Dulu... Dulu sekali, aku masih ingat, Bu. Bahkan sangat melekat dalam ingatan. Di setiap tangisku engkau selalu menggendongku. Memeluk erat tubuhku. Lantas, kau ceritakan dongeng-dongeng untukku.
Dulu... Dulu sekali, aku masih ingat, Bu. Engkau selalu memberi apa yang aku butuhkan. Bahkan, yang aku pinta pun kau berikan. Meski nyatanya harus ada peluh yang menetes untuk menebus segalanya.
Dulu... Dulu sekali. Bahkan hingga saat ini. Engkau tak pernah melewatkan satu malampun untuk bersujud di sepertiga malam-Nya. Mendoakan anak-anakmu dengan ikhlas tanpa sedikitpun mengharapkan balasan.
Tapi, lagi dan lagi. Anakmu tak hentinya membuatmu kecewa. Membuatmu meneteskan rinai yang keluar dari matamu. Tapi bahkan, engkau tak sedikitpun lelah merawat juga menjagaku.
Engkau tahu, Bu? Saat ini aku merindukanmu. Bahkan rinduku sangat mrnggebu. Tapi, nyatanya kita terpisah dimensi ruang dan waktu. Lagi-lagi aku hanya mampu merapal rinduku lewat bait doa.
Bu, saat ini mungkin aku masih belum mampu membalas segala yang engkau berikan. Tapi, Bu, semoga kelak Allah memudahkan segalanya untuk membahagiakanmu. Semoga Allah menjagamu.
Jakarta, 03 Februari 2016
Wayan Ayu W.
#30HariMenulisSuratCinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar