Sedalam inikah rasanya? Rasa yang bertahun-tahun tersimpan. Bahkan, kukunci rapat pintunya. Agar tak sembarang orang masuk begitu saja tanpa mengetuknya. Juga agar terjaga hingga nanti tiba waktunya.
Tapi, hanya dalam hitungan waktu. Pintu itu terbuka (lagi). Ada yang masuk begitu saja. Tanpa salam, juga sapa. Meluluhlantakkan yang telah ditata dengan rapi, hingga menjadi berserakkan lagi.
Mungkin memang ini salahku, membiarkannya masuk tanpa permisi. Lantas, tiba-tiba saja pergi tanpa pamit. Memorak-porandakan segalanya, hingga tak berbentuk. Mematahkan sepotong hati yang telah rapuh. Hingga rasanya aku tak tahu (lagi) rapuh, patah, juga remuk itu seperti apa.
Mungkin memang benar, ketika kita belum siap untuk perkara cinta dan perasaan. Ada baiknya kita kunci rapat-rapat ruang hati ini. Lantas, kita buang kuncinya ke dasar laut. Hingga suatu saat nanti ada yang menemukannya tanpa perlu mencarinya. Seperti gembok yang bertemu dengan kuncinya. Sepasang yang tak akan tertukar ketika Dia telah menentukannya.
Jakarta
(Kamis, 24 Desember 2015 || 00:46 WIB)
Wayan Ayu W.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar