Sabtu, 31 Oktober 2015

Cinta Dalam Diam

Bu, boleh aku bercerita? Ini tentang sebuah perasaan yang tiba-tiba hadir menggelayuti bahkan menghantuiku, setiap saat. Entahlah, aku tak berani menafsirkan ini. Rasanya sudah yang kesekian kali aku jatuh lagi, Bu. Tapi, kali ini aku bahkan tak berani mengungkapkannya. Hanya bersembunyi rapat-rapat di balik layar telepon genggamku. Tersenyum sendiri bak orang yang kehabisan akal. Memandang semu dirinya. Lagi-lagi dibuat larut dalam bait aksara yang ia goreskan. Meski kutahu itu bukan untukku tapi aku bahagia. Konyol memang. Tapi entahlah, aku tak mampu berbuat lebih banyak untuk hal ini.

Bu, rasanya ini hanya ilusi bagiku. Tapi entahlah, Bu, ilusi atau bukan pun saru di mataku. Hingga mematahkan ku lagi dan lagi. Seperti apa kata Sapardi Djoko Darmono tentang "Hujan Bulan Juni". Aku tak punya nyali, padahal aku tahu dulu Ibu Khadijah yang terlebih dahulu menghampiri Rasulullah. Tapi, Bu, aku bukan beliau. Aku hanya sesosok wanita yang mencoba bangkit setelah berkali-kali badai menghantam dan menjatuhkanku dalam bahkan teramat tenggelam. Biar, Bu, cukup aku merapal doa untuk dia di setiap sepertiga malam-Nya. Menitipkan rasa ini pada Dia Sang Pemilik Hati. Agar lebih terjaga pun lebih menjaganya.

Bu, rasanya ini hanya candaan semata. Bagaimana tidak? Aku sendiri tak tahu mengapa tiba-tiba Dia hadirkan rasa ini dalam diriku. Kautahu, Bu, aku tak ingin lagi terjerembab dalam lubang yang salah. Aku tak ingin air mata ini menguar lagi. Yang ku inginkan semua memang karena-Nya semata bukan lagi napsu yang berkuasa. Aku tak ingin mengganggunya, Bu, biar saja cukup dalam diam tanpa perlu bersua dan mengungkap rasa ini. Biarkan saja larut dalam senja yang berganti malam. Biar Dia yang menggerakkan semuanya. Tanpa sedikit pun ku rusak skenario-Nya. Aku bahagia, Bu, sangat bahagia. Meski nantinya kita tak mampu bersama sekadar menikmati semburat senja ditemani secangkir kopi hitam pekat. Aku bahagia meski harus diam memendam semua rasa ini sendiri.

Semarang, 31.10.15
@wayan_ayoe

Minggu, 25 Oktober 2015

Untukmu, Tuan!

Tuan, tolong lihat kami!!!
Kalian membuka mata tapi seakan tak melihat kami.
Kalian membuka telinga tapi seakan tak mendengar kami.
Berpura tuli, untuk perut kalian sendiri.
Berpura buta, dengan membuat neraka bagi kami.

Tuan, masihkah kalian punya hati??
Atau ternyata hati kalian telah membatu???
Keras,
Bisu,
Tuli,
Atas segala yang kalian lakukan.

Kau ciptakan neraka dunia bagi kami.
Perlahan tapi pasti.
Kau bunuh kami dengan caramu.
Dengan segala keserakahanmu kau buat alam ini murka.

Lagi, bahkan kau tak terlihat bersalah.
Lari, tunggang langgang meninggalkan kami.
Lantas, kau biarkan kami merintih menahan luka.
Kau buat kami menangis bisu tanpa suara.

Tuan, kau ciptakan kobaran api ini.
Kau timbulkan asap pekat menyesakkan dada.

Lihat tuan!!!
Masih sama,
Tak berubah,
Kabut pekat terlihat angkuh mengangkasa.
Si jago merah tak lagi takluk pada guyuran air.
Bahkan seolah sang bayu berkuasa penuh menyebarkannya.

Tuan, biarkan kami hidup.
Jangan lagi kalian porak porandakan alam ini.

25.10.15
-Wayan Ayu Widiaratna-

#Malam_Narasi_Owop

Senin, 19 Oktober 2015

Perihal Rindu

Perihal rindu,
Bagiku cukup aku menikmati serpihan jingga yang tersisa di cakrawala hingga membentuk siluet.
Tanpa perlu menyentuh, cukup memandangnya dari jauh saja.
Karena dengan menyentuhnya sama saja aku membunuh diriku sendiri.
Membatikkan luka yang digoreskan oleh tanganku sendiri.

Perihal rindu,
Bagiku cukup aku menikmati desiran angin yang berhembus di malam hari maka rinduku akan terbalas.
Tanpa perlu aku umbar keluhan pada angin.
Karena angin hanya akan berlalu dan keluhku hanya akan menjadi debu.

Perihal rindu,
Bagiku cukup aku ceritakan pada Tuhan di sepertiga malam agar rindu ini tetap terjaga.
Agar bait-bait doaku melesat ke langit malam, diaminkan oleh malaikat-Nya.
Kemudian dikabulkan pada waktu yang tepat, bersama orang yang tepat.

Lantas siapa? Entahlah, bahkan hingga saat ini aku masih tak tahu jelas siapa dia.

Semarang, 19 Oktober 2015
-Wayan Ayu-

Jumat, 09 Oktober 2015

Tentang Secangkir Kopi Dan Penantian


Malam semakin pekat, mata sudah mulai merapat. Padahal secangkir kopi telah dirasa. Masih sama. Pahit. Sendokan gula telah ditambahkan untuk menetralisir rasa pahitnya. Tapi memang rasa kopi tak pernah bohong. Ia akan senantiasa jujur pada lidah, melalui pekat dan pahit yang ia berikan. Tanpa perlu lagi berbohong. Sama halnya dengan ruang kosong yang masih menunggu penghuni tetapnya, bukan penghuni yang sekedar singgah. Meski sadar terasa pahit, tapi tetap dinikmati. Kopi dan penantian, keduanya serupa. Pahit tapi mampu menjadi candu.

Salam,
@wayan_ayoe

Berkaca Sebelum Berkata

Sering kali kita mendengar atau malah kita sendiri yang mengkritik kinerja pemerintahan, seolah pemerintah sekarang itu banyak melakukan kejahatan atau mendzolimi dan gak layak memimpin banyak orang. Kita seakan menjadi hakim dan selalu benar. Padahal kita sendiri belum tentu mampu memimpin banyak orang. Bisa jadi kita sendiri melakukan kejahatan itu tanpa disadari tapi malah sering lempar batu sembunyi tangan.

Pasti pada bingung kan kita jahatnya dimana? Kejahatan apa?

Oke kali ini saya uraikan maksud kejahatan disini. Contohnya nih kita mengkritik pemerintah yang gak becus ngurus semua rakyatnya. Nah kita sering melihat orang menerobos lampu merah entah dia buta warna atau mungkin emang sengaja, bahkan tanpa disadari kita sendiri sengaja nerobos dengan alasan biar cepet, atau mungkin lagi buru-buru. Padahal nih kalo dipikir pakek logika itu sama aja dengan korupsi loh!

"Kok bisa?"
Ya bisa lah, wong udah ngambil hak orang lain. Seharusnya orang lain yang jalan tapi malah kita nerobos buat bisa jalan.

"Ih, tapi kan cuma hal kecil"

Come on guys semua kejahatan itu berawal dari hal kecil.
Bapak saya bilang "Kebohongan yang tadinya kecil itu akan berubah jadi besar jika dibiasakan".

Sebabnya karena terbiasa, yah contohnya itu tadi kita biasa berbuat hal-hal yang melanggar norma.

Padahal kita tahu akibatnya itu tuh gak cuma terjadi pada diri kita sendiri tapi ke orang banyak.

Contoh lagi nih "Perihal Buang Sampah Sembarangan"

Kita se-enaknya buang sampah di sembarang tempat, giliran sampah numpuk trus banjir, lagi-lagi nyalahin pemerintah yang gak becus ngurusin drainase. Padahal kita sendiri yang bikin semuanya runyam.

Trus ada lagi nih, kasus kayak gini. Ada oknum buang sampah pas lagi di jalan trus dari dalem mobil dilempar keluar, abis itu nutupin wajah pengendara motor atau bahkan pengendara sepeda.  Yang ada bisa nabrak kan? Trus gimana? Pasti jenengen yang ngebuang berdalih gak ada tempat sampah.

Hadeeh, lagi-lagi alasan. Padahal kalo kita pandai itu sampah bisa simpen dulu di dalam saku, kalo gak ada saku di simpen di tas kalo udah nemu tempat sampah baru lah di buang di tempat sampah.

Kadang saya juga mikir, apa gak capek selalu nyalahin orang lain tanpa instropeksi diri?

Ayolah jangan jadi rakyat yang selalu menyalahkan pemerintah, lha wong rakyat Indonesia itu jumlahnya buaaaanyak banget. Sedangkan pemerintahnya bisa di itung jari kali ya. Pasti kelimpungan lah, apalagi rakyatnya banyak yang "Se-enak'e dewe" dan gak banyak yang punya rasa sadar diri.

Cobalah jadi rakyat yang cerdas dengan mengikuti aturan yang telah ditentukan, tanpa kita selalu menyalahkan pemerintah. Saya juga pernah baca di artikel kalo sosok pemimpin itu cerminan rakyatnya. Kalo rakyatnya suka korupsi ya pemimpinnya pasti korupsi juga kan.

Allah berfirman dalam surat An-Nisaa:59:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوااللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِيالْأَمْرِ مِنْكُمْ“
Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada rasul dan ulil amri kalian.”

Rasulullah juga bersabda :

,مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa yang melihat pada pemimpinnya suatu perkara ( yang dia benci ), maka hendaknya dia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah satu jengkal saja kemudian dia mati,maka diamati dalam keadaan jahiliyyah.”(HR. Bukhari)

Tuh kan, udah di jelaskan sama Rosulullah,

So, please be smart civilians dan jangan nilai seseorang dari sisi buruknya. Mungkin kita hanya mampu melihat dari jarak jauh. Tapi setidaknya kita berusahalah untuk berfikir positif, mungkin pemimpin kita sedang memperjuangkan yang terbaik untuk kita. Kita mah khusnudzon aja pokoknya jangan lupa mendoakan juga. Trus jangan lupa juga kita wajib buat sadar diri guys^^

Selasa, 06 Oktober 2015

Aku Mencintaimu

Aku mencintaimu, aku mencintai kamu yang mencintai-Nya.
Seperti aku yang mencintai senja.
Tapi, apalah dayaku?
Aku tak punya banyak cara untuk mendapatkanmu.
Aku tak mampu untuk sekedar menyapa.
Aku tak mampu untuk sekedar menatapmu.
Bahkan aku tak mampu untuk sekedar melemparkan senyum padamu.
Yang lebih parah lagi aku tak tahu siapa kamu.
Aku hanya mampu menitipkan rinduku untukmu pada-Nya melalui bait-bait doaku.
Yang aku tahu, kau akan datang di saat Allah menggerakkan hatimu untukku.
Kau akan datang di saat Dia tahu bahwa aku telah mampu melengkapi mu.
Pun sebaliknya.
Kau akan datang di saat Dia tahu bahwa ini waktu yang tepat untuk kita.
Beriringan membangun jalan menuju surga-Nya.

Semarang, 06 Oktober 2015
@wayan_ayoe

Senin, 05 Oktober 2015

Stop Bully!!!

Pernah ngerasain dibully? Atau bahkan jadi orang yang ngebully? Trus gimana perasaannya?
Nah, di sini saya bakal ngejabarin gimana sakitnya perasan orang yang dibully. Wkwkwkwk ciee pengalaman 😅

Nah menurut kalian dibully itu rasanya gimana sih? Sakit?? Sakiiiit bagett??? Trus kenapa masih doyan ngebully orang lain?

"Kita kan cuma guyon". 😒 Eiitss, yakin nih kalo bully itu cuma sekadar guyonan? Coba cek lagi deh, tanya sama si korban gimana perasaan mereka sesungguhnya?

Apalagi kalo korbannya dibully di depan orang banyak, di tempat umum dan dibuat malu. Beh!!! Kan sakit.

Notabene-nya orang yang kalian bully itu pasti malu, sedih, tertekan meskipun mereka juga ikut senyum, tapi itu hanya senyum kepedihan.

Sedih? Udah pasti. Malu? Apalagi. Ngerasa diremehin? Iyaa banget Hikss...

Terus kalo udah gini gimana dong? Gampang, caranya dengan sedikit lebih peka terhadap perasaan seseorang. And Stop Bullying.

Mau dihargai yah kita harus menghargai, mau dimengerti yah kita kudu mengerti, Live is So Simple.