

Kamu tahu, Sayang! Rasanya cerita itu benar-benar membuka mata hatiku yang lagi-lagi di tutup keegoisan. Kamu tahu, bahwa sebenarnya dirimulah yang membuatku ada. Kamu pulalah yang menghebatkanku. Dan kamu juga yang menggandeng ketika aku mulai terpincang. Kamu yang membuatku ada.

Teruntuk kamu yang selalu aku rindukan.
Dari aku yang terpekur sendiri tanpamu.

Jakarta, ketika Transjakarta melaju di antara himpitan kendaraan lain.
Jum'at, 22 Januari 2016 || 18:30
@wayan_ayoe

Kamis, 21 Januari 2016

Untukmu

Boleh aku sedikit bercerita, Kawan?
Baiklah, langsung saja aku mulai.
Kawan, kamu tahu apa yang lebih menyakitkan dari sekadar patah hati bagiku?
Jika tidak, mendekatlah, Kawan. Maka akan aku tunjukkan padamu. Bahwa yang lebih menyakitkan dari sekadar patah hati adalah sebuah pengkhianatan seorang sahabat. Ah ya, mungkin bagimu aku terlalu mendramatisir.

Tapi, percayalah. Seorang sahabat yang memang mencintaimu karena-Nya, tak akan sedikitpun mengumpat di belakangmu, tak akan mencela ketika kita tak bersamanya, dan yang pasti tak akan memutar balikkan fakta agar ia terlihat baik di depan orang lain.

Seorang sahabat yang ikhlas mencintaimu akan selalu mengutarakan rasa ketidak nyamanannya denganmu secara langsung. Tanpa sedikitpun berbuat kebohongan dengan berpura-pura cinta padamu. Tanpa sedikitpun ia mengatakan kebohongan pada orang lain.

Ah, entahlah, Kawan. Mungkin inilah sebuah warna kehidupan. Akan selalu ada hitam dan putih. Akan selalu ada kebaikan dan keburukan. Semoga, kamu tak seperti yang aku sebutkan, Kawan. Percayalah, ikhlas itu seperti surah Al-Ikhlas, yang tak ada kata ikhlas di dalamnya. Ikhlas tak terlihat, tak tergambarkan. Ia hanya terasa didalam hati.

Teruntuk kamu yang sedang berbangga dengan segala kebohongan.
Dari aku yang terpekur di ruang sunyi.

Jakarta, ketika mendung menggelayuti dan gerimis mulai berjatuhan.
Jum'at, 22 Januari 2016
@wayan_ayoe

Rabu, 20 Januari 2016

Tanpa Judul

Hai, Sayang, Selamat pagi. Apa kabar pagimu hari ini? Aku harap Allah senantiasa menjagamu di sana, Sayang. Kamu tahu aku di sini terluka, Sayang. Bukan, bukan karenamu. Percayalah, ini karena aku sendiri yang mematahkannya.

Ah benar, aku sendiri yang melakukan hal bodoh itu. Kamu bilang ingin mengajakku kembali ke rumah (kita). Aku mau, Sayang. Tapi, kumohon beri aku waktu. Sebentar saja. Ada hati yang perlu untuk aku obati. Ada luka yang perlu aku tutup. Lagi (dan lagi) ini karena aku (sendiri) yang melukainya.

Sayang, percayalah, aku tak akan menyerah. Karena menyerah bukanlah sebuah pilihan, Sayang. Bukankah kita satu kesatuan? Seperti katamu, bukan? Bahwa banyak perbedaan dalam diri kita yang malah menyatukan.
•••
Teruntuk kamu yang sedang terluka karenaku.
Dari aku yang merasa telah melukaimu.

Jakarta, ketika rasa bersalah mulai menyelimuti hingga mendekap erat.
Kamis, 21 Januari 2016
@wayan_ayoe

#gradasirasa

Selasa, 19 Januari 2016

Soto Berdarah

"Soto Berdarah"
Oleh : Owop 3 (Citra, Kenti, Nica, Ayu, Happy, Diyah, Dkk)

"Pak, kuah sotonya banyakkin."
"Siap, neng."
Malam-malam begini menyeruput soto di warung pinggir jalan memang nikmat tuhan yang tak boleh kamu dustakan.

Sayangnya, seruputan terakhir memaksaku untuk diam-diam menyelinap ke balik tenda.

Di dalam tenda, wangi rempah seketika menyapa indera penciumanku. Dan seakan otomatis membuka kran air liurku. Slrp. Lidahku menyapu seisi mulut. Glek. Aku celingukan mencari mangkuk.

Nah itu dia. Tapi oops! Ada yang berbulu di samping tumpukan mangkuk.

"Aneh, benda apa itu?" gumamku dalam hati, sembari melangkahkan kaki mendekati benda itu.

Baru saja kakiku melangkah. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.

Deg

Rasanya aliran darahku mendesir. Mengalir melewati nadi-nadi. Jantungku berdegup kencang seakan terpompa dengan cepat.

"Cari apa, Neng?"
Fiiuuhh ... Kirain siapa. Suara penjual soto itu membuatku lega. Paling tidak aku tak lagi berpikiran macam-macam.

"Eh, enggak Pak ..."
Terpaksa aku kembali ke mangkuk soto yang sempat aku tinggalkan tadi. Meraihnya, dan..

Pyaaarr!

Jantungku seakan berhenti berdetak. Mangkuk soto tak lagi berupa soto. Namun tumpukan ceker segar penuh darah.

Bukan hanya ceker, tapi juga terselip beberapa jari.

EH???
"JARI MANUSIAAA!!!".

Aku buru-buru melihat bapak penjual soto dengan cemas. Ternyata benar, si bapak sedang memegang pisau yang berlumuran darah. Tertawa menyeringai menatapku.

"Mau nambah neng ?"

Terbelalak. Ini bukan soto langganan yang biasa aku datangi. Tanpa bisa menahan lagi, kuambil langkah kaki seribu.

Rasanya takut sekali untuk menengok ke belakang barang sebentar. Kaki-kakiku lemas luar biasa. Aku sampai lupa sakuku kosong. Haha, imajinasiku benar-benar hebat. Menaruh lalat di mangkuk sudah bukan caraku lagi.

AH!

Malam apa ini, mengapa begitu mencekam? Mengapa juga aku mengalami kejadian ini?

Aku menengok jam di pergelangan tanganku. Masih pukul 20:00 WIB. Tapi, kenapa bisa ada tukang soto seperti itu? Entahlah, otakku tak mampu berpikir jernih. Kalut, hingga membuat langkahku carut marut.

Aku pun memutuskan untuk duduk sejenak di trotoar. Napasku masih tersengal. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sudah sejauh apakah aku tadi berlari?

Aku mengernyit. Lalat yang tadi kuletakkan di mangkuk, kini berdengung di dalam kantong baju.

Saat kubuka sedikit kantongnya, tetiba ada suara, "Hehehehe....."

Aku membelalak mata dan kembali membekap kantong kemeja. Kemudian kusapu rambut dengan tangan kanan. Di ujung jalan, ada sinar yang berjalan mendekat.

Oh jangan sekarang!

Triiiit. Suara motor berdecit.

Terlihat seorang pria dengan jaket kulitnya. Helm full-face SNI warna hijau, dan motor ninja hijau.

"Neng, gojeknya, neng? Lagi promo nih malem-malem gini sepuluh ribu aja!" Ujarnya sembari mengedipkam sebelah mata.

Aku meringis. Apa-apaan, sih, nih orang?

Segera kaki kulangkahkan. Tiba di trotoar, seseorang melewatiku!

Deg! Berbaju putih panjang dengan rambut hitam tergerai. Wajahnya menunduk. Ia memegang sebuah nampan bertaplak di atas tangannya.

Aku merinding. Sial!

Lagi-lagi ilusi mata. Kugeleng-gelengkan kepalaku pelan, aku mulai kehilangan fokus.

"Antar saya ke Jalan Mewangi ya, Bang."

"Tadi katanya enggak mau." Si abang mengedip nakal. Aku hanya bisa memutar bola mata, sebal.

Semilir angin mengacak-acak rambutku, hawa dingin angin malam membuatku mengencangkan syal milikku.

Aku makin berkutat dengan imajinasiku. Entahlah. Ini terlalu rumit aku pikir.

"Neng," si abang ojek membuyarkan lamunanku. "Mau apa ke Mewangi, Neng? Kita ke KUA aja deh. Mau enggak, Neng?"

Aku melotot. Tak paham dengan maksud si abang. Kondisi seperti ini masih saja dia bercanda. Biarlah. Aku tak mau menanggapinya.

"Neng. Kenapa diam? Aku ini bagian dari masa lalu Neng lho. Neng enggak mau kembali merajut kisah kita?"

Ampun deh. Cuma mau makan soto di akhir minggu saja kok cobaan silih berganti begini.

Kutengok ke belakang tanpa menghiraukan si abang. Aku tak peduli lagi. Waktu terasa berjalan lambat sekali.

Dan sinar emas tetiba menyinariku. Memanggil-manggil.

Argh. Hanya mimpi. Fiuh..

Kukucek-kucek mata, dan ekor mataku menangkap sesuatu di atas meja sebelah kiriku. Apa itu?

Deg!

Sebuah mangkuk dengan....

Kukucek-kucek mataku lagi, tapi,

Deg!

Tanganku?

Aaaaaaaaahhhhhhh...

Nampak seseorang menyeringai di sampingku. Memegang tanganku mesra. Kemudian menyodorkan sesuatu.

"Neng, udah bangun? Nih, Mas udah bikinin soto hangat khusus buat kamu ..."

Whaaaatt??? Aku melongo.

Tukang ojek tadi...

Ah!
Lagi-lagi mimpi di dalam mimpi.

Aku ini seorang Oneironaut yang hanya ingin makan soto

-END-

Jangan Sampai Lupa Diri, Lantaran Sibuk Menilai

Jangan Sampai Lupa Diri, Lantaran Sibuk Menilai

Oleh : OWOP 3 ( Bunda Wahyu, Amin, Ari, Laila, Ayu)

Menghirup dalam-dalam udara perkebunan. Lalu menghembuskannya dalam bentuk tulisan. Mengalir...mengalir seperti terpaan udara senja. Menyibak pelepah dan dedaunan. Dan menambah kesadaran kalau di sini indah.

Tetapi tidak melulu. Ketika yang di kebun adalah orang yang memegang korek? Dengan segala kebusukan di dalam hatinya? Tak akan melihat keindahan seperti si pemegang pena. Omong kosong saja kalau dia ikut memedulikan sapaan angin. Karena yang ada di kepalanya hanya pengrusakan! Pembumihangusan!

Lalu, siapa yang hendak peduli padanya? Apakah si pemilik pena dengan segenap imajinasinya? Atau si pemilik korek yang tega membumihanguskan pepohonan tak bersalah?

Entahlah.

Aku hanya sibuk menekan tuts-tuts huruf pada layar ponsel. Ketika membaca sebuah sajak aku tersipu, bahagia. Namun sebaliknya, ketika aku membaca kabar sebuah pembakaran. Rasanya aku naik pitam, sok-sokan ikut mengutuk. Padahal baru saja sekeranjang sampah kulempar ke sungai di halaman belakang.

Memperhatikannya mengalir, menyusuri lorong sempit, sesekali ia terhenti, seakan ia memutar otak, dan menuai tanya, "Jalan mana lagi yang hendak kuambil? Lorong sempit semakin menyempit di depan. Tak kulihat celah sedikit pun yang dapat disusupi."

Kemudian terhenti. Menumpuk di satu titik. Entah apa yang dipikirkan oleh air, yang kutahu ia hanya terus mengalir. Ada bebatuan? Ia bergeser ke samping kanan-kiri, ketika sempit dengan celah kecil? Dia mengalir sedikit demi sedikit, membentuk antrian panjang. Namun, ketika tak ada celah. Ketika sudah dihambat oleh onggokan sampah. Apakah dia menyerah dan berhenti? Tidak! Dia tidak berhenti. Namun dia terus mengalir. Mencari jalan baru. Meluap.

Bumi sudah bersuara.
Tanda-tanda perang barata yuda sudah dimulai.

Ah sesak aku melihat dunia yang semakin abu-abu, entah siapa yang benar yang memegang korek apikah? Atau yang memegang penakah?

Entah siapa yang menjadi pahlawan di akhirnya.
Karena yang memegang korek bisa tampil berpura-pura menjadi pahlawan utk menutupi kesalahannya berdalih turut berduka cita.
Ah.....dunia ini membuat kulelah...
Entahlah....

Tapi tidak! Aku tak boleh mengeluh dan berhenti berharap. Aku sadar, masih ada tangan-tangan yang membantuku menyapa muara. Diambilnya sejumput demi sejumput sampah yang berserak. Ditanamnya pohon-pohon hijau untuk menguatkan tanggul-tanggulku. "Sahabatku hutan, ladang dan rawa-rawa. Jangan mematikan lilin harapan di hati kalian, karena jika lilin itu mati maka matilah semua kemungkinan kebaikan. Serulah nama Allah dalam dzikir-dzikir kalian. Mohonlah pada-Nya yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, agar dibukakan hati mereka, diringankan tangan mereka, dimudahkan usaha mereka menjaga dan melestarikan apa-apa yang telah ada."

Mulailah segala sesuatunya dari diri sendiri. Tumbuhkan rasa peduli terhadap sesama. Bukan, bukan untuk mencari nama di mata manusia. Tapi cukup di pandangan-Nya. Tak perlu pula mencari pujian sesama. Niatkan semua karena-Nya. Bukankah tugas kita menjaga semua pemberian-Nya?

Jumat, 15 Januari 2016

Luka Yang Tertinggal

I Tag You From Ari to Ayu

"Luka Yang Tertinggal"

"Bruuuaaaak...."

Bunyi hantaman mobil di depanku tiba-tiba membuatku terperanjat. Membuka memori ingatan masa lalu. Masih sangat jelas rasanya. Hantaman benda keras mengenai wajahku. Bekas luka kecelakaan kala itu. Bahkan hingga luka hati yang menyeruak menembus dimensi waktu.

"Kak, wooy. Ngelamun aja, Lu." suara Rini tiba-tiba mengagetkanku.

"Eh, anu... Itu Rin..." jawabanku yang gelagapan, membuat Rini makin bingung.

"Kak, kenapa selalu ngelamun sih kalo ada kecelakaan? Kakak masih inget kejadian waktu itu? Kakak, come on. Bangkit lah. Mau sampek kapan kayak gini terus, Kak? Aku sedih lihatnya." ujar Rini dengan wajah sendunya.

Kejadian waktu itu? Ah ya, waktu itu. Aku hampir mati karena perasaan. Luka yang kubuat sendiri hingga mengakar dalam diri. Luka yang bahkan tak hanya pada hati juga pada diri. Kejadian kala itu, tunangan yang gagal dalam waktu sekejap hanya karena sebuah perselingkuhannya. Dia mengkhianatiku. Tapi, Rini benar. aku tak mungkin terpekur dalam kubangan masa lalu. Bukankah lebih baik aku ambil pelajaran dari semua yang terjadi. Baiklah. Mungkin saat ini aku tak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Mencintai orang yang salah dan dengan cara yang salah.

Jakarta, 13 Januari 2016
Wayan Ayu W.

#ITagYou #Canberra #malamtantanganOWOP #StopWhisingStartWriting #gradasikata #penikmatkata

Senin, 04 Januari 2016

Tersenyumlah Dalam Luka

Malam ini di sudut ruangan ada yang bernyanyi, sebentar, bernyanyi? Sepertinya bukan. Ah ya, tentu bukan. Itu suara isak tangis yang menguarkan aroma perih hingga hatiku ikut ngilu mendengarnya. Suaranya lirih bahkan hampir tak terdengar, tapi jelas terasa pilunya di telinga. Kudekati dia, dan berkata padanya, "Sayang, usaplah air matamu. Hadapi kenyataan yang terjadi dengan senyuman. Juga sertakan Allah dalam setiap langkahmu."

Dia hanya tersenyum memandangku. Tapi, dari tatapannya aku melihat ada kepedihan yang tersembunyi. Dalam, bahkan sangat curam. Ada sakit yang coba disimpan sendiri, tanpa mau dia bagikan kepada orang yang disayangi. Ada getir yang coba ia lewati, meski sebenarnya langkahnya kian rapuh.

Lagi-lagi aku hanya mampu menatap nanar dirinya. Menghapus bulir air mata yang jatuh menderas, juga merebahkan kepalanya di pundakku. Karena aku tahu dia butuh bahu untuk menopang, tak hanya dirinya tapi juga sakitnya.

Dengan lirih kuucapkan padanya. "Sayang, kau akan baik-baik saja. Bukankah masalah hanya perantara sebuah kado terindah yang sedang disembunyikan-Nya? Bukankah kau punya Dzat Yang Maha Segalanya? Mengertilah, bahwa segalanya kan baik-baik saja. Jadikan ini sebagai ujian kesabaranmu. Dia tahu sebatas mana kemampuan hamba-Nya. Dan Dia tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya." Lantas, dia tersenyum kepadaku. Menatapku dengan hangat, juga mendekapku dengan erat.

Jakarta, 04 Januari 2016
Wayan Ayu Widiaratna