Selasa, 19 Januari 2016

Jangan Sampai Lupa Diri, Lantaran Sibuk Menilai

Jangan Sampai Lupa Diri, Lantaran Sibuk Menilai

Oleh : OWOP 3 ( Bunda Wahyu, Amin, Ari, Laila, Ayu)

Menghirup dalam-dalam udara perkebunan. Lalu menghembuskannya dalam bentuk tulisan. Mengalir...mengalir seperti terpaan udara senja. Menyibak pelepah dan dedaunan. Dan menambah kesadaran kalau di sini indah.

Tetapi tidak melulu. Ketika yang di kebun adalah orang yang memegang korek? Dengan segala kebusukan di dalam hatinya? Tak akan melihat keindahan seperti si pemegang pena. Omong kosong saja kalau dia ikut memedulikan sapaan angin. Karena yang ada di kepalanya hanya pengrusakan! Pembumihangusan!

Lalu, siapa yang hendak peduli padanya? Apakah si pemilik pena dengan segenap imajinasinya? Atau si pemilik korek yang tega membumihanguskan pepohonan tak bersalah?

Entahlah.

Aku hanya sibuk menekan tuts-tuts huruf pada layar ponsel. Ketika membaca sebuah sajak aku tersipu, bahagia. Namun sebaliknya, ketika aku membaca kabar sebuah pembakaran. Rasanya aku naik pitam, sok-sokan ikut mengutuk. Padahal baru saja sekeranjang sampah kulempar ke sungai di halaman belakang.

Memperhatikannya mengalir, menyusuri lorong sempit, sesekali ia terhenti, seakan ia memutar otak, dan menuai tanya, "Jalan mana lagi yang hendak kuambil? Lorong sempit semakin menyempit di depan. Tak kulihat celah sedikit pun yang dapat disusupi."

Kemudian terhenti. Menumpuk di satu titik. Entah apa yang dipikirkan oleh air, yang kutahu ia hanya terus mengalir. Ada bebatuan? Ia bergeser ke samping kanan-kiri, ketika sempit dengan celah kecil? Dia mengalir sedikit demi sedikit, membentuk antrian panjang. Namun, ketika tak ada celah. Ketika sudah dihambat oleh onggokan sampah. Apakah dia menyerah dan berhenti? Tidak! Dia tidak berhenti. Namun dia terus mengalir. Mencari jalan baru. Meluap.

Bumi sudah bersuara.
Tanda-tanda perang barata yuda sudah dimulai.

Ah sesak aku melihat dunia yang semakin abu-abu, entah siapa yang benar yang memegang korek apikah? Atau yang memegang penakah?

Entah siapa yang menjadi pahlawan di akhirnya.
Karena yang memegang korek bisa tampil berpura-pura menjadi pahlawan utk menutupi kesalahannya berdalih turut berduka cita.
Ah.....dunia ini membuat kulelah...
Entahlah....

Tapi tidak! Aku tak boleh mengeluh dan berhenti berharap. Aku sadar, masih ada tangan-tangan yang membantuku menyapa muara. Diambilnya sejumput demi sejumput sampah yang berserak. Ditanamnya pohon-pohon hijau untuk menguatkan tanggul-tanggulku. "Sahabatku hutan, ladang dan rawa-rawa. Jangan mematikan lilin harapan di hati kalian, karena jika lilin itu mati maka matilah semua kemungkinan kebaikan. Serulah nama Allah dalam dzikir-dzikir kalian. Mohonlah pada-Nya yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, agar dibukakan hati mereka, diringankan tangan mereka, dimudahkan usaha mereka menjaga dan melestarikan apa-apa yang telah ada."

Mulailah segala sesuatunya dari diri sendiri. Tumbuhkan rasa peduli terhadap sesama. Bukan, bukan untuk mencari nama di mata manusia. Tapi cukup di pandangan-Nya. Tak perlu pula mencari pujian sesama. Niatkan semua karena-Nya. Bukankah tugas kita menjaga semua pemberian-Nya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar