Selasa, 29 September 2015

Sajak Malam Untukmu

Gurat wajah itu makin terlihat.
Ada getir dalam senyum manisnya.
Senyum yang menenangkan.
Bahkan tenangnya telaga tak mampu kalahkan ketenangan senyum itu.
Senyum yang selalu ku rindukan, setiap detiknya...
Bahkan hingga saat ini...

Tubuh itu kini mulai rapuh.
Tapi,,,
Ia tak pernah sedikitpun mengeluh.
Lagi-lagi hanya tersenyum.
Gurat senyum itu tak pernah hilang.
Meski getir tapi menyejukkan.
Layaknya hamparan bintang di pekat malam.

Senyum itu hampir sepenuhnya seperti perban.
Tertutup, bahkan sangat rapat.
Letih bertahun-tahun hidup dengan banyak kesabaran.
Lelah bertahun-tahun merasakan asam manis kehidupan.

Bertahun-tahun hidup dengan penuh ketegaran.
Tak pernah sedikitpun ia hadirkan pilu dalam raut wajahnya,
Hanya senyum manis yang terlukis.
Sangat menenangkan
Bahkan selalu ku rindukan.

Ayah,,,
Ibu,,,
Sehat selalu ya,
Doakan anakmu,
Doakan agar ilmu yang kuperoleh cukup untuk membawa kalian menuju jannah-Nya :')
Aamiin

Kaliurang, 29 September 2015
@wayan_ayoe

Kamis, 24 September 2015

Keyakinan Diri

Tetaplah berpijak, meski kita tahu akan banyak kerikil menghadang di depan sana.
Tak perlu berkecil hati untuk semua kejadian yang belum terjadi.
Tak usah pula menerka-nerka semua yang bahkan kita sendiri tak tahu bagaimana jalan ceritanya.

Tetaplah menatap, meski kita tahu akan banyak kabut menghalangi pandangan mata.
Tak usah pula merasa terbebani karena Allah akan selalu menemani kita.
Percayalah, setiap masalah pasti disertai jalan keluar dari-Nya.

Semarang, 24 September 2015
@wayan_ayoe

Sampai Kapan

Sampai kapan?
Sampai kapan kau akan terus terjerembab dalam kubangan kesedihan?
Sampai kapan kau akan terus bersedih ketika tak mendapatkan apa yg kau inginkan?
Sampai kapan kau terus dihantui ketakutan yang bahkan kau buat sendiri?
Sampai kapan kau akan terus menyalahkan keadaan saat kau mulai lelah?
Dan sampai kapan senyumanmu itu kau buat hampir sepenuhnya seperti perban?

Mengertilah bahwa hidup tak selalu seperti apa yang kau inginkan,

Mengertilah bahwa setiap kehidupan telah digariskan oleh Dia sang pemilik alam ini,

Belajarlah,
Belajarlah untuk berdamai dengan diri,
Belajarlah menerima segala yang terjadi tanpa harus menyalahkan keadaan,

Yakinlah,
Bahwa apa yang telah Dia tentukan untukmu akan selalu berakhir dengan sebuah keindahan,

Dia tak akan pernah memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya,

Pahamilah,
Bahwa tak selamanya hadiah selalu terbungkus dengan indah,

Semarang, 24 September 2015

@wayan_ayoe

Kamis, 17 September 2015

Isak Tangis Di Tanah Palestina

Malam menyapa, disini kita terlelap beralaskan lautan busa nan empuk, memeluk guling, menggenggam gadget,
Tertawa untuk banyak hal tak berguna...
Hingga semua kenyamanan itu terkadang melenakan!

Membuat mata enggan melihat ke lain arah.
Enggan menoleh ke arah mereka,
Mereka yang setiap malam tidur beralas batu,
Mereka yang kenyamanannya terenggut paksa, di tanah air nya sendiri,
Mereka!
Ya mereka, pejuang jihad di bumi Palestina juga bumi Suriah,,,

Saat kita terisak,
Menangisi hati yang patah,
Sibuk dengan urusan luka di kalbu,
Mereka disana juga terisak,
Melihat Al Aqsa diinjak yahudi laknatullah,
Bukan urusan hati yang mereka tangisi,
Tapi luka menganga karena tanah airnya berubah menjadi lautan darah para syuhada.

Saat kita sibuk menggenggam gadget,
Sibuk menghamburkan uang,
Sibuk membuang-buang waktu,
Merekapun turut sibuk,
Sibuk menggenggam senjata,
Apa saja yang ada di depan mata,
Sibuk menata hati yang lukanya terus berdarah,
Seiring kepergian orang tercinta,

Bom itu!
Bunyi senapan itu!
Dengung pesawat musuh berputar-putar!
Bergemuruh!
Getarkan tanah Palestina, juga Suriah.
Puing-puing berserakan, reruntuhan bangunan, juga puing-puing luka dan isak tangis membaur dalam satu titik temu.

Anak kecil kehilangan sosok ayah,
Bayi menangis, menjerit!
Ibunya turut menangis, tertahan!
Ada ketakutan disana,
Ada kesedihan disana,
Ada kesakitan juga kepiluan.
Tapi kaki mereka tetap berpijak pasti,
Bersama perjuangan yang tak terhenti.
Demi Al Aqsa!
Demi tanah airnya!
Mereka kokoh berdiri,
Takbir bergema,
Langkah mereka tak surut,
Mereka tak berharap banyak pada kita,
Hanya doa!

Tak bisakah, sejenak saja,
Mari, tundukan kepala,
Sekejap saja,
Khusyuk meminta,
Syahdu mengadu,

Allah, lindungi saudaraku.
Allah, selamatkan saudaraku.
Allaah, merdekakan tanah Al Aqsa.
Allaah, peluk Palestina dan Suriah dengan kasihMu.
Aku memohon, dalam getar doa nan tulus.
Bagi mereka, SAUDARAKU!


@wayan_ayoe

Selasa, 15 September 2015

Fahamilah^

Saat kita bersedih karena rasa takut kehilangan orang yang kita sayang. Maka cobalah untuk mengerti. Bahwa akan ada masanya nanti, semua orang disisi kita satu persatu akan pergi. Entah karena sebuah perjalanan singkat atau bahkan karena perjalanan selama-lamanya menghadap Sang Khaliq.

@wayan_ayoe

Kamis, 10 September 2015

Kawan, Mengertilah, Pahamilah

Kawan,
Mengertilah,,,
Aku tahu bagaimana suasana hatimu saat ini,
Hatimu pasti remuk-redam karena cacian yang kau dapatkan,

Kawan,
Mengertilah,,,
Aku tahu bagaimana keadaan hatimu saat ini,
Hatimu pasti porak-poranda karena hinaan yang kau terima,

Kawan,
Mengertilah,,,
Aku tahu bagaimana kondisi hatimu saat ini,
Hatimu pasti luluh-lantak tak berbentuk karena cemoohan yang kau peroleh,

Tapi kawan,
Sekali lagi,,,
Mengertilah,,,
Jangan biarkan kesedihanmu menguar karena semua ini,
Jangan biarkan langkah kakimu terhenti karena ucapan ini itu,

Pahamilah,
Lagi dan lagi,
Bahwa terkadang pukulan tidak semestinya dibalas dengan pukulan,
Pun luka tidak seharusnya dibalas dengan luka,

Ingatlah,
Lagi dan lagi,
Bagaimana usahamu tentang hijrahmu ini,
Langkah kaki yang tertatih,
Terseok,
Bahkan hingga kau terseret,

Ingatlah,
Lagi dan lagi,
Bahwa tujuanmu hanya untuk-Nya,
Ya,,
Dia yang kau tuju,
Cinta-Nya yang kau dambakan,

Kawan,
Tetaplah melesat bagai api yang menjalar,
Tunjukkan pada mereka bahwa kau mampu,
Tunjukkan pada mereka bahwa kau bisa,
Tunjukkan pada mereka bahwa Allah selalu ada disisimu,,,

Salam,
Wayan Ayu. W

Selasa, 08 September 2015

Arti Senja Bagiku

Yang aku tahu, senja selalu mampu mengajarkanku tentang arti dari sebuah ketulusan,
Juga keikhlasan.
Bagaimana tidak?
Lihat saja,
Ia tak pernah mengeluh meski dalam potongan waktu 24 jam, dia hanya memiliki kesempatan sekejap saja untuk menunjukkan cahaya indahnya,,,
Ia tak pernah marah meski ia harus segera beranjak pergi karena malam seolah tak sabar ingin segera menampakan dirinya,,,
Ia tak pernah bersedih meski ia hanya mampu melukiskan siluetnya dalam hitungan menit saja,,,
Selalu dengan tulus, lagi dan lagi ia hadirkan cahaya yang sangat memesona untuk dinikmati oleh mata manusia, juga makhluk Allaah lainnya,,

Ah, memang bagiku senja selalu indah,,,
Maha besar Allaah yang menciptakan segala yang ada di muka bumi ini...

Salam,

Wayan Ayu. W

Ijinkan Aku Mencintai-Mu

Hembusan angin kian terasa,
Lembut berbisik pada kalbu,
Perlahan tapi pasti, bisiknya menusuk dalam jiwa membuat hati makin terenyuh.

Maka kaki pun mulai melangkah, melangkah untuk mencari arah kemudian berlari mengejar cintaNya.

Allahu Rabbi,
Ku tahu dosaku tak terhitung bak debu yang berserakan,
Ku tahu imanku naik turun bak sebuah timbangan,

Allahu Rabbi,
Lantas, apa aku salah untuk berusaha mengais cinta-Mu?
Lantas, apa aku salah untuk berusaha menggapai ridho-Mu?

Allahu Rabbi,
Ku tahu Engkau pemilik hati ini,
Maka ku minta pada-Mu,
Tetapkanlah hatiku untuk selalu terpaut pada-Mu,

Jangan biarkan imanku runtuh hanya karena semua ujian dari-Mu,
Jangan biarkan aku terlalu terlena dengan semua urusan dunia ini,
Hingga membuatku melupakan-Mu,,,

@wayan_ayoe

Jumat, 04 September 2015

Biarkan

Biarkanlah, biarkan kaki ini melangkah mencari jalan menuju-Nya,,,
Meski harus merangkak,
Meski harus tertatih,
Meski pernah salah melangkah,
Namun kini kucoba berjalan lurus,
Meski langkahku perih terseret,

Biarkanlah, biarkan diri merasakan kesendirian karena-Nya,,,
Meski terkucilkan,
Meski terdiskriminasi,
Meski hati kadang tergores,
Yakinlah, karena sebaik-baik tempat singgah adalah pada peluk-Nya..
Karena sebaik-baiknya tempat pulang adalah di sisi-Nya...

Biarkanlah, biarkan hati menikmati alur mencari cinta-Nya,
Karena Dia sudah mengatur semua jalan untuk mencari cinta serta ridho-Nya,
Tergantung kita yang akan memilih jalan mana yang akan kita tempuh,

Tuban, 03 September'15
@wayan_ayoe

Selasa, 01 September 2015

Ramadhan Terakhir

Malam terang, langit bersih tak tersaput awan. Bintang tumbuh mengukir angkasa, membentuk ribuan formasi. Angin malam kali ini membelai lembut, menyenangkan, menelisik, bernyanyi di sela-sela kuping.

Ah iya, malam ini malam takbiran. Malam ini kebahagian menyelimuti desaku. Gema takbir terus berirama. Terdengar riuh rendah suara anak-anak kecil yang sedang mengumandangkan takbir keliling.

Tapi ada satu pemandangan pilu yang kusaksikan. Ku lihat air mata itu jatuh berlinang membasahi tanah. Tangisnya memecah hening kebahagiaan yang menyelimuti jiwa, menelisik ke dalam relung hati, bak pisau tajam menggores puing-puing kebahagian.

Hatiku semakin pilu, ku lihat beliau meneteskan bulir-bulir air matanya. Di saat banyak orang tersenyum bahagia menyambut indahnya hari kemenangan, Ia Pahlawan hidupku meneteskan air matanya. Benar-benar semakin tersayat sembilu pisau belati.

"Bu... Ibu kenapa?" Sembari ku hapus peluh air mata yang membasahi pipinya.
"Ibu rindu nak,," Jawabnya lirih.
"Ibu rindu bapak?" Tanyaku dengan sangat hati-hati.
Beliau hanya diam tak mengucap sedikit katapun. Hatiku semakin pilu, sayatan pisau semakin terasa di relung hatiku.
"Ibu jangan sedih ya, bapak pasti pulang bu. Mungkin masih di jalan." Ucapku sedikit menenangkan.
"Tapi ndak biasanya bapakmu seperti ini nduk..." Lanjut ibu.

Tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu. Membuatku menghentikan percakapan dengan ibu.

"Bu,, sepertinya ada yang datang, Andin keluar dulu ya bu." Ucapku sembari beranjak dari tempat dudukku.

Lagi-lagi ibu hanya terdiam tak menjawab.

"Assalamu'alaikum, Bu Ira." Sambil mengetuk pintu
"Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh." Jawabku sembari membuka pintu.
"Oh bu Dini, saya kira siapa bu. Kok malam banget bu, memangnya ada apa ya?" Tanyaku keheranan.
"Oh ini nak, ibu mau ngasih ini buat ibu kamu." Sambil menyerahkan kantong kresek hitam yang di genggamnya.
"Oh iya bu, terima kasih banyak bu. Masuk dulu bu. Monggo, biar Andin panggilkan ibu" Ucapku sambil mempersilahkan bu Dini.
"Sama-sama nak. Ndak usah nak, ibu langsung aja. Soalnya mau nganter ke tetangga sebelah. Salam buat ibu kamu ya nak." Pamit bu Dini.
"Oh iya bu, terima kasih ya bu." Ucapku sambil tersenyum.

Setelah menutup pintu aku kembali duduk menemani ibu.
"Tadi siapa nduk?" Tanya ibu.
"Oh tadi bu Dini bu, nganter ini." Sambil menyodorkan kantong kresek dari bu Dini.

Lalu ibu membuka kantong kresek dari bu Dini. Dan ternyata buah mangga dari bu Dini. Ibu memintaku mengambil pisau. Sambil mengupas kulit mangga, tak terduga ibu meneteskan air matanya lagi.

Ibu sangat merindukan bapak.

Potongan demi potongan buah mangga terjatuh diatas piring, bersamaan dengan itu tetes air mata yang juga terjatuh di pipi ibu semakin menderas. Hatiku teriris melihatnya.

"Sudahlah bu, bapak pasti baik-baik saja" Ujarku berusaha menenangkan ibu.

Telepon genggam milik ibu nyaring berdering, ibu bergegas mengangkatnya. Entah siapa yang berbicara di ujung sana, yang aku lihat hanyalah isak tangis ibu yang semakin mengeras.

Malam itu, seumpama pisau yang memotong buah mangga, pisau takdir pun turut memotong kebahagiaan kami. Bapak pergi. Diluar takbir masih berkumandang di seluruh penjuru desa, bersama air mata kami yang juga jatuh tak terbendung.

#MalamNarasiOwop
@wayan_ayoe

Ceritanya sih ini tantangan senin malam bikin narasi dengan sebuah foto, dan pertama kalinya juga bikin cerpen,, hehehe... Maaphkeun yak kalo masih belibet. 🙏🙏🙏🙏