Senin, 04 Januari 2016

Tersenyumlah Dalam Luka

Malam ini di sudut ruangan ada yang bernyanyi, sebentar, bernyanyi? Sepertinya bukan. Ah ya, tentu bukan. Itu suara isak tangis yang menguarkan aroma perih hingga hatiku ikut ngilu mendengarnya. Suaranya lirih bahkan hampir tak terdengar, tapi jelas terasa pilunya di telinga. Kudekati dia, dan berkata padanya, "Sayang, usaplah air matamu. Hadapi kenyataan yang terjadi dengan senyuman. Juga sertakan Allah dalam setiap langkahmu."

Dia hanya tersenyum memandangku. Tapi, dari tatapannya aku melihat ada kepedihan yang tersembunyi. Dalam, bahkan sangat curam. Ada sakit yang coba disimpan sendiri, tanpa mau dia bagikan kepada orang yang disayangi. Ada getir yang coba ia lewati, meski sebenarnya langkahnya kian rapuh.

Lagi-lagi aku hanya mampu menatap nanar dirinya. Menghapus bulir air mata yang jatuh menderas, juga merebahkan kepalanya di pundakku. Karena aku tahu dia butuh bahu untuk menopang, tak hanya dirinya tapi juga sakitnya.

Dengan lirih kuucapkan padanya. "Sayang, kau akan baik-baik saja. Bukankah masalah hanya perantara sebuah kado terindah yang sedang disembunyikan-Nya? Bukankah kau punya Dzat Yang Maha Segalanya? Mengertilah, bahwa segalanya kan baik-baik saja. Jadikan ini sebagai ujian kesabaranmu. Dia tahu sebatas mana kemampuan hamba-Nya. Dan Dia tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya." Lantas, dia tersenyum kepadaku. Menatapku dengan hangat, juga mendekapku dengan erat.

Jakarta, 04 Januari 2016
Wayan Ayu Widiaratna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar