Minggu, 27 Maret 2016

Senja dan Cita

Masih tentang cita
Ia tersusun rapi di sana
Terangkai sedemikian rupa
Meski nyatanya peluh yang meluruh kian terasa

Inikah perjuangan?
Yang memerlukan banyak perjalanan
Juga tak jarang rasa sakit tertahan
Bukankah segalanya memang membutuhkan pengorbanan?

Lihatlah, di sana Sang Senja tersenyum menyapa
Memberi secercah semburat cahaya
Berpendar menghias angkasa
Dan memberi kehangatan kepada dunia
Tak terkecuali kita.

Jakarta, 27 Maret 2016
Wayan Ayu W.

Sabtu, 26 Maret 2016

Tentang Sebuah Perjuangan

Untuk hati yang sedang rapuh
Masihkah kau terpekur dan terus melenguh
Sedang masih ada yang harus ditempuh
Ada pula yang perlu kau kayuh

Kau lihat, di atas sana
Sang awan membumbung tinggi di angkasa
Menghias indah seperti permata
Berarak lepas namun tertata

Sayang, bukankah sama dengan mimpimu
Yang sekian lama dirajut dengan peluh
Hingga tak sekali kau terjatuh
Lantas, akankah kau biarkan ia berlalu?

Rabu, 16 Maret 2016

Tanya Yang Belum Terjawab

Sebelum membaca Tanya Yang Belum Terjawab yuk baca seriMisteri Gang Bayangan Misteri Gang Bayangan (2) https://goo.gl/5qyVNz

Pandanganku membuyar, tubuhku terhempas ke dalam ruangan pengap yang tidak jelas karena gelap. Sembari mencoba bangkit, perlahan kukerjapkan mata ini untuk mencari sumber cahaya. Tapi, hanya gelap yang nampak.

Tunggu, ada seberkas cahaya. Tapi, darimana? Bahkan tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan di sini. Hanya ada sebuah kursi dan meja yang teronggok di ruang ini. Tapi, bukankah tadi sepatu Ran berhenti di atas lorong ini. Lorong pengap yang tak berpenghuni.

Baiklah sepertinya aku harus menelusuri lorong ini. Menembus ruang pengap dengan segala rasa yang tak karuan.

Braaak....!

Bunyi itu. Tapi, bunyi apa? Lantas darimana pula datangnya bunyi itu?

“Oh, Tuhan. Andai saja bisa, aku ingin meminjam pintu kemana saja milik Doraemon agar mampu mencari gadis kecilku tanpa perlu waktu lama.”

Braaak....!

Bunyi itu lagi. Degup jantungku semakin kuat. Napasku semakin tercekat. Ran, apa yang terjadi dengan gadis kecilku. Apa dia baik-baik saja. Tuhan, aku mohon jangan biarkan dia melukai gadis kecilku.

Ah, pintu. Ran-ku pasti ada di dalam sana. Langkah kaki ini semakin kupercepat sembari mangatur napas yang hampir tercekat. Kuintip suasana ruangan dari lubang kecil di gagang pintu.

Ran, ah, itu memang dia. Tapi, siapa yang bersamanya itu? Seorang wanita. Yang benar saja. Ran bersama wanita. Tapi siapa? Apa pula yang ia inginkan?

Oh Tuhan pikiranku makin tak karuan. Rasa cemas semakin menjalari tubuhku. Kakiku makin tak mampu digerakkan. Siapa wanita itu? Apa yang ia inginkan. Lantas mengapa ia menculik semua orang yang lewat di gang kecil itu.

Oh Tuhan, pertanyaan ini semakin memburu untuk segera terjawab. Ingin rasanya kubiarkan tangan ini membuka gagang pintu dan menghambur masuk ke dalam.

Tapi, tunggu. Mengapa Ran tak menangis? Malah kulihat ia tertawa riang di dalam sana.

Bruaaak...!

Pintu yang aku gunakan untuk melihat kondisi di dalam tiba-tiba terbuka. Tubuhku terhempas tepat di bawah kaki wanita itu.

“Siapa kamu?” tanya wanita itu sambil memandang lekat-lekat wajahku.

Belum sempat aku jawab Ran sudah memotong pertanyaan wanita paruh baya itu.

“Kakak....” sahut Ran sembari menghambur ke pelukku.

“Ran, bagaimana keadaanmu?” tanyaku sembari mengecek kondisi Ran mulai dari rambut hingga ujung kakinya.

“Aku baik-baik saja, Kak. Malah tante ini ngajarin aku main bekel lho.” Jawab Ran sembari tertawa renyah dengan ciri khasnya.

“Benarkah? Tapi mengapa kamu meninggalkan sepatumu, Ran? Kakak tahu kamu bukan anak yang ceroboh.” Ujarku sembari mengernyitkan dahi meminta penjelasan dari gadis kecil di depanku.

“Maaf, boleh aku menyela?” sahut wanita paruh baya itu.

“Sebenarnya memang aku yang melakukannya. Tapi, aku tidak bermaksud menculik. Atau bahkan menjual dan membunuh. Aku hanya ingin melindungi adikmu. Juga mereka.” Jelas wanita itu.

Tapi bagaimana bisa? Bukankah orang-orang yang hilang di gang sempit itu selalu tak kembali? Lagi-lagi pertanyaan itu menyeruak begitu saja. Pertanyaan yang masih belum terpecahkan.

Tunggu cerita selanjutnya di ceritamilikhappy.tumblr.com

Selasa, 08 Maret 2016

Gerhana

Katamu Gerhana itu menyakitkan. Karena ia melahap habis Sang Surya. Tapi, bagiku tidak. Ia hanya meminta sedikit ruang. Mengisi yang semula putih menjadi kelam.

Katamu, hadirnya meresahkan. Bagiku, semeresahkan apapun, ia tetap harus hadir. Mengisi yang semula kosong. Layaknya coretan pada kertas. Hingga menjadi peretas.

Katamu Gerhana hanya meninggalkan luka. Bagiku, luka mampu mengajarkan banyak hal. Karena terkadang kita butuh untuk terluka. Agar kita tahu sakit itu seperti apa.

(Jakarta, 9 Maret 2016 || 00:00 )
Wayan Ayu Widiaratna

#MalamNarasiOwop
#Gerhana