Jumat, 09 Oktober 2015

Tentang Secangkir Kopi Dan Penantian


Malam semakin pekat, mata sudah mulai merapat. Padahal secangkir kopi telah dirasa. Masih sama. Pahit. Sendokan gula telah ditambahkan untuk menetralisir rasa pahitnya. Tapi memang rasa kopi tak pernah bohong. Ia akan senantiasa jujur pada lidah, melalui pekat dan pahit yang ia berikan. Tanpa perlu lagi berbohong. Sama halnya dengan ruang kosong yang masih menunggu penghuni tetapnya, bukan penghuni yang sekedar singgah. Meski sadar terasa pahit, tapi tetap dinikmati. Kopi dan penantian, keduanya serupa. Pahit tapi mampu menjadi candu.

Salam,
@wayan_ayoe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar