Hai, Tuan! Apa kabarmu? Kuharap kau di sana masih teguh menjaga imanmu. Juga hatimu. Tuan, maaf, lagi-lagi aku selalu menyematkanmu dalam setiap aksaraku. Maafkan aku yang secara lancang menggerakkan jari jemariku untuk menulis semua rasaku padamu. Tapi, Tuan, mengertilah. Ini salah satu caraku merindumu. Rindu yang selalu datang tanpa permisi. Hingga menjadi candu. Seperti kopi, bukan?
Ah, tentu, Tuan. Seperti kafein dalam setiap sesap kopi yang biasa kau nikmati. Bahkan pahitnya pun jelas kentara. Tapi, tenang saja, Tuan. Aku sudah terbiasa merasakannya. Bahkan saking biasanya aku juga hampir lupa bagaimana rasanya.
Tuan, sejujurnya aku tak tahu siapa dirimu. Tapi, aku yakin suatu saat nanti kita akan dipersatukan oleh-Nya. Dengan cara yang entah bagaimana.
Maaf, Tuan, jika aku terlalu lancang mengungkapkan setiap rasaku dalam torehan aksara. Dan maaf atas segala kelancanganku yang selalu mencarimu di antara sepi yang membekap.
Jakarta, 04 Januari 2016
Wayan Ayu Widiaratna
#30HariMenulisSuratCinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar