Jumat, 22 Januari 2016

Adaku Karenamu

Hai, Sayang! Apa kabar hati juga imanmu hari ini? Aku harap segalanya dalam keadaan baik dan Allah selalu menjagamu, Sayang. Kamu tahu ternyata aku lumpuh tanpamu. Kakiku terasa berat untuk melangkah. Karena pada kenyataannya kamu yang membersamaiku, Sayang.

Sayang, percayalah, aku terpekur sendiri di sini. Bersama luka yang kubawa minggat darimu. Mencoba mengubur segala laraku. Dan lagi, mencoba bangkit dari sakit yang nyatanya aku buat sendiri.

Maaf, Sayang. Aku benar-benar tak mampu menjauh darimu. Aku tak sanggup jika pada kenyataannya harus pergi dan tak kembali ke sisimu. Karena bagiku kita ibarat sepasang sepatu yang selalu beriringan meski kadang tak sama.

Dan lagi, Sayang! Mungkin memang aku harus belajar dari sekeluarga landak yang bertahan hidup di musim dingin. Ketika mereka menjauh, mereka akan kedinginan dan mati. Namun, mereka saling mendekat, untuk bertahan hidup. Meski pada kenyataannya mereka terluka akibat duri saudara mereka. Tapi, mereka tetap bertahan. Hingga nanti musim semi menyambut mereka.

Kamu tahu, Sayang! Rasanya cerita itu benar-benar membuka mata hatiku yang lagi-lagi di tutup keegoisan. Kamu tahu, bahwa sebenarnya dirimulah yang membuatku ada. Kamu pulalah yang menghebatkanku. Dan kamu juga yang menggandeng ketika aku mulai terpincang. Kamu yang membuatku ada.

Teruntuk kamu yang selalu aku rindukan.
Dari aku yang terpekur sendiri tanpamu.

Jakarta, ketika Transjakarta melaju di antara himpitan kendaraan lain.
Jum'at, 22 Januari 2016 || 18:30
@wayan_ayoe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar