Assalamu'alaikum, Yah. Apa kabar? Ku harap ayah tetap sehat dan selalu sehat tepatnya. Ayah, meski pada kenyataannya kita terpisah jarak, ruang dan waktu. Aku ingin tetap bercerita padamu. Ini tentang rasaku, yang bahkan aku tak tahu dia mengetahuinya atau tidak. Yang jelas segalanya tetap kuserahkan pada Dia, Sang Pemilik Hati.
Ayah, kau tahu, putrimu sedang jatuh cinta (lagi). Tapi, kali ini bukan pada senja atau bahkan kopi. Tepatnya, pada dia. Pemuda di luar sana, yang sebenarnya aku pun tak mengenal jelas siapa dia. Lucu ya, Yah?
Tapi, memang ini realitanya. Entah dari mana datangnya. Bahkan, aku tak tahu pula bagaimana bisa seperti ini. Rasanya terlalu rumit, Yah. Pun, rasa ini datang dengan tiba-tiba. Tapi, Yah, aku tak tahu rindu ini layak untuk diperjuangkan atau bahkan harus ku lepaskan? Aku takut, Yah. Aku takut jika ternyata ada luka yang sama ketika aku menggantungkan bahagiaku pada manusia. Aku takut jika ternyata rasa kecewa (lagi) yang ku peroleh. Dan aku sangat takut jika pada akhirnya aku patah (lagi).
Sadarku, segala hal harusnya di gantungkan pada Dia Sang Pemilik Alam ini. Mungkin, memang lebih baik ku simpan ya, Yah. Rapat, serapat-rapatnya. Ku simpan di dalam kotak pandora. Lantas, ku buang kuncinya ke dasar laut. Agar dia tak sedikitpun tahu bahwa di sini, di hati ini, ada ruang untuknya. Pun, agar bisa menjagaku juga dirinya. Agar kita terlepas dari fitnah yang tak diinginkan. Lantas, cukup ku titipkan rinduku dalam suam-suam doa di sepertiga malam-Nya. Ku sematkan di setiap sujud panjang ku pada-Nya. Hingga Dia sendiri yang memberikan jawaban atas segala yang ku rasa.
28.11.15
Wayan Ayu. W
Tidak ada komentar:
Posting Komentar