Selasa, 09 Februari 2016

Teruntuk Kamu Tumpukan Resolusi

Hai, Sayangku! Apa kabarmu hari ini? Lama rasanya aku tak menyapamu. Bersenda gurau denganmu. Membahas ini itu denganmu. Dan, bercerita banyak hal padamu.

Sayang, maafkan aku. Maaf karena aku sering meninggalkanmu. Membiarkanmu terpaku sendiri tanpa sedetikpun aku temani.

Kamu tahu, Sayang? Aku sangat merindumu. Merindukan peluhku menetes karena mengejarmu. Merindukan tangisku menguar karena mengharapkanmu. Juga merindukanmu berkata, "Kuat, Sayang, karena kamu mampu." sembari mengulas senyum termanismu.

Ah, tentu saja aku sangat merindukan itu semua, Sayang. Hal terbodohku adalah ketika membiarkanmu terpaku di pojok ruang tanpa sedikitpun aku sentuh. Tanpa sedikitpun aku berusaha mengejarmu dan menggandeng tanganmu. Agar kita berjalan berdua. Beriringan, tanpa sedikitpun berniat meninggalkan.

Lantas, apa kamu pun merindukanku? Dan masihkah (mau) berjalan beriringan (lagi)?

Kepada tumpukan resolusi yang belum sepenuhnya dikerjakan.

Dari aku tumpukan rasa malas yang membekap.

Jakarta, 10 Februari 2016
Wayan Ayu W.
#30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 06 Februari 2016

Awaiting

Hai, Tuan! Apa kabarmu? Aku harap kamu di sana baik-baik saja, Tuan. Emmmm, kamu ingat dulu ada janji yang pernah diutarakan untukku? Aku ingat, Tuan. "Tunggu aku di bangku ini." katamu. Dan setiap petang menjelang aku selalu menunggumu, Tuan. Di bangku ini, tempat pertama kita bertemu.

Tuan, kamu tahu? Ada yang kamu curi dariku. Dulu.... Dulu sekali. Kamu janjikan pertemuan itu. Kamu berikan harapan padaku. Tapi, kamu juga yang mematahkannya. Tunggu, kamu? Rasanya aku pun bersalah. Karena telah terlalu berharap padamu.

Kamu tahu, Tuan. Setiap hari aku selalu datang ke bangku ini. Duduk menantimu sembari menyaksikan senja yang muncul kemudian perlahan menghilang dan berganti rembulan. Sakit? Tentu tidak, Tuan. Karena sakitku terobati oleh siluetnya yang muncuk dan mengisi kekosongan di hati.

Sudah aku bilang berkali-kali, bahwa senja itu romantis, Tuan. Seromantis pertemuan  pertama kita. Yang bisa jadi tak ada pertemuan selanjutnya. Atau bahkan memang itu pertemuan terakhir kita.

Entahlah, aku tak ingin menerka lagi. Biar saja Dia yang mengatur segalanya. Dan aku akan tetap menunggu di bangku ini. Ruang tunggu yang selalu kamu janjikan. Meski mungkin bukan kamu yang datang ke ruang tunggu ini untuk menjemputku.

Jakarta, 06 Februari 2016
Wayan Ayu Widiaratna
#30HariMenulisSuratCinta

Kamis, 04 Februari 2016

Rindu Dan Kopi

Hai, Tuan! Apa kabarmu? Kuharap kau di sana masih teguh menjaga imanmu. Juga hatimu. Tuan, maaf, lagi-lagi aku selalu menyematkanmu dalam setiap aksaraku. Maafkan aku yang secara lancang menggerakkan jari jemariku untuk menulis semua rasaku padamu. Tapi, Tuan, mengertilah. Ini salah satu caraku merindumu. Rindu yang selalu datang tanpa permisi. Hingga menjadi candu. Seperti kopi, bukan?

Ah, tentu, Tuan. Seperti kafein dalam setiap sesap kopi yang biasa kau nikmati. Bahkan pahitnya pun jelas kentara. Tapi, tenang saja, Tuan. Aku sudah terbiasa merasakannya. Bahkan saking biasanya aku juga hampir lupa bagaimana rasanya.

Tuan, sejujurnya aku tak tahu siapa dirimu. Tapi, aku yakin suatu saat nanti kita akan dipersatukan oleh-Nya. Dengan cara yang entah bagaimana.

Maaf, Tuan, jika aku terlalu lancang mengungkapkan setiap rasaku dalam torehan aksara. Dan maaf atas segala kelancanganku yang selalu mencarimu di antara sepi yang membekap.

Jakarta, 04 Januari 2016
Wayan Ayu Widiaratna
#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 03 Februari 2016

Surat Untuk Ibu

Dulu... Dulu sekali, aku masih ingat, Bu. Bahkan sangat melekat dalam ingatan. Di setiap tangisku engkau selalu menggendongku. Memeluk erat tubuhku. Lantas, kau ceritakan dongeng-dongeng untukku.

Dulu... Dulu sekali, aku masih ingat, Bu. Engkau selalu memberi apa yang aku butuhkan. Bahkan, yang aku pinta pun kau berikan. Meski nyatanya harus ada peluh yang menetes untuk menebus segalanya.

Dulu... Dulu sekali. Bahkan hingga saat ini. Engkau tak pernah melewatkan satu malampun untuk bersujud di sepertiga malam-Nya. Mendoakan anak-anakmu dengan ikhlas tanpa sedikitpun mengharapkan balasan.

Tapi, lagi dan lagi. Anakmu tak hentinya membuatmu kecewa. Membuatmu meneteskan rinai yang keluar dari matamu. Tapi bahkan, engkau tak sedikitpun lelah merawat juga menjagaku.

Engkau tahu, Bu? Saat ini aku merindukanmu. Bahkan rinduku sangat mrnggebu. Tapi, nyatanya kita terpisah dimensi ruang dan waktu. Lagi-lagi aku hanya mampu merapal rinduku lewat bait doa.

Bu, saat ini mungkin aku masih belum mampu membalas segala yang engkau berikan. Tapi, Bu, semoga kelak Allah memudahkan segalanya untuk membahagiakanmu. Semoga Allah menjagamu.

Jakarta, 03 Februari 2016
Wayan Ayu W.
#30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 02 Februari 2016

Hujan

Hai, Hujan! Sepertinya akhir-akhir ini kau nampak bahagia, ya? Bagaimana tidak? sedangkan kau selalu meneteskan rinaimu yang pada akhirnya menciptakan kerinduan pada bau tanah basah.

Hujan, boleh aku bercerita? Sebentar saja. Tapi, tanpa kau setujui pun aku akan tetap bercerita.

Kamu tahu, Hujan. Sebelumnya aku sangat membencimu. Maaf, Hujan. Kamu tahu mengapa aku seperti itu, Hujan? Baiklah biar aku jelaskan padamu mengapa.

Karena kau selalu datang ketika aku patah, Hujan. Ya, patah yang sebenarnya aku ciptakan sendiri. Aku yang telah salah menggantungkan harap pada sesosok makhluk bernama manusia. Menyedihkan, bukan? Tapi, ternyata tidak sebegitu menyedihkan, Hujan. Karena kau selalu datang di saat yang tepat. Meluruhkan setiap rasa sakit juga perihku bersama rinaimu. Hingga berganti rasa tenang.

Hujan, aku percaya suatu saat nanti akan datang waktunya dimana aku merasakan rinaimu bersama sesosok lelaki meneduhkan sepertimu. Sembari duduk berdua dan menikmati kecap demi kecap kopi yang tersedia. Dia orang yang benar-benar dihadirkan oleh-Nya untukku. Dan aku percaya itu.

Jakarta, 02 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta

Senin, 01 Februari 2016

Rindu Dan Hujan

Kali ini biarlah hujan memerangkapku
Memasukkanku kembali dalam kenangan tentangmu. Mengingatkanku kembali atas rasa yang pernah tumbuh. Membiarkan tangisku meluruh bersamanya

Kali ini biarlah hujan memerangkapku
Hingga membuat kebas wajahku. Biar saja,
Mungkin, memang ini caranya. Menyampaikan rinduku lewat tiap tetes air hujan yang meluruh dari langit untukmu. Semoga, kamu di sana tetap menjaga hati untukku.

Teruntuk kamu yang tiba-tiba datang mengambil separuh hati ini.
Dari aku yang dengan rela kamu curi.

Jakarta, 01 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta