Selasa, 01 September 2015

Ramadhan Terakhir

Malam terang, langit bersih tak tersaput awan. Bintang tumbuh mengukir angkasa, membentuk ribuan formasi. Angin malam kali ini membelai lembut, menyenangkan, menelisik, bernyanyi di sela-sela kuping.

Ah iya, malam ini malam takbiran. Malam ini kebahagian menyelimuti desaku. Gema takbir terus berirama. Terdengar riuh rendah suara anak-anak kecil yang sedang mengumandangkan takbir keliling.

Tapi ada satu pemandangan pilu yang kusaksikan. Ku lihat air mata itu jatuh berlinang membasahi tanah. Tangisnya memecah hening kebahagiaan yang menyelimuti jiwa, menelisik ke dalam relung hati, bak pisau tajam menggores puing-puing kebahagian.

Hatiku semakin pilu, ku lihat beliau meneteskan bulir-bulir air matanya. Di saat banyak orang tersenyum bahagia menyambut indahnya hari kemenangan, Ia Pahlawan hidupku meneteskan air matanya. Benar-benar semakin tersayat sembilu pisau belati.

"Bu... Ibu kenapa?" Sembari ku hapus peluh air mata yang membasahi pipinya.
"Ibu rindu nak,," Jawabnya lirih.
"Ibu rindu bapak?" Tanyaku dengan sangat hati-hati.
Beliau hanya diam tak mengucap sedikit katapun. Hatiku semakin pilu, sayatan pisau semakin terasa di relung hatiku.
"Ibu jangan sedih ya, bapak pasti pulang bu. Mungkin masih di jalan." Ucapku sedikit menenangkan.
"Tapi ndak biasanya bapakmu seperti ini nduk..." Lanjut ibu.

Tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu. Membuatku menghentikan percakapan dengan ibu.

"Bu,, sepertinya ada yang datang, Andin keluar dulu ya bu." Ucapku sembari beranjak dari tempat dudukku.

Lagi-lagi ibu hanya terdiam tak menjawab.

"Assalamu'alaikum, Bu Ira." Sambil mengetuk pintu
"Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh." Jawabku sembari membuka pintu.
"Oh bu Dini, saya kira siapa bu. Kok malam banget bu, memangnya ada apa ya?" Tanyaku keheranan.
"Oh ini nak, ibu mau ngasih ini buat ibu kamu." Sambil menyerahkan kantong kresek hitam yang di genggamnya.
"Oh iya bu, terima kasih banyak bu. Masuk dulu bu. Monggo, biar Andin panggilkan ibu" Ucapku sambil mempersilahkan bu Dini.
"Sama-sama nak. Ndak usah nak, ibu langsung aja. Soalnya mau nganter ke tetangga sebelah. Salam buat ibu kamu ya nak." Pamit bu Dini.
"Oh iya bu, terima kasih ya bu." Ucapku sambil tersenyum.

Setelah menutup pintu aku kembali duduk menemani ibu.
"Tadi siapa nduk?" Tanya ibu.
"Oh tadi bu Dini bu, nganter ini." Sambil menyodorkan kantong kresek dari bu Dini.

Lalu ibu membuka kantong kresek dari bu Dini. Dan ternyata buah mangga dari bu Dini. Ibu memintaku mengambil pisau. Sambil mengupas kulit mangga, tak terduga ibu meneteskan air matanya lagi.

Ibu sangat merindukan bapak.

Potongan demi potongan buah mangga terjatuh diatas piring, bersamaan dengan itu tetes air mata yang juga terjatuh di pipi ibu semakin menderas. Hatiku teriris melihatnya.

"Sudahlah bu, bapak pasti baik-baik saja" Ujarku berusaha menenangkan ibu.

Telepon genggam milik ibu nyaring berdering, ibu bergegas mengangkatnya. Entah siapa yang berbicara di ujung sana, yang aku lihat hanyalah isak tangis ibu yang semakin mengeras.

Malam itu, seumpama pisau yang memotong buah mangga, pisau takdir pun turut memotong kebahagiaan kami. Bapak pergi. Diluar takbir masih berkumandang di seluruh penjuru desa, bersama air mata kami yang juga jatuh tak terbendung.

#MalamNarasiOwop
@wayan_ayoe

Ceritanya sih ini tantangan senin malam bikin narasi dengan sebuah foto, dan pertama kalinya juga bikin cerpen,, hehehe... Maaphkeun yak kalo masih belibet. 🙏🙏🙏🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar