Minggu, 31 Januari 2016

Titip Rinduku Pada Senja

Hai, Senja. Apa kabarmu? Lama rasanya aku tak menyapamu. Mengamatimu lamat-lamat di sepanjang petang. Menyaksikan sinarmu yang mulai melebur bersama munculnya rembulan. Menikmati wajahmu yang teduh dan sangat meneduhkan. Juga tak lupa bercerita tentang setiap gradasi rasaku.

Senja, kamu tahu? Entah bagaimana caranya aku menyimpan rasa untuknya. Meski pada kenyataannya aku bahkan belum benar-benar bertemu dengannya. Tapi, ketahuilah, Senja. Aku bisa melihatnya, melihat ke dua bola matanya yang meneduhkan. Senyumnya yang sangat menawan, rambutnya yang hitam legam, lesung pipit pada pipinya, juga hidung mancungnya.

Senja, aku bahkan tak tahu. Apakah ini yang dinamakan diaroma rasa? Apakah ini yang dinamakan jatuh hati? Apakah ini yang dinamakan cinta? Tapi, Senja. Rasanya menyakitkan. Bagaimana tidak? Jika pada kenyataannya aku tak benar-benar melihatnya secara langsung. Ah, benar. Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Dari jarak yang bahkan tak terhitung lagi seberapa jauh.

Senja, aku harus bagaimana menghadapinya? Haruskah aku mendekat? Tapi, bukankah matahari tak pernah mendekati bumi? Meski ia mencintainya? Bukankah mendekat sama halnya dengan menghancurkan?

Entahlah, Senja. Aku dibuat limbung karena perasaan. Hingga pada akhirnya aku psikosomatis menghadapinya. Dan lagi-lagi aku hanya mampu menyimpan segalanya. Ah benar, menyimpan rapat rasa yang ada di dalam kotak pandora. Yang bahkan aku tak tahu kelak akan benar-benar bertemu dengan dirinya? Atau bahkan dipertemukan dengan orang lain.

Senja, lagi-lagi aku kelimpungan. Akankah kubawa minggat perasaan ini sejauh-jauhnya? Atau kubiarkan saja hingga pada akhirnya perasaan ini musnah menjadi remah-remah.

Teruntuk kamu Penyuka Senja.
Dari aku yang mengagumimu.

Jakarta, 01 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 22 Januari 2016

Adaku Karenamu

Hai, Sayang! Apa kabar hati juga imanmu hari ini? Aku harap segalanya dalam keadaan baik dan Allah selalu menjagamu, Sayang. Kamu tahu ternyata aku lumpuh tanpamu. Kakiku terasa berat untuk melangkah. Karena pada kenyataannya kamu yang membersamaiku, Sayang.

Sayang, percayalah, aku terpekur sendiri di sini. Bersama luka yang kubawa minggat darimu. Mencoba mengubur segala laraku. Dan lagi, mencoba bangkit dari sakit yang nyatanya aku buat sendiri.

Maaf, Sayang. Aku benar-benar tak mampu menjauh darimu. Aku tak sanggup jika pada kenyataannya harus pergi dan tak kembali ke sisimu. Karena bagiku kita ibarat sepasang sepatu yang selalu beriringan meski kadang tak sama.

Dan lagi, Sayang! Mungkin memang aku harus belajar dari sekeluarga landak yang bertahan hidup di musim dingin. Ketika mereka menjauh, mereka akan kedinginan dan mati. Namun, mereka saling mendekat, untuk bertahan hidup. Meski pada kenyataannya mereka terluka akibat duri saudara mereka. Tapi, mereka tetap bertahan. Hingga nanti musim semi menyambut mereka.

Kamu tahu, Sayang! Rasanya cerita itu benar-benar membuka mata hatiku yang lagi-lagi di tutup keegoisan. Kamu tahu, bahwa sebenarnya dirimulah yang membuatku ada. Kamu pulalah yang menghebatkanku. Dan kamu juga yang menggandeng ketika aku mulai terpincang. Kamu yang membuatku ada.

Teruntuk kamu yang selalu aku rindukan.
Dari aku yang terpekur sendiri tanpamu.

Jakarta, ketika Transjakarta melaju di antara himpitan kendaraan lain.
Jum'at, 22 Januari 2016 || 18:30
@wayan_ayoe

Kamis, 21 Januari 2016

Untukmu

Boleh aku sedikit bercerita, Kawan?
Baiklah, langsung saja aku mulai.
Kawan, kamu tahu apa yang lebih menyakitkan dari sekadar patah hati bagiku?
Jika tidak, mendekatlah, Kawan. Maka akan aku tunjukkan padamu. Bahwa yang lebih menyakitkan dari sekadar patah hati adalah sebuah pengkhianatan seorang sahabat. Ah ya, mungkin bagimu aku terlalu mendramatisir.

Tapi, percayalah. Seorang sahabat yang memang mencintaimu karena-Nya, tak akan sedikitpun mengumpat di belakangmu, tak akan mencela ketika kita tak bersamanya, dan yang pasti tak akan memutar balikkan fakta agar ia terlihat baik di depan orang lain.

Seorang sahabat yang ikhlas mencintaimu akan selalu mengutarakan rasa ketidak nyamanannya denganmu secara langsung. Tanpa sedikitpun berbuat kebohongan dengan berpura-pura cinta padamu. Tanpa sedikitpun ia mengatakan kebohongan pada orang lain.

Ah, entahlah, Kawan. Mungkin inilah sebuah warna kehidupan. Akan selalu ada hitam dan putih. Akan selalu ada kebaikan dan keburukan. Semoga, kamu tak seperti yang aku sebutkan, Kawan. Percayalah, ikhlas itu seperti surah Al-Ikhlas, yang tak ada kata ikhlas di dalamnya. Ikhlas tak terlihat, tak tergambarkan. Ia hanya terasa didalam hati.

Teruntuk kamu yang sedang berbangga dengan segala kebohongan.
Dari aku yang terpekur di ruang sunyi.

Jakarta, ketika mendung menggelayuti dan gerimis mulai berjatuhan.
Jum'at, 22 Januari 2016
@wayan_ayoe

Rabu, 20 Januari 2016

Tanpa Judul

Hai, Sayang, Selamat pagi. Apa kabar pagimu hari ini? Aku harap Allah senantiasa menjagamu di sana, Sayang. Kamu tahu aku di sini terluka, Sayang. Bukan, bukan karenamu. Percayalah, ini karena aku sendiri yang mematahkannya.

Ah benar, aku sendiri yang melakukan hal bodoh itu. Kamu bilang ingin mengajakku kembali ke rumah (kita). Aku mau, Sayang. Tapi, kumohon beri aku waktu. Sebentar saja. Ada hati yang perlu untuk aku obati. Ada luka yang perlu aku tutup. Lagi (dan lagi) ini karena aku (sendiri) yang melukainya.

Sayang, percayalah, aku tak akan menyerah. Karena menyerah bukanlah sebuah pilihan, Sayang. Bukankah kita satu kesatuan? Seperti katamu, bukan? Bahwa banyak perbedaan dalam diri kita yang malah menyatukan.
•••
Teruntuk kamu yang sedang terluka karenaku.
Dari aku yang merasa telah melukaimu.

Jakarta, ketika rasa bersalah mulai menyelimuti hingga mendekap erat.
Kamis, 21 Januari 2016
@wayan_ayoe

#gradasirasa

Selasa, 19 Januari 2016

Soto Berdarah

"Soto Berdarah"
Oleh : Owop 3 (Citra, Kenti, Nica, Ayu, Happy, Diyah, Dkk)

"Pak, kuah sotonya banyakkin."
"Siap, neng."
Malam-malam begini menyeruput soto di warung pinggir jalan memang nikmat tuhan yang tak boleh kamu dustakan.

Sayangnya, seruputan terakhir memaksaku untuk diam-diam menyelinap ke balik tenda.

Di dalam tenda, wangi rempah seketika menyapa indera penciumanku. Dan seakan otomatis membuka kran air liurku. Slrp. Lidahku menyapu seisi mulut. Glek. Aku celingukan mencari mangkuk.

Nah itu dia. Tapi oops! Ada yang berbulu di samping tumpukan mangkuk.

"Aneh, benda apa itu?" gumamku dalam hati, sembari melangkahkan kaki mendekati benda itu.

Baru saja kakiku melangkah. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.

Deg

Rasanya aliran darahku mendesir. Mengalir melewati nadi-nadi. Jantungku berdegup kencang seakan terpompa dengan cepat.

"Cari apa, Neng?"
Fiiuuhh ... Kirain siapa. Suara penjual soto itu membuatku lega. Paling tidak aku tak lagi berpikiran macam-macam.

"Eh, enggak Pak ..."
Terpaksa aku kembali ke mangkuk soto yang sempat aku tinggalkan tadi. Meraihnya, dan..

Pyaaarr!

Jantungku seakan berhenti berdetak. Mangkuk soto tak lagi berupa soto. Namun tumpukan ceker segar penuh darah.

Bukan hanya ceker, tapi juga terselip beberapa jari.

EH???
"JARI MANUSIAAA!!!".

Aku buru-buru melihat bapak penjual soto dengan cemas. Ternyata benar, si bapak sedang memegang pisau yang berlumuran darah. Tertawa menyeringai menatapku.

"Mau nambah neng ?"

Terbelalak. Ini bukan soto langganan yang biasa aku datangi. Tanpa bisa menahan lagi, kuambil langkah kaki seribu.

Rasanya takut sekali untuk menengok ke belakang barang sebentar. Kaki-kakiku lemas luar biasa. Aku sampai lupa sakuku kosong. Haha, imajinasiku benar-benar hebat. Menaruh lalat di mangkuk sudah bukan caraku lagi.

AH!

Malam apa ini, mengapa begitu mencekam? Mengapa juga aku mengalami kejadian ini?

Aku menengok jam di pergelangan tanganku. Masih pukul 20:00 WIB. Tapi, kenapa bisa ada tukang soto seperti itu? Entahlah, otakku tak mampu berpikir jernih. Kalut, hingga membuat langkahku carut marut.

Aku pun memutuskan untuk duduk sejenak di trotoar. Napasku masih tersengal. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sudah sejauh apakah aku tadi berlari?

Aku mengernyit. Lalat yang tadi kuletakkan di mangkuk, kini berdengung di dalam kantong baju.

Saat kubuka sedikit kantongnya, tetiba ada suara, "Hehehehe....."

Aku membelalak mata dan kembali membekap kantong kemeja. Kemudian kusapu rambut dengan tangan kanan. Di ujung jalan, ada sinar yang berjalan mendekat.

Oh jangan sekarang!

Triiiit. Suara motor berdecit.

Terlihat seorang pria dengan jaket kulitnya. Helm full-face SNI warna hijau, dan motor ninja hijau.

"Neng, gojeknya, neng? Lagi promo nih malem-malem gini sepuluh ribu aja!" Ujarnya sembari mengedipkam sebelah mata.

Aku meringis. Apa-apaan, sih, nih orang?

Segera kaki kulangkahkan. Tiba di trotoar, seseorang melewatiku!

Deg! Berbaju putih panjang dengan rambut hitam tergerai. Wajahnya menunduk. Ia memegang sebuah nampan bertaplak di atas tangannya.

Aku merinding. Sial!

Lagi-lagi ilusi mata. Kugeleng-gelengkan kepalaku pelan, aku mulai kehilangan fokus.

"Antar saya ke Jalan Mewangi ya, Bang."

"Tadi katanya enggak mau." Si abang mengedip nakal. Aku hanya bisa memutar bola mata, sebal.

Semilir angin mengacak-acak rambutku, hawa dingin angin malam membuatku mengencangkan syal milikku.

Aku makin berkutat dengan imajinasiku. Entahlah. Ini terlalu rumit aku pikir.

"Neng," si abang ojek membuyarkan lamunanku. "Mau apa ke Mewangi, Neng? Kita ke KUA aja deh. Mau enggak, Neng?"

Aku melotot. Tak paham dengan maksud si abang. Kondisi seperti ini masih saja dia bercanda. Biarlah. Aku tak mau menanggapinya.

"Neng. Kenapa diam? Aku ini bagian dari masa lalu Neng lho. Neng enggak mau kembali merajut kisah kita?"

Ampun deh. Cuma mau makan soto di akhir minggu saja kok cobaan silih berganti begini.

Kutengok ke belakang tanpa menghiraukan si abang. Aku tak peduli lagi. Waktu terasa berjalan lambat sekali.

Dan sinar emas tetiba menyinariku. Memanggil-manggil.

Argh. Hanya mimpi. Fiuh..

Kukucek-kucek mata, dan ekor mataku menangkap sesuatu di atas meja sebelah kiriku. Apa itu?

Deg!

Sebuah mangkuk dengan....

Kukucek-kucek mataku lagi, tapi,

Deg!

Tanganku?

Aaaaaaaaahhhhhhh...

Nampak seseorang menyeringai di sampingku. Memegang tanganku mesra. Kemudian menyodorkan sesuatu.

"Neng, udah bangun? Nih, Mas udah bikinin soto hangat khusus buat kamu ..."

Whaaaatt??? Aku melongo.

Tukang ojek tadi...

Ah!
Lagi-lagi mimpi di dalam mimpi.

Aku ini seorang Oneironaut yang hanya ingin makan soto

-END-

Jangan Sampai Lupa Diri, Lantaran Sibuk Menilai

Jangan Sampai Lupa Diri, Lantaran Sibuk Menilai

Oleh : OWOP 3 ( Bunda Wahyu, Amin, Ari, Laila, Ayu)

Menghirup dalam-dalam udara perkebunan. Lalu menghembuskannya dalam bentuk tulisan. Mengalir...mengalir seperti terpaan udara senja. Menyibak pelepah dan dedaunan. Dan menambah kesadaran kalau di sini indah.

Tetapi tidak melulu. Ketika yang di kebun adalah orang yang memegang korek? Dengan segala kebusukan di dalam hatinya? Tak akan melihat keindahan seperti si pemegang pena. Omong kosong saja kalau dia ikut memedulikan sapaan angin. Karena yang ada di kepalanya hanya pengrusakan! Pembumihangusan!

Lalu, siapa yang hendak peduli padanya? Apakah si pemilik pena dengan segenap imajinasinya? Atau si pemilik korek yang tega membumihanguskan pepohonan tak bersalah?

Entahlah.

Aku hanya sibuk menekan tuts-tuts huruf pada layar ponsel. Ketika membaca sebuah sajak aku tersipu, bahagia. Namun sebaliknya, ketika aku membaca kabar sebuah pembakaran. Rasanya aku naik pitam, sok-sokan ikut mengutuk. Padahal baru saja sekeranjang sampah kulempar ke sungai di halaman belakang.

Memperhatikannya mengalir, menyusuri lorong sempit, sesekali ia terhenti, seakan ia memutar otak, dan menuai tanya, "Jalan mana lagi yang hendak kuambil? Lorong sempit semakin menyempit di depan. Tak kulihat celah sedikit pun yang dapat disusupi."

Kemudian terhenti. Menumpuk di satu titik. Entah apa yang dipikirkan oleh air, yang kutahu ia hanya terus mengalir. Ada bebatuan? Ia bergeser ke samping kanan-kiri, ketika sempit dengan celah kecil? Dia mengalir sedikit demi sedikit, membentuk antrian panjang. Namun, ketika tak ada celah. Ketika sudah dihambat oleh onggokan sampah. Apakah dia menyerah dan berhenti? Tidak! Dia tidak berhenti. Namun dia terus mengalir. Mencari jalan baru. Meluap.

Bumi sudah bersuara.
Tanda-tanda perang barata yuda sudah dimulai.

Ah sesak aku melihat dunia yang semakin abu-abu, entah siapa yang benar yang memegang korek apikah? Atau yang memegang penakah?

Entah siapa yang menjadi pahlawan di akhirnya.
Karena yang memegang korek bisa tampil berpura-pura menjadi pahlawan utk menutupi kesalahannya berdalih turut berduka cita.
Ah.....dunia ini membuat kulelah...
Entahlah....

Tapi tidak! Aku tak boleh mengeluh dan berhenti berharap. Aku sadar, masih ada tangan-tangan yang membantuku menyapa muara. Diambilnya sejumput demi sejumput sampah yang berserak. Ditanamnya pohon-pohon hijau untuk menguatkan tanggul-tanggulku. "Sahabatku hutan, ladang dan rawa-rawa. Jangan mematikan lilin harapan di hati kalian, karena jika lilin itu mati maka matilah semua kemungkinan kebaikan. Serulah nama Allah dalam dzikir-dzikir kalian. Mohonlah pada-Nya yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, agar dibukakan hati mereka, diringankan tangan mereka, dimudahkan usaha mereka menjaga dan melestarikan apa-apa yang telah ada."

Mulailah segala sesuatunya dari diri sendiri. Tumbuhkan rasa peduli terhadap sesama. Bukan, bukan untuk mencari nama di mata manusia. Tapi cukup di pandangan-Nya. Tak perlu pula mencari pujian sesama. Niatkan semua karena-Nya. Bukankah tugas kita menjaga semua pemberian-Nya?

Jumat, 15 Januari 2016

Luka Yang Tertinggal

I Tag You From Ari to Ayu

"Luka Yang Tertinggal"

"Bruuuaaaak...."

Bunyi hantaman mobil di depanku tiba-tiba membuatku terperanjat. Membuka memori ingatan masa lalu. Masih sangat jelas rasanya. Hantaman benda keras mengenai wajahku. Bekas luka kecelakaan kala itu. Bahkan hingga luka hati yang menyeruak menembus dimensi waktu.

"Kak, wooy. Ngelamun aja, Lu." suara Rini tiba-tiba mengagetkanku.

"Eh, anu... Itu Rin..." jawabanku yang gelagapan, membuat Rini makin bingung.

"Kak, kenapa selalu ngelamun sih kalo ada kecelakaan? Kakak masih inget kejadian waktu itu? Kakak, come on. Bangkit lah. Mau sampek kapan kayak gini terus, Kak? Aku sedih lihatnya." ujar Rini dengan wajah sendunya.

Kejadian waktu itu? Ah ya, waktu itu. Aku hampir mati karena perasaan. Luka yang kubuat sendiri hingga mengakar dalam diri. Luka yang bahkan tak hanya pada hati juga pada diri. Kejadian kala itu, tunangan yang gagal dalam waktu sekejap hanya karena sebuah perselingkuhannya. Dia mengkhianatiku. Tapi, Rini benar. aku tak mungkin terpekur dalam kubangan masa lalu. Bukankah lebih baik aku ambil pelajaran dari semua yang terjadi. Baiklah. Mungkin saat ini aku tak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Mencintai orang yang salah dan dengan cara yang salah.

Jakarta, 13 Januari 2016
Wayan Ayu W.

#ITagYou #Canberra #malamtantanganOWOP #StopWhisingStartWriting #gradasikata #penikmatkata

Senin, 04 Januari 2016

Tersenyumlah Dalam Luka

Malam ini di sudut ruangan ada yang bernyanyi, sebentar, bernyanyi? Sepertinya bukan. Ah ya, tentu bukan. Itu suara isak tangis yang menguarkan aroma perih hingga hatiku ikut ngilu mendengarnya. Suaranya lirih bahkan hampir tak terdengar, tapi jelas terasa pilunya di telinga. Kudekati dia, dan berkata padanya, "Sayang, usaplah air matamu. Hadapi kenyataan yang terjadi dengan senyuman. Juga sertakan Allah dalam setiap langkahmu."

Dia hanya tersenyum memandangku. Tapi, dari tatapannya aku melihat ada kepedihan yang tersembunyi. Dalam, bahkan sangat curam. Ada sakit yang coba disimpan sendiri, tanpa mau dia bagikan kepada orang yang disayangi. Ada getir yang coba ia lewati, meski sebenarnya langkahnya kian rapuh.

Lagi-lagi aku hanya mampu menatap nanar dirinya. Menghapus bulir air mata yang jatuh menderas, juga merebahkan kepalanya di pundakku. Karena aku tahu dia butuh bahu untuk menopang, tak hanya dirinya tapi juga sakitnya.

Dengan lirih kuucapkan padanya. "Sayang, kau akan baik-baik saja. Bukankah masalah hanya perantara sebuah kado terindah yang sedang disembunyikan-Nya? Bukankah kau punya Dzat Yang Maha Segalanya? Mengertilah, bahwa segalanya kan baik-baik saja. Jadikan ini sebagai ujian kesabaranmu. Dia tahu sebatas mana kemampuan hamba-Nya. Dan Dia tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya." Lantas, dia tersenyum kepadaku. Menatapku dengan hangat, juga mendekapku dengan erat.

Jakarta, 04 Januari 2016
Wayan Ayu Widiaratna