Senin, 16 November 2015

Tentang Rasaku

Kawan, boleh aku bercerita? Baiklah, tanpa kau jawab aku akan tetap bercerita. Kau tahu entah kenapa setelah bertahun-tahun ku coba menutup hati, rasa itu muncul lagi. Sejujurnya aku takut. Aku takut jika ternyata rasa ini berbalik arah hingga menyakitiku. Aku takut jika ternyata kegagalan lagi yang ku rasa. Aku takut, jika ternyata rasa ini hanya membuatku makin pilu. Aku takut, dengan segala ketakutan yang tiba-tiba muncul menghantuiku. Bahkan rasanya ketakutanku mengalahkan rasa rinduku padanya.

Kawan, kau tahu? Sejujurnya aku tak mengenalnya. Lucu rasanya. Tapi memang itu kenyataannya. Ya, aku hanya mengenal setiap goresan kata darinya. Aneh? Bagiku tidak. Karena bagiku makna dari setiap kata itu mengungkap siapa dia.

Sebentar, kau bilang aku harus mengenalnya? Hahaha. Jangankan untuk mengenal, sekadar menyapa saja aku tak punya nyali. Baiklah, aku mengakui. Disisi lain aku selalu mampu memberi semangat untuk orang lain. Tapi disisi lain aku rapuh. Bahkan untuk melangkah pun aku tak punya cukup nyali. Ah, ya... Aku sadar betul masih ada Allah Sang Pemilik Hati yang Maha membolak-balikkan hati hamba-Nya. Maka, dari sini cukup ku titipkan rasa itu lewat suam-suam doaku pada-Nya. Dari sini cukup ku mengadu di setiap sujud panjangku pada-Nya. Dari sini cukup ku ceritakan pada-Nya tentang siapa dia, di sepertiga malamku.

Sejujurnya ini sangat menyiksa, Kawan. Bahkan bagiku, lebih baik aku menelan pil pahit, bahkan sangat pahit. Agar rinduku ini meluruh. Hilang melebur dalam kepahitan, hingga rasa pahit itu tak terasa dalam kecapan. Tapi baiklah aku akan tetap sabar, sembari menata hati. Meski kelak ternyata bukan dia yang ku harapkan yang menjadi pendampingku. Meski ternyata Allah berkehendak lain akan semua pintaku. Aku tahu, bahkan sangat mengerti bahwa rencana dan ketentuan-Nya akan selalu berakhir dengan sebuah keindahan. Tapi, bolehkah aku sekadar berharap? Berharap waktu menjawab semua tanyaku. Dan berharap waktu menjadi penawar rasa rinduku.

Semarang, di saat rasa dalam dada berbaur menjadi satu.
17.11.15
-Wayan Ayu. W-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar