Senin, 30 November 2015

Cerita Siang Ini

Selamat siang, Kawan. Sepertinya kali ini sang surya menunjukkan kuasanya lagi, ya. Ku harap sore nanti senja juga muncul menampakkan dirinya. Menunjukkan bahwa ia dalam keadaan baik. Seperti yang ku harapkan. Kawan, terima kasih, kamu selalu bersedia berada disini, di sisiku. Meminjamkan bahumu untuk menopang sedihku yang bahkan mampu membuatku psikosomatis. Oh iya, kamu sudah siapkan hatimu bukan? Untuk apa? Untuk mendengar ceritaku (lagi), Kawan. Biar ku siapkan secangkir kopi untukku, juga cokelat untukmu. Mengapa cokelat? Baiklah, biar ku jelaskan. Ku seduhkan cokelat untukmu, agar kamu tak ikut serta menikmati rasa pahit ini, Kawan. Agar kamu tak ikut limbung merasakan peliknya hidup.

Terkadang, hidup memang keras ya, Kawan. Bagaimana tidak? Diluar sana banyak persaingan yang sering terjadi. Bahkan tak jarang hingga menyakiti satu sama lain. Ah, ku harap kamu tak mengalaminya, Kawan. Akhir-akhir ini banyak hal yang mengejutkanku. Ada yang datang tiba-tiba meminta solusi untuk masalah rumah tangganya. Yang bahkan aku tak mengerti harus memberi solusi seperti apa. Meski aku tahu betapa sulit berada di posisinya. Dan bahkan aku pernah mengalaminya sebagai korban atas rapuhnya sebuah pondasi rumah tangga. Adapula yang tiba-tiba datang meminta solusi atas percintaannya. Sedang, kamu tahu sendiri, Kawan. Masalah percintaanku saja aku tak mampu mengatasinya. Hahaha

Rasanya Dia selalu menghadirkan banyak kejutan dalam setiap perjalananku hingga di titik ini. Yah, setidaknya dengan hal-hal itu membuatku makin kuat juga makin siap menghadapi keadaan yang nantinya bisa saja ku alami. Bukankah begitu, Kawan? Terkadang aku menganggap hidup ini lucu. Bagaimana tidak? Kadang hal yang justru tak kita harapkan malah datang menghampiri kita. Merusak mimpi yang pernah kita rangkai. Juga mematahkan harapan yang pernah ada. Tapi, akan selalu ada hikmah didalamnya. Bukankah selalu butuh hujan untuk menghadirkan pelangi. Begitukan, Kawan?

Baiklah, sepertinya kita sudah terlalu lama duduk dan berbincang. Kamu boleh pulang sekarang. Dan kembali (lagi) esok jika kamu mau. Dan hatimu siap (pastinya). Terima kasih, kamu selalu sudi untuk menjadi pendengar yang baik, Kawan.

Semarang
(Selasa, 01 Desember 2015 || 13:00)
Gradasi Rasa

Minggu, 29 November 2015

Dan Aku Akan Tetap Menunggu

Dan aku akan tetap menunggu, meski pada kenyataannya kamu tak datang untuk menjemputku. Setidaknya, aku telah berusaha untuk menjadi tempat istirahatmu. Menyiapkan pundak ternyaman ketika kamu mulai lelah. Menciptakan rumah ternyaman ketika kamu ingin pulang.

Dan aku akan tetap menunggu, meski nyatanya kamu tak datang untuk sekedar mengetuk pintu rumah. Setidaknya, aku telah berusaha menjadi tempat singgahmu. Menyiapkan dua cangkir kopi untuk kita sesap bersama. Juga mendoakanmu di kala sunyi datang membungkus malam.

Dan aku akan tetap menunggu, meski nyatanya bukan kamu yang datang menjemputku. Setidaknya, aku telah belajar tentang arti menunggu. Dan, terima kasih telah mengisi ruang kosong di sini, di hatiku. Semoga kamu bahagia, dengan cinta yang kamu pilih.

Semarang, 30.11.15
Wayan Ayu. W

Jumat, 27 November 2015

Adalah Rasa

Ada lelah
yang mendesah
Ada resah
yang membuncah
Ada getar
yang terkapar

Ada cinta
yang meluka
Ada rindu
yang menderu
Ada sayang
yang merayang

Ada rasa yang tertahan
Rasa yang menghujam
Membuat heran
Membuat muram
Namun tertawa dalam diam
Ditelan doa di sepertiga

Semarang, di antara rasa yang merumitkan.

-Wayan Ayu. W-

Cerita Tentang Rasa

Assalamu'alaikum, Yah. Apa kabar? Ku harap ayah tetap sehat dan selalu sehat tepatnya. Ayah, meski pada kenyataannya kita terpisah jarak, ruang dan waktu. Aku ingin tetap bercerita padamu. Ini tentang rasaku, yang bahkan aku tak tahu dia mengetahuinya atau tidak. Yang jelas segalanya tetap kuserahkan pada Dia, Sang Pemilik Hati.

Ayah, kau tahu, putrimu sedang jatuh cinta (lagi). Tapi, kali ini bukan pada senja atau bahkan kopi. Tepatnya, pada dia. Pemuda di luar sana, yang sebenarnya aku pun tak mengenal jelas siapa dia. Lucu ya, Yah?

Tapi, memang ini realitanya. Entah dari mana datangnya. Bahkan, aku tak tahu pula bagaimana bisa seperti ini. Rasanya terlalu rumit, Yah. Pun, rasa ini datang dengan tiba-tiba. Tapi, Yah, aku tak tahu rindu ini layak untuk diperjuangkan atau bahkan harus ku lepaskan? Aku takut, Yah. Aku takut jika ternyata ada luka yang sama ketika aku menggantungkan bahagiaku pada manusia. Aku takut jika ternyata rasa kecewa (lagi) yang ku peroleh. Dan aku sangat takut jika pada akhirnya aku patah (lagi).

Sadarku, segala hal harusnya di gantungkan pada Dia Sang Pemilik Alam ini. Mungkin, memang lebih baik ku simpan ya, Yah. Rapat, serapat-rapatnya. Ku simpan di dalam kotak pandora. Lantas, ku buang kuncinya ke dasar laut. Agar dia tak sedikitpun tahu bahwa di sini, di hati ini, ada ruang untuknya. Pun, agar bisa menjagaku juga dirinya. Agar kita terlepas dari fitnah yang tak diinginkan. Lantas, cukup ku titipkan rinduku dalam suam-suam doa di sepertiga malam-Nya. Ku sematkan di setiap sujud panjang ku pada-Nya. Hingga Dia sendiri yang memberikan jawaban atas segala yang ku rasa.

28.11.15
Wayan Ayu. W

Senin, 16 November 2015

Tentang Rasaku

Kawan, boleh aku bercerita? Baiklah, tanpa kau jawab aku akan tetap bercerita. Kau tahu entah kenapa setelah bertahun-tahun ku coba menutup hati, rasa itu muncul lagi. Sejujurnya aku takut. Aku takut jika ternyata rasa ini berbalik arah hingga menyakitiku. Aku takut jika ternyata kegagalan lagi yang ku rasa. Aku takut, jika ternyata rasa ini hanya membuatku makin pilu. Aku takut, dengan segala ketakutan yang tiba-tiba muncul menghantuiku. Bahkan rasanya ketakutanku mengalahkan rasa rinduku padanya.

Kawan, kau tahu? Sejujurnya aku tak mengenalnya. Lucu rasanya. Tapi memang itu kenyataannya. Ya, aku hanya mengenal setiap goresan kata darinya. Aneh? Bagiku tidak. Karena bagiku makna dari setiap kata itu mengungkap siapa dia.

Sebentar, kau bilang aku harus mengenalnya? Hahaha. Jangankan untuk mengenal, sekadar menyapa saja aku tak punya nyali. Baiklah, aku mengakui. Disisi lain aku selalu mampu memberi semangat untuk orang lain. Tapi disisi lain aku rapuh. Bahkan untuk melangkah pun aku tak punya cukup nyali. Ah, ya... Aku sadar betul masih ada Allah Sang Pemilik Hati yang Maha membolak-balikkan hati hamba-Nya. Maka, dari sini cukup ku titipkan rasa itu lewat suam-suam doaku pada-Nya. Dari sini cukup ku mengadu di setiap sujud panjangku pada-Nya. Dari sini cukup ku ceritakan pada-Nya tentang siapa dia, di sepertiga malamku.

Sejujurnya ini sangat menyiksa, Kawan. Bahkan bagiku, lebih baik aku menelan pil pahit, bahkan sangat pahit. Agar rinduku ini meluruh. Hilang melebur dalam kepahitan, hingga rasa pahit itu tak terasa dalam kecapan. Tapi baiklah aku akan tetap sabar, sembari menata hati. Meski kelak ternyata bukan dia yang ku harapkan yang menjadi pendampingku. Meski ternyata Allah berkehendak lain akan semua pintaku. Aku tahu, bahkan sangat mengerti bahwa rencana dan ketentuan-Nya akan selalu berakhir dengan sebuah keindahan. Tapi, bolehkah aku sekadar berharap? Berharap waktu menjawab semua tanyaku. Dan berharap waktu menjadi penawar rasa rinduku.

Semarang, di saat rasa dalam dada berbaur menjadi satu.
17.11.15
-Wayan Ayu. W-

Kamis, 12 November 2015

Antara Kopi Dan Senja

Antara kopi dan senja
Entah apa alasannya
Bahkan aku belum mengerti pasti
Yang ku tahu keduanya selalu mampu memberi gradasi rasa yang serupa
Lewat kopi aku belajar apa arti hidup yang sesungguhnya
Pahit,
Getir,
Tapi pasti akan indah di waktu-Nya nanti
Sedang senja-Nya
Mampu menjadi penghilang lara
Penghapus duka
Menenggelamkan rasa kecewa
Lantas, berganti senyum yang merekah indah.

Semarang, 12.11.15
- Wayan Ayoe. W -

Senin, 09 November 2015

Perempuan Di Balik Layar

Adalah aku seorang petualang,
Yang bahkan tak tahu sampai kapan langkahku akan terus menapak,
Dan membiarkan langkahku bertemu dengan langkahmu,
Pun rasaku, kubiarkan tersimpan rapi tanpa perlu ku ungkap,
Lagi-lagi cukup menatapmu meski hanya dari balik layar,
Dan membiarkan senyumku tersimpul hangat melihatmu,
Meski aku tak tahu siapa dirimu sesungguhnya,
Ah, benar,
Aku hanya mampu mengenalmu lewat aksara yang kau goreskan,
Aku, hanya mampu mendoakanmu di sepertiga malamku,
Ku rapalkan lewat bait doaku pada-Nya.
Dan berharap Dia menjawab doaku pada saat yang tepat.

Lantas, apa kau melakukan hal yang sama tuan?

09.11.15
-Wayan Ayu. W-