Hai, Sayangku! Apa kabarmu hari ini? Lama rasanya aku tak menyapamu. Bersenda gurau denganmu. Membahas ini itu denganmu. Dan, bercerita banyak hal padamu.
Sayang, maafkan aku. Maaf karena aku sering meninggalkanmu. Membiarkanmu terpaku sendiri tanpa sedetikpun aku temani.
Kamu tahu, Sayang? Aku sangat merindumu. Merindukan peluhku menetes karena mengejarmu. Merindukan tangisku menguar karena mengharapkanmu. Juga merindukanmu berkata, "Kuat, Sayang, karena kamu mampu." sembari mengulas senyum termanismu.
Ah, tentu saja aku sangat merindukan itu semua, Sayang. Hal terbodohku adalah ketika membiarkanmu terpaku di pojok ruang tanpa sedikitpun aku sentuh. Tanpa sedikitpun aku berusaha mengejarmu dan menggandeng tanganmu. Agar kita berjalan berdua. Beriringan, tanpa sedikitpun berniat meninggalkan.
Lantas, apa kamu pun merindukanku? Dan masihkah (mau) berjalan beriringan (lagi)?
Kepada tumpukan resolusi yang belum sepenuhnya dikerjakan.
Dari aku tumpukan rasa malas yang membekap.
Jakarta, 10 Februari 2016
Wayan Ayu W.
#30HariMenulisSuratCinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar