
Betapa pun ia sadar bahwa hujan adalah butiran berkah menumbuhkan benih-benih sayur dan padi, mendung selalu membuat Katya waswas.
Baginya --Katya-- selain banjir yang mengintai, hujan hanya membawa deretan panjang kendaraan yang tidak bergerak, kereta commuter yang mogok karena gangguan sinyal, ujung celana yang kotor karena cipratan tanah basah, alas kaki dan pakaian yang berbau apak tidak kering, belum lagi waktu yang terbuang sia-sia untuk sekadar berteduh. Karena begitu banyak alasan mendung selalu menyapu bersih rasa bahagia Katya menjadi tak bersisa. (Hlm. 23)
"Kamu benar-benar tidak suka hujan, ya?"
Sejenak Katya mengira pertanyaan itu tidak perlu jawaban.
"Buku-buku dan mainanku berkali-kali rusak karena hujan dan banjir. Semua kemacetan dan kekacauan di Jakarta terjadi karena hujan. Kakakku hilang saat hujan. Max juga hilang di tengah hujan. Bagaimana aku tidak membenci hujan?"
Laki-laki itu---Banyu Mili---melanjutkan sebelum Katya berkomentar, "Hujan membuatku merasa tidak sendiri. Rintik hujan membuatku sadar. Aku bukan satu-satunya orang yang jatuh, lalu pecah membentur batu dan aspal jalanan, atau larut bersama kelokan sungai."
"Pluviophile," ucap Katya.
"Apa itu?"
"Itu kamu orang yang merasakan kedamaian saat hujan," ungkap Katya.
----
Katya adalah seorang mahasiswi jurnalistik yang sangat mengagumi salah satu jurnalis media cetak Barometer bernama Max Wangge. Dan memiliki sifat yang jujur, tegas, pekerja jeras dan berwibawa.
Max Wangge sendiri adalah seorang pewarta yang hilang ketika sedang menelusuri dugaan korupsi di sebuah kementrian.
Sedang Banyu Mili adalah seorag pewarta yang peka terhadap keadaan sosial,selain itu Banyu aalah sosok yang menjunjung kejujuran di manapun dia berada. Dia juga bukan sosok yang mudah putus asa dalam perihal pencarian.
Dan berita hilangnya Max semakin membuat Katya ingin memiliki hal yang membuat Max layak disebut pewarta berita. Hingga kemudian Katya berencana melamar pekerjaan sebagai pewarta di tempat Max bekerja setelah lulus kuliah nanti.
Tapi, Katya malah harus menerima kenyataan yang pahit. Katya melepas kesempatan bekerja di Barometer dan akhirnya masuk ke Senarai, majalah mode. Di mana ia tetap menjadi seorang jurnalis yang jujur dan tegas.
Hingga suatu waktu ia menerjunkan diri mencari orang hilang, Jani, sosok murid Katya di pusat daerah belajar mengajar di pinggiran kota Jakarta. Pencarian Jani membawa Katya bertemu pada Banyu Mili, rekan Max bekerja. Dan menemukan kakaknya, Bara.
Banyu, sosok yang ternyata mengisi hati Katya. Dan membuatnya mengambil keputusan tanpa ragu dan tegas.
"Hadiah terbaik dari menemukan pasangan yang tepat adalah kita selalu bisa jadi diri sendiri." (Hlm. 282)
----
Novel ini menceritakan perihal kehilangan, dan mampu membuat pembaca berdecak kagum. Penulis juga mampu menggiring pembaca menikmati setiap alurnya. Oh iya, penulis juga menyematkan cerit tentang pertemuan Katya dengan salah seorang keluarga korban hilan era reformasi, yang menurt saya makin membuat novel ini terasa. Selain itu banyak kutipan-kutipan bijak dan bahasa yang ringan hingga pesannya mudah untuk dimengerti. Hanya saja seperti novel-novel lain, menurutku pribadi novel ini terlalu mudah ditebak akhir ceritanya. Dan sejujurnya aku sempat kecewa dalam adegan pencarian Jani. Tapi lagi-lagi penulis mampu menyelipkan twist yang asik dinikmati sehingga mampu mengobati rasa kecewa itu.
Dan berikut ini beberapa kutipan yang sengaja aku tandai:
"Perjuangan selalu terlihat lebih agung jika telah berlalu dan hanya tinggal dipandang dari balik kaca diaroma." (Hlm. 11)
"Dan segala hal yang tidak dipahami manusia membuat mereka takut dan mengambil jarak." (Hlm. 77)
"...kadang sesuatu yang kita inginkan, justru datang lebih cepat dari yang kita kira." (Hlm. 96)
"Pertanyaan dan jawaban yang menentukan bagaimana mereka akan menjalani hidupnya setelah itu." (Hlm. 107)
"Sesuatu yang dibisikkan kadang adalah kebenaran yang paling nyaring." (Hlm. 133)
"Dan tawa, kata seorang komedian, adalah jarak terpendek antara dua manusia." (Hlm. 135)
"Memberikan hati kepada orang lain itu seperti berangkat perang tanpa membawa perisai. Membuat perasaan sewaktu-waktu bisa terayun bebas ke kanan-kiri seperti pendulum yang digerakkan tangan si manusia terpilih itu." (Hlm. 143)
"Sebuah perang terjadi ketika dua orang punya senjata. Saya tidak punya. Saya sebut ini penindasan." (Hlm. 206)
"Jika benar pemuda yang berkesempatan duduk di bangku kuliah hanya berjumlah 8% dari seluruh pendduk negara ini maka sungguh menyedihkan sarjana yang menyia-nyiakan pendidikannya dengan tidak menjadi "orang"." (Hlm. 227)
"Menulis itu adalah soal keberanian." (Hlm. 261)
"Tapi, menurutku setiap orang wajib merasakan patah hati. Itu berarti kita sudah memperjuangkan sesuatu yang kitta yakini." (Hlm. 264)
"Barangkali yang ia cari tidak ditemukan sesuai harapan. Tapi harapan juga yang membuatnya tiba pada penemuan lain." (Hlm. 277)
"....Cinta itu seperti hujan. Ia datang saat semua gelap." (Hlm. 279)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar