Selasa, 02 Februari 2016

Hujan

Hai, Hujan! Sepertinya akhir-akhir ini kau nampak bahagia, ya? Bagaimana tidak? sedangkan kau selalu meneteskan rinaimu yang pada akhirnya menciptakan kerinduan pada bau tanah basah.

Hujan, boleh aku bercerita? Sebentar saja. Tapi, tanpa kau setujui pun aku akan tetap bercerita.

Kamu tahu, Hujan. Sebelumnya aku sangat membencimu. Maaf, Hujan. Kamu tahu mengapa aku seperti itu, Hujan? Baiklah biar aku jelaskan padamu mengapa.

Karena kau selalu datang ketika aku patah, Hujan. Ya, patah yang sebenarnya aku ciptakan sendiri. Aku yang telah salah menggantungkan harap pada sesosok makhluk bernama manusia. Menyedihkan, bukan? Tapi, ternyata tidak sebegitu menyedihkan, Hujan. Karena kau selalu datang di saat yang tepat. Meluruhkan setiap rasa sakit juga perihku bersama rinaimu. Hingga berganti rasa tenang.

Hujan, aku percaya suatu saat nanti akan datang waktunya dimana aku merasakan rinaimu bersama sesosok lelaki meneduhkan sepertimu. Sembari duduk berdua dan menikmati kecap demi kecap kopi yang tersedia. Dia orang yang benar-benar dihadirkan oleh-Nya untukku. Dan aku percaya itu.

Jakarta, 02 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar