Selasa, 06 September 2022

PULANG

Sudah lebih dari 5 tahun blog ini tak pernah dikunjungi, barangkali aku lupa bahwa ada sebagian diriku di sini. Ada sejumput kisahku yang bahkan tak pernah berani dilepaskan. Sibuk mencari, sampai lupa bahwa yang dicari tak pernah ke mana-mana. Sibuk mencari banyak hal, padahal ia ada di sini. Dekat bahkan kian lekat. Untukku, terima kasih sudah bertahan. Melalui hari, demi hari yang tak selalu baik-baik saja. Terima kasih karena memilih berjuang. Terima kasih. Mari duduk sejenak, menyeduh teh hangat dilengkapi dengan obrolan sembari menertawakan banyak kejadian pada diri sendiri. Ada banyak hal yang disadari, salah satunya bahwa tempat pulang paling tenang adalah diri sendiri. hehehe. Mari perbanyak bercerita, karena cerita adalah salah satu upaya melepaskan paling menyenangkan.

Jumat, 19 Agustus 2016

Resensi "Episode Hujan"




Betapa pun ia sadar bahwa hujan adalah butiran berkah menumbuhkan benih-benih sayur dan padi, mendung selalu membuat Katya waswas.

Baginya --Katya-- selain banjir yang mengintai, hujan hanya membawa deretan panjang kendaraan yang tidak bergerak, kereta commuter yang mogok karena gangguan sinyal, ujung celana yang kotor karena cipratan tanah basah, alas kaki dan pakaian yang berbau apak tidak kering, belum lagi waktu yang terbuang sia-sia untuk sekadar berteduh. Karena begitu banyak alasan mendung selalu menyapu bersih rasa bahagia Katya menjadi tak bersisa. (Hlm. 23)

"Kamu benar-benar tidak suka hujan, ya?"

Sejenak Katya mengira pertanyaan itu tidak perlu jawaban.

"Buku-buku dan mainanku berkali-kali rusak karena hujan dan banjir. Semua kemacetan dan kekacauan di Jakarta terjadi karena hujan. Kakakku hilang saat hujan. Max juga hilang di tengah hujan. Bagaimana aku tidak membenci hujan?"

Laki-laki itu---Banyu Mili---melanjutkan sebelum Katya berkomentar, "Hujan membuatku merasa tidak sendiri. Rintik hujan membuatku sadar. Aku bukan satu-satunya orang yang jatuh, lalu pecah membentur batu dan aspal jalanan, atau larut bersama kelokan sungai."

"Pluviophile," ucap Katya.

"Apa itu?"

"Itu kamu orang yang merasakan kedamaian saat hujan," ungkap Katya.

----

Katya adalah seorang mahasiswi jurnalistik yang sangat mengagumi salah satu jurnalis media cetak Barometer bernama Max Wangge. Dan memiliki sifat yang jujur, tegas, pekerja jeras dan berwibawa.

Max Wangge sendiri adalah seorang pewarta yang hilang ketika sedang menelusuri dugaan korupsi di sebuah kementrian.

Sedang Banyu Mili adalah seorag pewarta yang peka terhadap keadaan sosial,selain itu Banyu aalah sosok yang menjunjung kejujuran di manapun dia berada. Dia juga bukan sosok yang mudah putus asa dalam perihal pencarian.

Dan berita hilangnya Max semakin membuat Katya ingin memiliki hal yang membuat Max layak disebut pewarta berita. Hingga kemudian Katya berencana melamar pekerjaan sebagai pewarta di tempat Max bekerja setelah lulus kuliah nanti.

Tapi, Katya malah harus menerima kenyataan yang pahit. Katya melepas kesempatan bekerja di Barometer dan akhirnya masuk ke Senarai, majalah mode. Di mana ia tetap menjadi seorang jurnalis yang jujur dan tegas.

Hingga suatu waktu ia menerjunkan diri mencari orang hilang, Jani, sosok murid Katya di pusat daerah belajar mengajar di pinggiran kota Jakarta. Pencarian Jani membawa Katya bertemu pada Banyu Mili, rekan Max bekerja. Dan menemukan kakaknya, Bara.

Banyu, sosok yang ternyata mengisi hati Katya. Dan membuatnya mengambil keputusan tanpa ragu dan tegas.

"Hadiah terbaik dari menemukan pasangan yang tepat adalah kita selalu bisa jadi diri sendiri." (Hlm. 282)

----

Novel ini menceritakan perihal kehilangan, dan mampu membuat pembaca berdecak kagum. Penulis juga mampu menggiring pembaca menikmati setiap alurnya. Oh iya, penulis juga menyematkan cerit tentang pertemuan Katya dengan salah seorang keluarga korban hilan era reformasi, yang menurt saya makin membuat novel ini terasa. Selain itu banyak kutipan-kutipan bijak dan bahasa yang ringan hingga pesannya mudah untuk dimengerti. Hanya saja seperti novel-novel lain, menurutku pribadi novel ini terlalu mudah ditebak akhir ceritanya. Dan sejujurnya aku sempat kecewa dalam adegan pencarian Jani. Tapi lagi-lagi penulis mampu menyelipkan twist yang asik dinikmati sehingga mampu mengobati rasa kecewa itu.

Dan berikut ini beberapa kutipan yang sengaja aku tandai:

"Perjuangan selalu terlihat lebih agung jika telah berlalu dan hanya tinggal dipandang dari balik kaca diaroma." (Hlm. 11)

"Dan segala hal yang tidak dipahami manusia membuat mereka takut dan mengambil jarak." (Hlm. 77)

"...kadang sesuatu yang kita inginkan, justru datang lebih cepat dari yang kita kira." (Hlm. 96)

"Pertanyaan dan jawaban yang menentukan bagaimana mereka akan menjalani hidupnya setelah itu." (Hlm. 107)

"Sesuatu yang dibisikkan kadang adalah kebenaran yang paling nyaring." (Hlm. 133)

"Dan tawa, kata seorang komedian, adalah jarak terpendek antara dua manusia." (Hlm. 135)

"Memberikan hati kepada orang lain itu seperti berangkat perang tanpa membawa perisai. Membuat perasaan sewaktu-waktu bisa terayun bebas ke kanan-kiri seperti pendulum yang digerakkan tangan si manusia terpilih itu." (Hlm. 143)

"Sebuah perang terjadi ketika dua orang punya senjata. Saya tidak punya. Saya sebut ini penindasan." (Hlm. 206)

"Jika benar pemuda yang berkesempatan duduk di bangku kuliah hanya berjumlah 8% dari seluruh pendduk negara ini maka sungguh menyedihkan sarjana yang menyia-nyiakan pendidikannya dengan tidak menjadi "orang"." (Hlm. 227)

"Menulis itu adalah soal keberanian." (Hlm. 261)

"Tapi, menurutku setiap orang wajib merasakan patah hati. Itu berarti kita sudah memperjuangkan sesuatu yang kitta yakini." (Hlm. 264)

"Barangkali yang ia cari tidak ditemukan sesuai harapan. Tapi harapan juga yang membuatnya tiba pada penemuan lain." (Hlm. 277)

"....Cinta itu seperti hujan. Ia datang saat semua gelap." (Hlm. 279)

Jumat, 06 Mei 2016

Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan

Senin lalu tepatnya tanggal 2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional aku berkesempatan mengikutin Kelas Inspirasi dari Indonesia Mengajar. Sebagai inspirator yang menginspirasi anak-anak tentang mimpinya. Ketika pertama kalinya aku survei ke sekolah mereka, aku benar-benar kaget. Ternyata di tengah kepadatan kota Jakarta masih ada sekolah marginal seperti ini. Sekolah yang di dalam bangunannya ada sebuah klenteng dan kontrakan yang berjejer rapi.

Hingga kedatanganku pun membuat diriku berimajinasi. Andai saja, diriku ini menjadi Menteri Pendidikan aku renovasi bangunan-bangunan lama agar anak-anak nyaman mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Juga aku perhatikan perpustakaan sekolahnya. Apakah ada buku-buku yang diperlukan anak-anak. Atau rak buku yang sudah harus ditanggalkan dan diganti yang baru. Juga membiasakan anak-anak untuk selalu membaca hingga menulis.

Karena nyatanya membaca memang mampu menjadi senjata terhebat yang pernah ada. Karena membaca memampukan kita untuk menulis. Karena membaca mampu mendobrak segala ketidaktahuan. Karena membaca mampu menembus dimensi ruang dan waktu untuk terus membangun imajinasi mereka. Karena membaca pula mereka bisa berarti untuk yang lainnya.

Jakarta, 06 Mei 2016
Wayan Ayu. W

Kamis, 28 April 2016

Langit Beraksara

Yang aku tahu rindu ini kian nyata, mendobrak batas pertahanan yang telah aku bangun. Mengobrak-abrik rasa yang sudah tertata, bahkan mencabik hingga ke ulu.

Rasanya, ingin aku tepis rindu yang menderu. Tapi sayang, semakin aku mencobanya, semakin kuat rindu ini menyeruak. Menguar, hingga meluluh lantakkan segalanya.

Andai aku mampu, ingin rasanya aku balaskan rindu ini. Namun, lagi-lagi aku terlalu lemah untuk melakukannya. Bahkan sedikitpun aku tak memiliki nyali untuk melakukannya. Kau menang, kau berhasil menghancurkan dinding pertahananku.

Sedang aku di sini, terpekur bersama rindu yang semakin memburu. Tersungkur bersama rasa yang kian nyata.

Meski nyatanya bentangan jarak menjadi pemisah antara kau dan aku. Aku selalu berharap kita memandang langit yang sama sembari merapal untaian doa kepada Yang Maha Kuasa. Agar Dia berbaik hati menyatukan kita dengan cara dan waktu yang tepat.

Teruntuk engkau yang selalu berhasil membuatku merindu.

Jakarta, 28 April 2016
Wayan Ayu W.

Minggu, 27 Maret 2016

Senja dan Cita

Masih tentang cita
Ia tersusun rapi di sana
Terangkai sedemikian rupa
Meski nyatanya peluh yang meluruh kian terasa

Inikah perjuangan?
Yang memerlukan banyak perjalanan
Juga tak jarang rasa sakit tertahan
Bukankah segalanya memang membutuhkan pengorbanan?

Lihatlah, di sana Sang Senja tersenyum menyapa
Memberi secercah semburat cahaya
Berpendar menghias angkasa
Dan memberi kehangatan kepada dunia
Tak terkecuali kita.

Jakarta, 27 Maret 2016
Wayan Ayu W.

Sabtu, 26 Maret 2016

Tentang Sebuah Perjuangan

Untuk hati yang sedang rapuh
Masihkah kau terpekur dan terus melenguh
Sedang masih ada yang harus ditempuh
Ada pula yang perlu kau kayuh

Kau lihat, di atas sana
Sang awan membumbung tinggi di angkasa
Menghias indah seperti permata
Berarak lepas namun tertata

Sayang, bukankah sama dengan mimpimu
Yang sekian lama dirajut dengan peluh
Hingga tak sekali kau terjatuh
Lantas, akankah kau biarkan ia berlalu?

Rabu, 16 Maret 2016

Tanya Yang Belum Terjawab

Sebelum membaca Tanya Yang Belum Terjawab yuk baca seriMisteri Gang Bayangan Misteri Gang Bayangan (2) https://goo.gl/5qyVNz

Pandanganku membuyar, tubuhku terhempas ke dalam ruangan pengap yang tidak jelas karena gelap. Sembari mencoba bangkit, perlahan kukerjapkan mata ini untuk mencari sumber cahaya. Tapi, hanya gelap yang nampak.

Tunggu, ada seberkas cahaya. Tapi, darimana? Bahkan tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan di sini. Hanya ada sebuah kursi dan meja yang teronggok di ruang ini. Tapi, bukankah tadi sepatu Ran berhenti di atas lorong ini. Lorong pengap yang tak berpenghuni.

Baiklah sepertinya aku harus menelusuri lorong ini. Menembus ruang pengap dengan segala rasa yang tak karuan.

Braaak....!

Bunyi itu. Tapi, bunyi apa? Lantas darimana pula datangnya bunyi itu?

“Oh, Tuhan. Andai saja bisa, aku ingin meminjam pintu kemana saja milik Doraemon agar mampu mencari gadis kecilku tanpa perlu waktu lama.”

Braaak....!

Bunyi itu lagi. Degup jantungku semakin kuat. Napasku semakin tercekat. Ran, apa yang terjadi dengan gadis kecilku. Apa dia baik-baik saja. Tuhan, aku mohon jangan biarkan dia melukai gadis kecilku.

Ah, pintu. Ran-ku pasti ada di dalam sana. Langkah kaki ini semakin kupercepat sembari mangatur napas yang hampir tercekat. Kuintip suasana ruangan dari lubang kecil di gagang pintu.

Ran, ah, itu memang dia. Tapi, siapa yang bersamanya itu? Seorang wanita. Yang benar saja. Ran bersama wanita. Tapi siapa? Apa pula yang ia inginkan?

Oh Tuhan pikiranku makin tak karuan. Rasa cemas semakin menjalari tubuhku. Kakiku makin tak mampu digerakkan. Siapa wanita itu? Apa yang ia inginkan. Lantas mengapa ia menculik semua orang yang lewat di gang kecil itu.

Oh Tuhan, pertanyaan ini semakin memburu untuk segera terjawab. Ingin rasanya kubiarkan tangan ini membuka gagang pintu dan menghambur masuk ke dalam.

Tapi, tunggu. Mengapa Ran tak menangis? Malah kulihat ia tertawa riang di dalam sana.

Bruaaak...!

Pintu yang aku gunakan untuk melihat kondisi di dalam tiba-tiba terbuka. Tubuhku terhempas tepat di bawah kaki wanita itu.

“Siapa kamu?” tanya wanita itu sambil memandang lekat-lekat wajahku.

Belum sempat aku jawab Ran sudah memotong pertanyaan wanita paruh baya itu.

“Kakak....” sahut Ran sembari menghambur ke pelukku.

“Ran, bagaimana keadaanmu?” tanyaku sembari mengecek kondisi Ran mulai dari rambut hingga ujung kakinya.

“Aku baik-baik saja, Kak. Malah tante ini ngajarin aku main bekel lho.” Jawab Ran sembari tertawa renyah dengan ciri khasnya.

“Benarkah? Tapi mengapa kamu meninggalkan sepatumu, Ran? Kakak tahu kamu bukan anak yang ceroboh.” Ujarku sembari mengernyitkan dahi meminta penjelasan dari gadis kecil di depanku.

“Maaf, boleh aku menyela?” sahut wanita paruh baya itu.

“Sebenarnya memang aku yang melakukannya. Tapi, aku tidak bermaksud menculik. Atau bahkan menjual dan membunuh. Aku hanya ingin melindungi adikmu. Juga mereka.” Jelas wanita itu.

Tapi bagaimana bisa? Bukankah orang-orang yang hilang di gang sempit itu selalu tak kembali? Lagi-lagi pertanyaan itu menyeruak begitu saja. Pertanyaan yang masih belum terpecahkan.

Tunggu cerita selanjutnya di ceritamilikhappy.tumblr.com