Bu, boleh aku bercerita? Ini tentang sebuah perasaan yang tiba-tiba hadir menggelayuti bahkan menghantuiku, setiap saat. Entahlah, aku tak berani menafsirkan ini. Rasanya sudah yang kesekian kali aku jatuh lagi, Bu. Tapi, kali ini aku bahkan tak berani mengungkapkannya. Hanya bersembunyi rapat-rapat di balik layar telepon genggamku. Tersenyum sendiri bak orang yang kehabisan akal. Memandang semu dirinya. Lagi-lagi dibuat larut dalam bait aksara yang ia goreskan. Meski kutahu itu bukan untukku tapi aku bahagia. Konyol memang. Tapi entahlah, aku tak mampu berbuat lebih banyak untuk hal ini.
Bu, rasanya ini hanya ilusi bagiku. Tapi entahlah, Bu, ilusi atau bukan pun saru di mataku. Hingga mematahkan ku lagi dan lagi. Seperti apa kata Sapardi Djoko Darmono tentang "Hujan Bulan Juni". Aku tak punya nyali, padahal aku tahu dulu Ibu Khadijah yang terlebih dahulu menghampiri Rasulullah. Tapi, Bu, aku bukan beliau. Aku hanya sesosok wanita yang mencoba bangkit setelah berkali-kali badai menghantam dan menjatuhkanku dalam bahkan teramat tenggelam. Biar, Bu, cukup aku merapal doa untuk dia di setiap sepertiga malam-Nya. Menitipkan rasa ini pada Dia Sang Pemilik Hati. Agar lebih terjaga pun lebih menjaganya.
Bu, rasanya ini hanya candaan semata. Bagaimana tidak? Aku sendiri tak tahu mengapa tiba-tiba Dia hadirkan rasa ini dalam diriku. Kautahu, Bu, aku tak ingin lagi terjerembab dalam lubang yang salah. Aku tak ingin air mata ini menguar lagi. Yang ku inginkan semua memang karena-Nya semata bukan lagi napsu yang berkuasa. Aku tak ingin mengganggunya, Bu, biar saja cukup dalam diam tanpa perlu bersua dan mengungkap rasa ini. Biarkan saja larut dalam senja yang berganti malam. Biar Dia yang menggerakkan semuanya. Tanpa sedikit pun ku rusak skenario-Nya. Aku bahagia, Bu, sangat bahagia. Meski nantinya kita tak mampu bersama sekadar menikmati semburat senja ditemani secangkir kopi hitam pekat. Aku bahagia meski harus diam memendam semua rasa ini sendiri.
Semarang, 31.10.15
@wayan_ayoe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar